IDIOM DALAM BAHASA ARAB DAN PENERJEMAHANNYA oleh: Zakiyah Arifa & Syarifuddin Irfan


Abstrak: Idiom adalah kumpulan dua kata atau lebih yang menjadi satu kesatuan atau ungkapan yang tidak bisa difahami secara harfiyah karena mempunyai makna yang berbeda dari kata-kata yang membentuknya, sehingga harus difahami secara konteks dan diterjemahkan dengan mencarikan padanannya dalam bahasa sasaran. Idiom dalam bahasa Arab bisa berupa gabungan kata dengan preposisi, gabungan kata dengan kata, dan peribahasa/ungkapan. Penerjemahan idiomatik merupakan penerjemahan yang berorientasi pada bahasa sasaran dan cenderung mengubah nuansa makna melalui penggunaan ungkapan sehari-hari dan ungkapan idiomatik yang tidak terdapat dalam bahasa sumber.

Kata Kunci: Idiom, Bahasa Arab, Penerjemahan

Abstract: Idiom is a group consisted of two words or more or an expression can not be understood from internal meaning of the words of which it composed, it should be understood in context and translated by equivalence in target language. Idiom in Arabic can represent the word merged with preposition, word with word and expression. Idiomatic translation is one of the form of translation models more have potency language which aims to reproduce the message in text of source language, but often by using friendliness and idiomatic translation which is not discovered in its source language.

ملخص : التعبيرات هي مجموعة موحدة من كلمتين (أو أكثر) أو تعبيرات لا تفهم معانيها من المعاني المستقلة لكل كلمة فيها لأن لها معنى يختلف بها فتفهم سياقيا و ترجم بالتكافؤ المناسب في لغة الهدف. تكون التعبيرات من مجموعة من الكلمة و الحرف، و مجموعة من الكلمتين، و عبارة اصطلاحية. الترجمة التعبيرية هي الترجمة المائلة إلى لغة الهدف باستخدام عبارة مشهورة و عبارة اصطلاحية التى لا توجد فى لغة المصدر.

A. Pendahuluan

Penerjemahan merupakan penyalinan makna dari bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran. Penyalinan ini dilakukan dari bentuk bahasa pertama ke dalam bentuk bahasa kedua, melalui struktur semantis. Maknalah yang harus dialihkan dan dipertahankan, sedangkan bentuk boleh diubah. Bahasa asal terjemahan itu disebut bahasa sumber, sedangkan bahasa hasil terjemahan itu disebut bahasa sasaran.

Menerjemahkan berarti mempelajari leksikon, struktur gramatikal, situasi komunikasi dan konteks budaya dari teks bahasa sumber, menganalisis teks bahasa sumber untuk menemukan maknanya, mengungkapkan kembali makna yang sama itu dengan menggunakan leksikon dan struktur gramatikal yang sesuai dengan bahasa sasaran dan konteks budayanya. ( Mildred L. Larson, 1989: 3)

Ada sangkaan bahwa barang siapa yang tahu dua bahasa atau lebih, mampu menerjemahkan teks dengan baik. Anggapan itu belum tentu benar karena penerjemah yang mahir dan baik harus memenuhi syarat berikut:

  • Mengenal seluk beluk penggunaan bahasa sumber dari segi kosa katanya, tata bahasanya dan gaya bahasanya.
  • Menguasai bahasa sasaran sebagai bahasa keduarnya. Sekedar mengenal bahasa itu bukan jaminan.
  • Memahami subyek atau pokok bahasan yang akan diterjemahkan. (Mildred L. Larson, 1989 : xiii)

Untuk menjawab persoalan tersebut, kemampuan seorang penerjemah dituntut terus meningkat agar dapat memberikan hasil terjemahan yang baik, karena baik tidaknya hasil suatu terjemahan sangat ditentukan oleh kemampuan penerjemahnya.

Untuk penerjemahan dari bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia, tentunya diperlukan penguasaan bahasa Arab yang memadai dan mampu mencari padanan dalam bahasa Indonesia. Namun penguasaan bahasa saja tidaklah cukup, karena penerjemahan tidak hanya melibatkan penerjemah pada dua bahasa, tetapi juga pada latar belakang sosial budaya kedua bahasa tersebut. Oleh karena itu penerjemah dituntut pula menguasai pengetahuan umum dan pengetahuan khusus mengenai materi teks yang diterjemahkan.

Berangkat dari paparan di atas, tulisan tentang penerjemahan idiom ini akan mengetengahkan beberapa hal yang mencakup 1). Definisi idiom, 2). Penerjemahan idiom yang terdiri dari metode penerjemahan diagram V Newmark dan macam-macam idiom.

B. Definisi Idiom

Salah satu jenis ungkapan yang terdapat dalam semua bahasa, tetapi yang sangat khas untuk tiap bahasa adalah Idiom. Dalam bahasa Arab idiom bisa digunakan dengan تعبيرا صطلاحي(Atabik Ali & Ahmad Zuhdi Muhdlor. 1996:) atau عبارة اصطلاحية

Yaitu: عبارة ذات معنى لا يمكن أن يستمد من مجرد فهم معاني كلماتها منقصلة (Munir Ba’albaki. 2002: )

“Idiom adalah ungkapan yang mempunyai makna yang mana tidak mungkin difahami secara kata-perkata saja”.

Lebih luas lagi Beekmaan dan Callow (1974) dalam Larson menjelaskan idiom yaitu ungkapan untuk dua kata atau lebih yang tidak dapat dimengerti secara harfiah dan secara semantis berfungsi sebagai satu kesatuan. (Mildred L Larson, 1989: 120)

Longman mendefinisikan pengetian idiom adalah: “Group of word in a fixed order having a particular meaning different from the meanings of each word understood on its own”. “Idiom adalah kumpulan kata-kata yang memiliki makna khusus yang berbeda dengan makna tiap-tiap kata dalam pengertian kata itu sendiri.” (Longman. 1995:)

Pengertian ini senada dengan definisi Newmark (1981) dalam Shiniy, yaitu:

تعبيرات أو مجموعات من الكلمات التي لا نستطيع استنتاج معانيها من المعاني المستقلة لكل كلمة فيها

Idiom adalah ungkapan atau kumpulan kata yang tidak bisa kita fahami maknanya secara harfiah setiap katanya. (Muhammad Ismail Shiniy, 1985: )

Begitu juga Rachmadie memberikan definisi idiom:

“Is an expression which can not be understood from internal meanings of the words of which it composed. For this matter an idiom should be learned in context”. ”Idiom adalah suatu ungkapan yang tidak bisa difahami dengan makna harfiyah kata-kata yang menyusunnya. Dalam hal ini idiom bisa dilihat dari makna konteks.” (Sbrony Rachmadie, Dkk. 2001: 3.38)

Apabila definisi di atas dicermati lebih jauh, dapat disimpulkan bahwa: (1). Idiom bisa terdiri dua kata atau lebih yang menjadi satu kesatuan ataupun bisa berupa ungkapan, (2). Idiom tidak bisa diterjemahkan dan difahami secara harfiyah karena kata-kata tersebut mempunyai m,akan berbeda dari kata-kata yang menjadi bagiannya, (3). Idiom harus difahami dan diterjemahkan dengan melihat konteks dan melihat padanannya dalam bahasa sasaran.

C. Penerjemahan Idiom

1.Metode Penerjemahan Diagram V Newmark

Terjemahan dapat diklasifikasikan dalam berbagai jenis. Metode penerjemahanpun juga melihat aspek penerjemahan dari bahasa sumber ke bahasa sasaran. Metode penerjemahan yang memeberikan tekanan pada bahasa sumber ada 4 macam metode, dalam hal ini penerjemah berupaya mewujudkan kembali dengan setepat-tepatnya makna kontekstual penulis, meskipun dijumpai hambatan sintaksis dan semantik yakni hambatan bentuk dan makan. 4 macam metode tersebut (Nurul Murtadho. 1999: Hal: 65-70) beserta contohnya dalam bahasa Arab adalah:

a) Penerjemahan kata demi kata (Word For Word Translation)

Penerjemahan jenis ini dianggap paling dekat dengan bahasa sumber dan sifat interliner yakni kata-kata bahasa sasaran langsung diletakkan di bawah versi bahasa sumber. Urutan kata dalam teks bahasa sumber tetap dipertahankan, kata-kata diterjemahkan menurut makna dasarnya diluar konteks. Kata-kata yang bermuatan budaya diterjemahkan atau dipindahkan apa adanya. Terjemahan kata demi kata berguna untuk memahami mekanisme bahasa sumber atau untuk menafsirkan teks yang sulit sebagai proses awal penerjemahan.

Contoh: ذَهَبَ مُحَمَّدٌ إِلَى الْمَدْرَسَةِ أَمْسِ

Apabila kalimat tersebut diterjemahkan kata demi kata ke dalam bahasa Indonesia, maka hasilnya adalah Telah pergi Muhammad ke sekolah kemarin. Terjemahan ini terkesan kaku dan tidak sesuai dengan sistem kaidah yang berlaku dalam bahasa Indonesia.

b) Penerjemahan Harfiah (Literal Translation)

Dalam penerjemahan ini struktur gramatikal bahasa sumber dicarikan padanannya yang terdekat dalam bahasa sasaran, sedangkan kata-kata atau penerjemahan leksikalnya diterjemahkan di luar konteks. Dalam proses penerjemahan awal, jenis penerjemahan ini dapat membantu melihat masalah yang perlu diatasi.

Contoh: وَلاَ تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُوْلَةً إِِلَى عُنُقِكَ

Janganlah biarkan tanganmu terbelenggu pada lehermu. Membuat tangan terbelenggu pada leher berarti “kikir”

 

c) Penerjemahan setia (Faithful Translation)

Metode ini sedikit lebih bebas disbanding penerjemahan harfiah, karena penerjemahan ini mencoba menghasilkan kembali makna kontekstual walaupun masih terikat oleh struktur gramatikal bahasa sumber, karena ada upaya untuk benar-benar setia pada maksud dan tujuan bahasa sumber, sehingga masih terkesan kaku.

Contoh: هُوَ كَثِيْرُ الرَّمَادِ

Jika diterjemahkan dengan penerjemahan setia, maka hasil terjemahannya adalah Ia adalah seorang yang dermawan karena banyak abunya. Dari terjemahan ini terlihat bahwa penerjemah berupaya untuk tetap setia pada bahasa sumber, meskipun sudah terlihat ada upaya untuk mereproduksi makna kontekstual. Kesetiaan tersebut tampak pada adanya upaya untuk tetap mempertahankan ungkapan metaforis yang tersurat dalam teks aslinya.

d) Penerjemahan Semantik (Semantic Translation)

Berbeda dengan penerjemahan setia, penerjemahan semantik lebih memperhitungkan unsur estetika teks bahasa sumber, dan kreaktif dalam batas kewajiban. Selain itu penerjemahan setia sifatnya masih terikat dengan bahasa sumber, sedangkan penerjemahan semantik lebih luwes dan fleksibel.

Contoh: هُوَ كّثِيْرُ الرَّمَادِ

Apabila diterjemahkan secara semantik maka hasil terjemahannya adalah: Dia seorang yang dermawan.

Sedangkan metode penerjemahan yang lebih berorientasi pada bahasa sasaran juga ada 4 macam. Dalam hal ini penerjemah berupaya menghasilkan dampak yang relatif sama dengan yang diharapkan oleh penulis asli terhadap pembaca versi bahasa sasaran.

a) Saduran (Adaptation)

Metode ini merupakan bentuk penerjemahan paling bebas dan paling dekat ke bahasa sasaran. Pada umumnya jenis ini dipakai dalam penerjemahan drama atau puisi dimana tema, karakter dan alur biasanya dipertahankan, tetapi dalam penerjemahannya terjadi peralihan budaya bahasa sumber ke budaya bahasa sasaran dan teks aslinya ditulis kembali serta diadaptasikan ke dalam bahasa sasaran.

Contoh:Mumpung pandangan sembulane, Mumpung jembar kalangane

Penerjemahan tersebut di atas, dapat diadaptasikan ke dalam bahasa Arab sebagai berikut: حِيْنَمَا أَنَارَنَا بَدْرُنَا

 

b) Penerjemahan Bebas (Free Translation)

Metode ini bertujuan mereproduksi isi pesan bahasa sumber, tetapi sering dengan menggunakan kesan keakraban dan ungkapan idiomatik yang tidak didapati pada versi aslinya. Dengan demikian ada penyimpangan nuansa makna karena mengutamakan kosa kata sehari-hari dan idiom yang tidak ada di dalam bahasa sumber tetapi bisa dipakai dalam bahasa sasaran.

Contoh: الوَجْهُ الْجَدِيْدُ عَاصِمَةُ أَلْماَنيَا

Terjemahnya: Pembaruan wilayah pemerintahan ibu kota baru (lama) Jerman-Berlin.)

c) Penerjemahan Idiomatik (Idiomatic Translation)

Metode ini bertujuan mereproduksi ssi pesan bahasa sumber, tetapi sering dengan menggunakan kesan keakraban dan ungkapan idiomatik yang tidak didapati pada versi aslinya. Dengan demikian ada penyimpangan nuansa makna karena mengutamakan kosa kata sehari-hari dan idiom yang tidak ada di dalam bahasa sumber tetapi bisa dipakai dalam bahasa sasaran.

Contoh: اليَدُ العُلْيَا خَيْرٌ مِن اليَدِ السُّفْلَى

Terjemahannya bisa: Memberi lebih baik dari pada menerima.

Beberapa pakar kaliber dunia seperti Seleskovits menyukai metode ini karena terjemah metode ini dianggap hidup dan alami.

Contoh : ُالمَالُ الحَرَامُ لاَ يَدُوْم

Harta haram tak akan bertahan lama

d) Penerjemahan Komunikatif (Communivative Translation)

Metode ini berusaha mereproduksi makna kontekstual yang sedemikian rupa, sehingga baik aspek kebahasaan maupun aspek isinya langsung dapat dimengerti oleh pembaca. Metode ini memperhatikan prinsip-prinsip komunikasi, yaitu khalayak pembaca dan tujuan penerjemahan. Dengan demikian, suatu versi bahasa sumber dapat diterjemahkan menjadi beberapa versi bahasa sasaran sesuai dengan prinsip-prinsip di atas.

Contoh: اَلْحَيُّّ الْمَنَوِي

Diterjemahkan: “Spermatozoon” untuk para ahli biomedik, tetapi untuk khalayak pembaca yang lebih umum diterjemahkan dengan “Air Mani”.

2. Macam-macam Idiom

Penerjemahan idiomatik merupakan salah satu tipe atau metode penerjemahan yang memproduksi pesan dari bahasa sumber, tetapi penerjemahan ini cenderung mengubah nuansa makna melalui ungkapan sehari-hari dan ungkapan idiomatik yang tidak terdapat dalam bahasa sumber. Dalam hal ini Selecovits sangat menyukai penerjemahan ini karena terjemahan ini dianggapnya hidup dan alami (dalam arti akrab). (Nurul Murtadho. 1999: Hal: 69)

Penerjemahan idiom tidak bisa langsung diterjemahkan secara harfiah kata demi kata, karena gabungan kata-kata tersebut mempunyai makna yang berbeda dari kata-kata bila berdiri sendiri. Jadi harus dicarikan makna yang dimaksud dengan melihat konteks dan budaya juga berperan dalam penggunaan idiom ini. Karena ungkapan setiap bahasa bisa jadi berbeda dengan bahasa yang lain terkait dengan sosio-kultural yang berkembang pada pengguna bahasa tersebut. Sehingga harus difahami terlebih dahulu maksud dan tujuan penuturan bahasa sumber, untuk kemudian dicarikan padanannya dalam bahasa sasaran.

Sedangkan macam-macam idiom berdasarkan konstruksi yang membentuknya menurut Kridalaksana dalam Imamuddin (2001) bisa berupa:

a. Konstruksi dari unsur-unsur yang saling memilih masing-masing anggota mempunyai makna yang ada hanya karena bersama yang lain. Pengertian ini mengacu pada gabungan kata dengan preposisi seperti kata: أَخَذَ yang bermakna mengambil, ketika kata ini bergabung dengan preposisi بـ yang bermakna dengan dan menjadi أَخَذَبـِ bukan bermakna “mengambil dengan” tetapi bermakna “melakukan”. Di sini harus dilihat bahwa tidak bisa langsung diterjemahkan satu persatu kemudian makna kata tersebut digabungkan, tetapi gabungan kata dengan preposisi tersebut menjadi satu kesatuan yang bermakna lain dari makna kata jika berdiri sendiri, karena ketika digabungkan akan mempunyai makna yang baru.

Contoh:

No

 

 

Kata

 

 

Preposisi

 

 

Gabungan kata

 

dan preposisi

 

 

Makna

 

1

 

 

Berdiri: قام

 

 

Dengan: بـ

 

قام بـ

 

 

Melakukan

 

2

 

 

Mendengkur (Merpati): سجح

 

 

Dengan: بـ

 

 

: سجح بـ

 

 

Mengesankan

 

3

 

 

 

Menangkis: شذب

 

 

Dari/Tentang: عن

 

شذب عن

 

 

Membela atau mempertahankan

 

4

 

 

Mengetahui: عرف

 

 

 

Di atas: على

 

 

عرف على

 

 

Mengatur

 

5

 

 

Mati: فاد

 

 

 

Dengan: بـ

 

 

فادبـ

 

 

Mencampur

 

b. Kontruksi yang maknanya tidak sama dengan gabungan makna anggota-anggotanya. Pengertian ini mengacu pada gabungan kata dengan kata lain seperti kata ثَقِيْلٌ yang bermakna “berat” ketika bergabung dengan الدم yang bermakna “darah” lalu menjadi ثَقِيْلُ الدَّم, bukan berarti bermakna “berat darahnya” tetapi bermakna “tidak disukai orangnya”.

 

Contoh:

 

No

 

 

Kata 1

 

 

Kata 2

 

 

Gabungan kata

 

1 dan 2

 

 

Makna

 

1

 

 

Panjang: طَوِيْلٌ

 

 

Hati: البال

 

طويل البار

 

 

Penyabar

 

2

 

 

Panjang: طَوِيْلٌ

 

 

Lidah: اللسان

 

 

طويل اللسان

 

 

Yang lancang/Kurang Ajar

 

3

 

 

 

Tuan: سَيِّدُ

 

 

Hari: الايام

 

سيد الايام

 

 

Hari Jum’at

 

4

 

 

Ibu: أم

 

 

 

Buku: الكتاب

 

 

أم الكتاب

 

 

Surat Al-Fatihah

 

c. Ungkapan yang bisa diterjemahkan dengan penerjemahan para frase atau pengungkapan bebas mutlak dapat juga digunakan ungkapan bahasa sasaran yang selaras. (Midred L Larson, 1989: 121) Seperti menterjemahkan peribahasa (tamsil) metafora, bahasa adat atau yang lainnya. Dengan demikian penerjemahan peribahasa atau ungkapan tak perlu diterjemahkan secara harfiah, karena mungkin ungkapan tersebut tidak lazim pada bahasa sasaran, tetapi bisa dicarikan padanannya dalam bahasa sasaran atau cukup maksudnya saja. Misalnya: العَيْن بَصِيرَة واليَد قَصِيرَة terjemahan harfiah: “Mata melihat sedangkan tangan pendek”. Dapat disepadankan dengan “maksud hati memeluk gunung apa daya tangan tak sampai. ” Penerjemahan ungkapan ini harus juga diselaraskan dengan ungkapan yang lazim digunakan dalam bahasa sasaran. Contoh lain: لاَتُصَعِّر خَدّكَ لِلنَّاس terjemahan harfiah: “Janganlah kamu palingkan pipimu dari manusia”. Ungkapan “memalingkan pipi” dalam bahasa Indonesia tidak lazim, maka ungkapan yang biasa dipakai adalah “memalingkan muka”.

 

Contoh:

 

No

 

 

Padanan dalam bahasa Indonesia

 

Idiom dalam bahasa Arab

 

1

 

 

Penyesalan akhir tiada guna

 

لاَجُرْمَ بَعْدَ النَّدَامَةِ

 

2

 

 

Diam itu emas

 

 

الصُّمْتُ حَكِمَةٌ

 

3

 

 

Rajin pangkal pandai malas pangkal bodoh

 

 

اجْهَد وَلاَ تَكْسَل وَلا َتَكُ غَافِلا فَنَدَامَة العُقْبىَ لِمَن يَتَكَاسَل

 

4

 

 

Cinta itu buta

 

 

لَيْسَ فِي الحُبِّ مَشُوْرَةٌ

 

5

 

 

Tak ada gading yang tak retak

 

 

لِكُلِّ حَسَن عَائِب

 

مَنْ طَلَبَ أَخًا بِلاَ عَيْبٍ بَقِيَ بِلاَ أخٍ

 

Idiom bisa ditemukan dalam berbagai kamus, gabungan kata dan preposisi dan gabungan kata dengan kata dapat ditemukan di kamus Al-Ashry, Al-Munjid, Al-Munawwir, Al-Mawrid, dan lain-lain. Sedangkan idiom yang berupa ungkapan atau peribahasa dapat ditemukan di Al-Munjid. Adapun padanannya dalam bahasa Indonesia dapat dicari sendiri.

 

Sedangkan Idiom dalam bahasa Arab dan padanannya dalam bahasa Indonesia bisa didapati dalam kamus Al-Qomus Al-Araby As-Siyaqy yang disusun oleh Basuni Imamuddin dan Kamus Idiom Arab – Indonesia Pola Aktif yang juga disusun oleh Basuni Imamuddin dan Ishaq N.

 

D. Penutup

 

Dari paparan di atas dapat diperoleh suatu pemahaman bahwa idiom adalah kumpulan dua kata atau lebih yang menjadi satu kesatuan atau ungkapan yang tidak bisa difahami secara harfiyah karena mempunyai makna yang berbeda dari kata-kata yang membentuknya. Sehingga harus difahami secara konteks dan diterjemahkan dengan mencarikan padanannya dalam bahasa sasaran. Idiom bisa berupa: 1). Gabungan kata dengan preposisi. 2). Gabungan kata dengan kata. 3). Peribahasa / ungkapan.

 

Penerjemahan idiomatik merupakan salah satu dari empat metode penerjemahan yang lebih berorientasi pada bahasa sasaran. Penerjemahan ini cenderung mengubah nuansa makna melalui penggunaan ungkapan sehari-hari dan ungkapan idiomatik yang tidak terdapat dalam bahasa sumber.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ali, Atabik & Ahmad Zuhdi Muhdlor. 1996. Kamus Al-Ashr. Yogyakarta. Yayasan Ali Maksum.

 

Ba’albaki, Munir. 2002. AL-Mawrid. Bairut. Dar El-Ilm Lil-Malayin.

 

Larson, Mildred L. 1989, (Terjemah) Penerjemahan Berdasarkan Makna, Jakarta. Arcan.

 

Longman. 1995. Dictionary Of The English Language. London. Brest Britain.

 

Imamuddin, Basuni. 2001. Al-Qomus al Araby Assiyaqiy. Jakarta : Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

 

Imamuddin, B. & Ishaq N 2003. Kamus Idiom Arab Indonesia Pola Aktif. Depok. Ulinnuha Press.

 

Ma’luf, Louis. 1986. Al-Munjid Fil Lughah Wal A’lam. Bairut. Dar El-Masriq

 

Murtadho, Nurul. 1999. Metafora Dalam Al-Qur’an dan Penerjemahannya Dalam Bahasa Indonesia. Desertasi. Tidak Diterbitkan. PPS Universitas Indonesia.

 

Rachmadie, Sabrony Dkk. 2001. Translation. Jakarta. Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.

 

Shiniy, Muhammad Ismail. 1985. Dalilul Mutarjim. Riyadh. Dar El-ulum

 

Zakiyah Arifa : Dosen jurusan Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Humaniora dan Budaya UIN Malang

 

Syarifuddin Irfan : Dosen jurusan Pendidikan Bahasa Arab Universitas Yudharta Pasuruan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s