PENDEKATAN ANTROPOLOGI


Antropologi adalah suatu cabang dari bentuk besar ilmu pengetahuan, antropologi merupakan suatu ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dan tata cara kehidupan serta proses perjalanan manusia itu sendiri. Antropologi sendiri tidak hanya berbicara tentang hal yang berkaitan dengan “budaya”, antropologi juga berbicara mengenai topik fisik manusia, sebagaimana dijelaskan dalam antropologi.
Antropologi juga berbicara mengenai topik fisik manusia, sebagaimana dijelaskan dalam antropologi ragawi. Dalam dunia akademis antropologi dikenal metode penelitian observasi partisipasi, yang apabila disederhanakan akan menjadi dua buah kalimat, yaitu observasi yang berasal dari kata observer yang berarti pengamatan secara tekun sedangkan partisipasi berarti sebagai suatu proses usaha ikut serta atau mengikutkan diri dalam suatu kegiatan, dari dua telaah linguis yang disebutkan tersebut dapat dikatakan bahwa metode observasi partisipasi adalah metode yang menekankan bagi diri peneliti untuk melakukan pengamatan secara tekun dimana peneliti melibatkan atau meleburkan diri pada permasalahan penelitian yang dilakukan. Metode observasi partisipasi merupakan hal mutlak yang harus dilakukan oleh seorang antropolog dalam melakukan kegiatan etnografi ragawi.
Dalam dunia akademis antropologi dikenal metode penelitian observasi partisipasi, yang apabila disederhanakan akan menjadi dua buah kalimat, yaitu observasi yang berasal dari kata observer yang berarti pengamatan secara tekun sedangkan partisipasi berarti sebagai suatu proses usaha ikut serta atau mengikutkan diri dalam suatu kegiatan, dari dua telaah linguis yang disebutkan tersebut dapat dikatakan bahwa metode observasi partisipasi adalah metode yang menekankan bagi diri peneliti untuk melakukan pengamatan secara tekun dimana peneliti melibatkan atau meleburkan diri pada permasalahan penelitian yang dilakukan.
Metode observasi partisipasi merupakan hal mutlak yang harus dilakukan oleh seorang antropolog dalam melakukan kegiatan etnografiAntropologi adalah satu disiplin ilmu dari cabang ilmu pengetahuan social yang memusatkan kaian pada manusia. Antropologi dapat dilacak pada era penjajahan pada abad- abd yang lalu yang dilkukan terhadp bangsa asia, afrila, amerika latin, dan suku- suku Indian oleh para penjajah bersama dengan penyebaran agama nasrani di luar eropa. Oleh karena itu, tokoh- tokoh ahli di antropologi pada awal periode berasal dari bangsa barat, meskipun hingga sekarang banyak sarjana barat yang berkecimpung di antropologi.semula mereka tertarik terhadap laporang negera- Negara asung yang mereka jajah, karena mereka memperoleh informasi yang menurutnya aneh- aneh.

Menurut Koentjoroningrat, respon orang barat menimbulkan pandangan dan sikap tertentu dikalangangan mereka yakni:
1. bangsa terjajah itu mereka anggap bukan manusia.
2. bangsa terjajah dianggap sebagai contoh masyarakat yang masih murni.
3. mendorong mereka untuk lebih mempelajari benda-benda keb. Dari bangsa yang tidak dimiliki oleh penjajah.

PEMAHAMAN TENTANG MANUSIA

Manusia dalah mahkluk berakal yang berbeda dengan mahkluk lainnya. Plato menyatakan bahwa, akal bagi manusia mengarahkan budi pekerti ia abadi dalam wataknya yang esensial, sementara menurut Aristoteles, akal adalah kekuatan tertinggi dari jiwa. Manusia yang ideal dalah orang yang bijaksana, dan dapat mengekang emosinya serta mampu negatur dunia dengan menguasai diri.
Pada abad 19 setelah melalui zaman renaissance saat filsafat telah terurai menjadao disiplin ilmu pengetahuan, pemahaman tentang tentang manusia menjdai wacana ilmu pengetahuan dengan pandangan yang ilmiah baik dari prespektif ilmu alam maupun dari prespektif ilmu social. Ahli ilmu pengetahuan alam dari inggris Carles R Darwin dengan temuan teorinya tentang evolusi organic ternyata memberi pengaruh yang luas dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan yang lain.
Sigmund Freud memahami manusia dengan pendirianya tentang energi kehidupan manusia yang terangkum dalam struktur kepribadian yang terdiri dari 3 bagian, yaitu :
1. “id” yakni lapisan dibawah sadar yang mendalam dari naluri dan dorongan hati serta hasrat.
2. Disebut Ego, yakni unsure kepribadian yang dapat berfikir dan dapat mengontrol kegiatan.
3. Super Ego yaitu, internalisasi kebutuhan – kebutuhan masyarakat yang disebut conscience.

John B Watson pendiri aliran psikologi aliran behaviour tidak puas dengan faham psikoanalisa yang tidak berdasar pada penelitian laboratorium. Seharusnya pemahaman penyelidikan tentang menusia terbatas pada hal- hal yang dapat diobservasi secara objective.dan bersama kawan- kawannya KS Lashley, Clark L. Hull dan EC Tolman, Watson berpendirian bahwa manusia itu sama.
Prof. skinner ahli psikologi behaviourisme berpendapat bahwa pendorong (motiv) ide dan perasaan bukan merupakan kejadian yang dapat di observasi secara objective.

OBJEK KAJIAN ANTROPOLOGI
Secara garis besar antropologi dibagi menjadi dua bidang yakni antropologi fisik dan antropologi budaya, budaya dibagi menjadai tiga cabang yakni arkeologi, linguistik, etnologi.
Definisi pertama yang dibuat oleh Sir Edward Taylor kebudayaan, adalah komplek keseluruhan yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, hokum, ,moral, kebiasaan dan lain- lain, kecakapan dan kebiasan manusia yang diperoleh dalam bermasyarakat. Dalam definisinya tersebut jelas bahwasanya kebudayaan itu bersifat abstrak, tidak kongrit, sehingga memiliki daya keluwesan dalam menganalisis gejala- gejala yang bersifat kongrit karena tidak harus terikat dan menyatu dengan gejala- gejala dan kebudayaan itu diperoleh bukan diwarisi namun pembawaan dari lahir.
Ralp Linton antropologi amerika serikat menulis batasan kebudayaan pada tahun 1936 yang sangat pendek, kebudayaan menurutnya dalah warisan social yang dilalui secara training.
Ahli antropologi Indonesia Parsudi Suparlan menyatakan kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai mehkluk social yang digunakan untuk mengintrekasikan dan memahami lingkungan yang dihadapi dan untuk menciptakan serta mendorong terwujudnya kelakuan.
Dari semua definisi diata dapat diambil kesimpulan bahwa kebudayaan itu bias berkembang tetapi jiga bias berkurang, karena dalam rangka penggunaan pengetahuan untuk menciptakan dan mendorong terwujudnya kelakua atau perilaku itu, mela;ui proses seleksi dari sejumlah model pengetahuan.

Kebudayaan Dan Agama

Linton berpendapat bahwa antara manusia dan hewan itu memiliki kesamaan dikarenakan kedua memiliki mental power yang hanya dibedakan secara kualitas tetapi ada hal- hal lain yang perlu dapat perhatian yang sama atas kelebihan manusia.
Para ahli antropologi menanggapi agama dan magi sebagai bagian dari kebudayaan keduanya memilki kesamaan dalam praktik upacara, tetapi berbeda dalam maksud dan penghayatannya, ritual (upacara) adalah rasional dari mitos yang berkaitan dengan super natural (yang ghoib) beda agama dan magi adalah agama adala sikap penghambaan dan penyerahan diri pada yang gaib yang diucapkan dengan doa sedangka magi merupakan sikapa tindakan untuk menggerakkan (memanipulasi kekuatan supeernaturan bagi kep. Pelaku upacara) keduanya merupakan fenomena kehidupan social maka ahli antropologi telah sejak lama megerahkan perhatiannya untuk mengkaji praktik agama maupun magi.

Wallace meneliti praktik keagamaan dengan membuat batasan agama merupakan seperangkat upacara yang diberi rasionalisasi mitos dan untuk menggerakkan kekuatan supranatural. Batasan konsep Wallace diats sangat jelas bahwa praktik keagamaan seperti itu lebih menunjuk kepada praktik magi. Dikarenakan tidak menggunakan konsep penyerahan dan penghambaan diri. Padahal fungsi agama tidak hanya untuk mengurangi kegelisahan yang disebabkan oleh lemahnya diri mengendalikan kekuasaan dan kekuasaan dil;uar dirinya.
Peneliti lain yang juga memusatkan perhatiannya keupacaraan adalah Emil Durkeim yang tidak meneliti langsung praktek keagamaan suku Aronto di Australi tengah dalam laporan etnografis tersebut Durkeim tertarik pada masyarakat yang masih sangat sederhana yang justru sifat-sifat religi yang paling esensial ditemukan, dari sana Durkeim menarik kesim,pulan bahwa keagamaan itu justru timbul dari kebutuhan praktek dalam kehidupan social bukan dari kebutuhan intelektual untuk mengerti dunia sekitar. Dari analisisnya tersebut Durkeim membuat definisi agama sebagai berikut “suatu agam,a adalah kesatuan system keyakinan dan praktek-praktek yang berhubungan dengan suatu yang sacred, yakni segala sesuatu yang terasingkan dan terlarang, keyakinan-keyakinan dari praktek-praktek yang menyatu dalam komunitas moral yang disebut gereja (umat) dimana senua orang tunduk kepadanya.
Meneliti praktek-praktek keagamaan yang melibatkan masyarakat sebagai suatu totalitas dengan memahami konteksnya yang dijelaskan dengan melihat fungsinya bagi masyaralkat yang bersangkitan, dapat dianggap paham fungsional, yang merupakan modal pendekatan teori tersendiri dalam penelitian antropologi. Implementasi pendekatan interpretasi sebagai model penelitian agama ditunjukkan oleh C. Geertz. Para antropolog pada generasi baru umumnya membatasi arti kebudayaan sebagaimana Geertz sebagai system pengetahuan dan gagasan yang dimiliki manusia dan mempunyai fungsi sebagai pengarah atau pedoman bagi manusia sebagai anggota suatu kesatuan social dalam bersikap dan bertingkah laku.
Untuk memahami studi interpretasi Geertz terhadap agama dengan definisi agama tersebut, dapatb diuraikan sebagai berikut;
a) Agama ditanggapi sebagai suatu symbol.
b) System budaya juga mengandung konsep-konsep tentang tatanan umum bagi pemeluk agama dalam suatu komunitas agama tertentu.
c) Simbolik agama ditujukan untuk mewarnai realitas dengan”suatu aura faktualitas”.
Dengan demikian kedudukan agama sebagai kebudayaan. Interpretasi terhadap ajaran agama menghasilkan sikap dan tingkah laku para pemeluk agama yang berbeda-beda.

Sasaran Penelitian Antropologi Terhadap Agama

Penelitian agama dengan pendekatan antropologi sesungguhnya bekisar antara models of reality dan model for reality. Prof harun nasution menyatakan bahwa agama mengandung dua kelompok. Kelompok pertama menyatakan bahwa agama berupa wahyu dari tuhan, kelompok lain berupa penjelasan dari [pemuka agama, kelompok pertama bersifat absolute sedangkan kelompok kedua bersifat nisbi, jadi sama dengan models of bersifat absolut dan model for bersifat nisbi.sebagai sistem budaya agama agama merupakan system simbolik yang menawarkan suatu cara untuk memahami realitas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s