Nasr Hamid Abu Zaid


A. PENDAHULUAN
Setiap agama-agama yang ada di dunia, baik itu monoteis maupun politeis, atau agama samawi dan ardhi, tentu mempunyai sejarahnya sendiri-sendiri
dalam menapaki perjalanan panjang menyebarkan ajaran agama kepada umat di dunia begitu juga dengan Islam, sebagai agama monoteis yang terakhir dan dipercaya umatnya sebagai agama rahmatan lil a’lamiin, telah terjalin
dengan suatu konstruksi kebudayaan dan pemikiran di setiap zaman yang
telah dilaluinya. Di mana dalam setiap zamannya telah melahirkan
berbagai macam aliran pemikiran yang terkesan secara selintas
mereduksi makna Islam itu sendiri. Pemikiran yang telah mewarnai
segala macam ranah islami dalam setiap konteksnya. Tentunya mempunyai
implikasi yang besar bagi perilaku kehidupan dan pola pikir umatnya.
Tentu kita sudah mengetahui secara mendalam bagaimana zaman pembaharuan Islam dimulai . Atau masa-masa pembaharuan Islam, yang pengaruhnya tidak hanya berlaku dan menjadi mainstream dalam suatu wilayah di dunia Islam secara lokal. Akan tetapi, ia pun berlaku hingga ke luar wilayah baik di dunia Islam maupun di luar dunia Islam, di mana terdapat suatu arus pemikiran yang
telah berkembang. Memang dalam Islam, khususnya dalam teks-teks kitab suci al Quran dan tentunya as-Sunnah, terdapat berbagai jenis interpretasi. Ada teks-teks yang tidak dapat ditafsirkan secara mutlak kontekstual. Akan tetapi, juga ada yang
dapat ditafsirkan secara kontekstual, namun ayat-ayat itu hanyalah
ayat-ayat yang bersifat muamalah sebab ayat-ayat yang bersifat ubudiyah
harus diambil apa adanya. Salah satu tokoh yang mengadakan pembaharuan pemikiran tentang tekstualitas al-Qur’an adalah Nasr Hamid Abu Zaid, namanya langsung mencuat setelah pemikirannya tentang teks al-Qur’an, yang dimana pemikirannya tersebut dianggap menyimpang dari Islam (murtad).

B. PEMBAHASAN

1. Biografi Singkat dan Latar Belakang Akademik Nasr Hamid Abu Zaid
Nasr Hamid Abu Zaid lahir di desa Qafaha dekat kota Thanta, Mesir pada tanggal 10 Juli 1943, ia tumbuh dan berkembang ditengah keluarga yang agamis. Sejak usia 4 tahun, ia sudah mulai belajar dan menulis Al-Qur’an. Ia berhasil menghafal Al-Qur’an pada usia 8 tahun. Pada tahun 1954 ia telah menjadi anggota resmi gerakan ikhwanul muslimin yang pada masa itu telah memiliki posisi yang kuat dan menyebar hampir diseluruh wilayah di Mesir pada saat usianya baru 11 tahun. Abu Zaid sangat terkesan dengan pemikiran Sayyid Qutub dalam al-Islam wa al-Adalah al-Ijtima’iyyah, khususnya pada penekanan pendekatan keadilan manusia dalam menafsirkan al-Qur’an.
Riwayat pendidikannya mulai terbaca sejak menjadi pelajar di Sekolah Teknik Thanta yang diselesaikan pada tahun 1960. Delapan tahun kemudian, yakni pada tahun 1968 sambil bekerja sebagai teknisi dibidang elektronik pada organisasi Komunikasi Nasional Kairo, Ia masuk Fakultas Sastra Jurusan Bahasa dan Sastra Arab Universitas Kairo dan lulus dengan nilai caumlade pada tahun 1972, kemudian ia diterima sebagai Asisten Dosen di kampus yang sama. Karena tuntutan fakultas yang mengutamakan pengembangan studi-studi keislaman untuk strata dua dan tiga, dia mengalihkan dari studinya dari kebahasaan murni kepada kritik wacana terhadap studi-studi keislaman khususnya studi al-Qur’an .
Sebenarnya Abu Zaid tidak terlalu tertarik untuk menelaah bidang itu, berdasarkan pengalaman Muhammad Ahmad Khalafullah yang terjebak kedalam permasalahan yang serius karena penggunaan pendekatan kritik wacana dalam studi al-Qur’an (disertasi). Tetapi dia memutuskan mempelajari al-Qur’an dan permasalahan interpretasi dan hermeneutika. Lima tahun kemudian ia berhasil menyelesaikan gelar magisternya dengan predikat cumlaude. Sedangkan gelar Ph. D dalam studi keislaman dan bahasa Arab di fakultas yang sama dengan predikat cumlaude didapat pada tahun 1981 dengan judul disertasi: The Philosophy of Interpretation : A Study of Ibn Araby’s Hermeneutics of Al-Qur’an. Pada tahun 1982, dia mendapatkan hadiah Abdul Aziz al-Ahwani Prize karena humanisme dan perhatiannya yang besar kepada humanitas dan budaya Arab. Nasr Hamid Abu Zaid juga memiliki aktivitas mengajar bahasa arab untuk orang asing di pusat diplomat dan menteri pendidikan. Beberapa prestasi yang pernah dicapainya adalah:
a. Meraih beasiswa dari Ford Foundation untuk belajar di Universitas Amerika, tahun 1975-1977.
b. Meraih beasiswa yang sama untuk studi pada Center For Middle East Studies Universitas Pennsylvania-Phildelpia, USA tahun 1978, karena ia menguasai bahasa inggris lisan maupun tulisan.
c. Mendapat penghargaan Abdul Aziz Al-Ahwani Prize For Humanities pada tahun 1982.
d. Menjadi Profesor tamu di Universitas Osaka bagian Foreign Studies, Jepang selama 4 tahun (Maret 1985-Juli 1989). Dalam periode ini Abu Zaid sangat produktif. Dia menulis Mafhum an-Nas : Dirasa fi al-Ulum al-Qur’an dan artikel-artikel lainnya yang sebagian dipublikasikan dalam karyanya Naqd al-Kitab ad-Dini. Buku yang dipublikasikan setelah kembali dari Jepang ini sangat controversial. Dalam buku ini, dia melancarkan kritik terhadap interpretasi ideologis teks-teks keislaman oleh para Islamist dan Liberalis Mesir.
e. Memperoleh pengakuan sebagai Profesor penuh di bidang studi Islam pada tahun 1995.
f. Menjadi Profesor tamu di Leiden, Netherlands, dari tahun 1995-1998.
Pada bulan April 1992, Abu Zaid (49 tahun) menikahi Dr. Ibtihal Ahmad Kamal Yunis, seorang professor dalam bahasa Perancis dan wacana perbandingan di Universitas Kairo. Ini sekaligus menjadi awal tragedi pribadinya. Kontroversi Nasr Hamid dimulai ketika ia mengajukan karya ilmiah untuk memperoleh gelar guru besar pada tahun 1992. Karyanya terdiri dari dua buku dan sebelas artikel yang dihasilkan selama 5 tahun terakhir untuk diuji oleh sidang senat. Dua buku tersebut adalah: Naqd Al-Khitab Al-Dini dan Al-Imam Al-Syafi’I Al-Aidyulujiyyah Al-Wasathiyah. Meskipun dua anggota komite setuju terhadap karya-karya Abu Zaid, tetapi sidang lebih menyetujui pendapat Dr. Abd As-Sabur Shahin.
Menurut Dr. Abd As-Sabur Shahin pengajuan promosi guru besar Abu Zaid ditolak karena karya-karyanya dinilai kurang bermutu bahkan menyimpang dan merusak karena isinya melecehkan ajaran Islam, menghina Rasulullah SAW, meremehkan Al-Qur’an dan menghina para ulama salaf.
Dari sinilah klaim dan tuduhan kekafiran dan kemurtadan atas diri Nasr Hamid berawal. Sehingga memicu pemecatan dirinya dari jabatan akademiknya, dipaksa bercerai dengan istrinya dan diminta untuk segara bertaubat, akan tetapi tidak lama kemudian setelah peristiwa tersebut, 23 Juli 1995, bersama istrinya, Abu Zaid terbang melarikan diri ke Madrid, Spanyol, sebelum akhirnya menetap di Leiden, Belanda, sejak 2 Oktober 1995 sampai sekarang. Mahkamah Agung Mesir pada 5 Agustus 1996 mengeluarkan keputusan yang sama: Abu Zaid dinyatakan murtad dan perkawinannya dibatalkan. Diantara beberapa karya tulis ilmiah Abu Zaid diantaranya adalah :
• Al-Ittijahad Al-Aql Fi Tafsir: Dirasat Qadiyat Al-Majaz Ind Al-Ma’tazilat (Rasionalisme dalam Tafsir: Studi Konsep Metafor menurut Mu’tazilah), Beirut 1982.
• Al-Nas, Al-Sultat, Al-Haqiqat: Al-Fikr Al-Dini Bayn Iradat Al-Haymanat.
• Al-Tafkir Fi Zaman Al-Tafkir: Dlid Al-Jahl Wa Al-Khurafat.
• Falsafat Al-Takwil: Dirasat Fi Takwil Al-Qur’an Ind Muhy Al-Din Ibn Arabi.
• Ishkaliyat Al-Qiraat Wa Aliyat Al-Ta’wil (Problematika Pembacaan dan Mekanisme Hermeneutika), Cairo 1992
• Mafhum Al-Nas: Dirasat Fi Ulum Al-Qur’an.
• Al-Mar’ah fi Al-Khit Al-Azmah (Wanita dalam Wacana Kritis).
2. Persoalan dan Kegelisahan Akademik
Sebagai teks bahasa, al-Qur’an dapat disebut sebagai teks senral dalam sejarah Peradaban Arab. Bukan bermaksud menyederhanakan jika dikatakan bahwa peradaban Arab-Islam adalah ”Peradaban Teks”. Artinya, bahwa dasar-dasar ilmu dan budaya Arab-Islam tumbuh dan berdiri tegak di atas landasan dimana teks sebagai pusatnya tidak dapat diabaikan.
Oleh karena peradaban Arab memberikan prioritas sedemikian rupa terhadap teks al-Qur’an dan menjadikan interpretasi sebagai metode, maka dapat dipastikan bahwa peradaban ini memiliki suatu konsep, meskipun implisit tentang hakikat teks dan metode-metode interpretasinya. Pengkajian konsep teks tidak sekedar petualangan intelektual dalam tradisi saja, tetapi lebih dari irtu merupakan pencarian ”dimensi” yang hilang dalam tradisi tersebut, yaitu dimensi yang dapat membantu kita untuk merumuskan ”kesadaran ilmiah” atas tradisi.
Generasi liberal-reformis sebenarnya menyadari pentingnya ”dimensi” ini dalam tradisi kita, tetapi teriakan dan peringatan-peringatan mereka lenyap begitu saja. Hal ini karena beberapa kekuatan di dalam realitas sosial dan budaya yang tidak meghendaki terwujudnya ”kesadaran ilmiah” tersebut karena kesadaran-kesadaran tersebut akan membebaskan tradisi dari ”kepentingan-kepentingan ideologis mereka” yang berusaha mempertahankan dan mendukung situasi dan kondisi sosial yang bobrok (status quo). kalaupun kekuatan transformasi dan reformasi dalam perjuangannya melawan kebobrokan sosial dan intelektual berusaha berpegang pada tradisi, namun cara yang mereka gunakan sama yaitu ”kepentingan ideologis”. Oleh karena itu, tidak disangsikan bahwa yang keluar sebagai pemenang dalam pertarungan ”kepentingan ideologis” ini adalah pemikiran konservatif status quo.

3. Penelitian Terdahulu
Pendapat-pendapat Abu Zaid sangat dipengaruhi oleh Abdul Qahir al-Jurjani, seorang kritikus sastra yang bermadzhab Syafi’iyah-Asy’ariyah yang sangat ia kagumi. Dari al-Jurjani inilah berakar pendekatan yang mengandaikan bahwa al-Qur’an adalah perkataan (kalam) yang mengikuti aturan-aturan general sebagaimana perkataan lainnya (manusia).
4. Metodologi Pemikiran Abu Zaid
Kajian metodologi kritik wacana menurut Nasr Hamid pada dasarnya adalah penelitian terhadap setiap produksi wacana untuk mengungkapkan ”mekanisme strukturalisasi” yang terdapat didalamnya, sebagai sebuah prosedur penalaran. Karena itu kritik wacana bukanlah pembacaan evaluatif yang memberikan penilaian benar salah. Menurut Nasr Hamid, ia justru berkaitan erat dengan pembacaan produktif, yaitu pembacaan yang bukan berurusan dengan hal-hal yang nyata dan dimaklumi, melainkan kepada hal-hal yang tersembunyi, jauh dan hal-hal yang manshuh anhu dalam wacana.
Metode yang digunakan oleh Nasr adalah Historic-Literary-Critic dengan menggunakan pendekatan Hermeneutic Linguistic yang memanfaatkan analisa mikro structural dan analisa makro structural. Dengan landasan konsep teks ini Nasr dapat merumuskan pemahaman ilmiah atas teks primer agama setelah itu.
Abu Zaid membagi teks menjadi dua, yakni teks primer dan teks sekunder. Teks Primer adalah al-Qur’an, sedangkan teks sekunder adalah Sunnah Nabi SAW, yakni adalah komentar tentang teks primer. Abu Zaid mengklasifikasikan teks-teks keagamaan yang diproduksi oleh para Sahabat dan Ulama’ lainnya sebagai ”teks-teks sekunder lain” yang merupakan interpretasi atas teks primer dan teks sekunder. Oleh karena itu, teks sekunder hanyalah interpretasi-interpretasi atas teks primer, yang tidak bisa berubah menjadi teks primer. Kalau teks sekunder menggeser teks primer maka manipulasi atas teks primer akan menjadi tak terkontrol.
Kritik wacana agama memperoleh kriteria yang jelas dalam membongkar teks-teks sekunder disekitar teks primer. Dua analisa yang dimaksud yaitu:
­ Analisa mikro structural, yaitu: Analisa terhadap sistem intern wacana itu sendiri yang menyangkut status literernya pada pemikiran dan pengungkapan pengertian tekstualnya. Sebelum beralih kesignifikansi sosio-politik-kritik ideologi. Hal ini digunakan untuk menghindari kesalahan-kesalahan anlisa mekanis-reflektif yang gerak metodologisnya dari luar kedalam.
­ Analisa makro structural, yaitu: Upaya untuk memfokuskan perhatian kritik wacana yang ditujukan guna mengungkap signifikasi eksternal dari wacana itu. Signifikasi itu merupakan konteks bagi kelahiran wacana itu sendiri, maka setiap wacana realitas dapat dirujukkan pada setting historis dan lingkungan sosial budaya tertentu.
Dengan demikian maka kritik wacana itu sendiri memiliki dua fungsi menurut Nasr yaitu:
1. Membuktikan bahwa setiap wacana merupakan bagian dari kesatuan pemikiran yang lebih, dimana ia hanya menjadi bagian dari penggalan sejarah tertentu.
2. Dapat merekonstruksi wacana yang diam sehingga dapat menempatkan dalam konteks ideologis yang membentuk atau dengan kata lain, kritik wacana harus dapat menampilkan signifikasi sosio-politik dari setiap produksi dan praktis kekuasaan yang tengah dijalani dan dijalankan.
Berkaitan dengan hal ini Nasr menekankan agar analisis yang pertama menjadi titik tolak bagi analisis yang kedua. Titik kajian ini berpijak pada analisis pemikiran dan pengungkapan pengertian tekstualnya sebelum berpindah ke sosio politik kritik idiologi.
Nasr Hamid memetakan pergeseran teks dan pemaknaan sebagai berikut:
a) Berpusat pada teks Al-Qur’an, yakni wacana agama ini menunjukkan bahwa teks Al-Qur’an merupakan sentral dari setiap perwujudan wacana agama. Bahkan dialah ruh yang menghidupi wacana itu sendiri.
b) Berpijak pada kuasa teks, yakni sebagai konsekuensi dalam wacana keagamaan akan kecenderungan konstan untuk selalu bersandar pada kuasa teks di dalam menyikapi persoalan-persoalan di bidang politik, sosial dan pemikiran.
c) Pencakupan teks, yakni sebagai sistem makna yang bergerak dari sini ke sana dalam penarikan signifikansi. Sebagai contoh teks yang ada di sana untuk realitas yang ada di sini. Contoh yang dikemukakan Nasr Hamid adalah Imam Al-Ghazali dengan revitalisasinya dalam Al-Ihya’ Ulum Al-Din.
d) Perluasan dan penyempitan makna. Perluasan makna melahirkan rumusan Al-Hakimiyyah, yaitu otoritas mutlak teks sebagai satu-satunya sumber legislasi mengenai semua segi kehidupan manusia. Sedangkan penyempitan makna nampak pada setiap pembacaan yang membatasi makna teks pada makna yang dipahami oleh generasi masa lalu.
e) Pembakuan makna. Wacana agama yang selama ini berkembang, membangun strategi makna yang telah final yang terwujud pada teks-teks normatif otoritatif masa lampau.kepedulian dari setiap wacana terletak pada bagaimana menerapkan makna yang telah final itu pada persoalan yang timbul saat ini. Nasr Hamid berpendapat bahwa hal ini justru akan menyingkirkan bahasa aktual yang menyatakan realitas hidup yang sebenarnya atau dengan kata lain menjadikan realitas itu maya di bawah bayang-bayang masa lampau.
Nasr Hamid menyebutkan peradaban yang terbangun dalam tradisi Arab-Islam sebagai peradaban teks. Hal ini dimaksudkan sebagai suatu peradaban yang landasan epistemologinya dibangun melalui dialektika manusia dengan realitas sejarah dan proses dialog kreatif manusia dengan teks.
Dalam kajiannya terhadap Al-Qur’an, disamping merujuk kepada pendapat-pendapat Mu’tazilah. Nasr Hamid banyak menggunakan kaidah Hermeneutic. Tahap terpenting dalam melakukan kajian terhadap makna teks adalah melakukan analisis terhadap corak teks itu sendiri. Hanya dengan penggunaan kaidah yang demikian, maka petunjuk-petunjuk tentang pengarang teks tersebut dapat diketahui.
Muhammad adalah bagian dari sosial budaya, dan sejarah masyarakatnya Allah memilih Nabi Muhammad untuk menjadi utusan-Nya guna menyampaikan pesan-Nya yakni, islam. Pesan ini pada dasarnya diungkapkan dalam Al-Qur’an yang tidak dikirim begitu saja sebagai sebuah kitab, namun diwahyukan secara lisan secara bertahap kepada Nabi. Proses pewahyuan ini tidak lain kecuali sebuah tindakan komunikasi yang secara alami mencakup pembicara, penerima, kode komunikasi, dan perantara. Dengan jelas hal ini ditunjukkan dalam Al-Qur’an bahwa hanya ada tiga kemungkinan tiga tipe komunikasi verbal dari Allah kepada manusia: melalui wahyu, dari belakang tabir, atau dengan mengutus seorang Rasul.
Tentang konsep wahyu dan Muhammad SAW, Abu Zaid memandang bahwasannya Al-Qur’an berada hanya dalam tingkat perkataan, bukan wahyu yang turun dari langit dalam bentuk kata-kata yang benar sebagaimana pernyataan klasik tetapi merupakan suatu substansi yang disaring melalui Muhammad SAW dan sekaligus diekspresikan dalam batas intelek dan kemampuan linguistic Muhammad sendiri.
Abu Zaid merasa perlu memberikan penjelasan baru atas proses pewahyuan al-Qur’an dengan meminjam teori model komunikasi Roman Jakobson, meskipun tidak persis sama. ”Proses pewahyuan”, kata Abu Zaid ”tidak lain adalah sebuah tindakan komunikasi yang secara natural terdiri dari pembicara, yaitu Allah, seorang penerima, yakni Nabi SAW, sebuah kode komunikasi, yakni bahasa Arab dan sebuah canel, yakni Malaikat Jibril.
Kata-kata literal teks al-Qur’an bersifat ilahiah, namun ia menjadi sebuah konsep yang relatif dan bisa berubah ketika ia dilihat dari perspektif manusia, ia menjadi teks manusiawi. Sehingga wahyu yang dibaca oleh Nabi SAW berasal dari sebuah teks ilahi menjadi sebuah konsep atau teks manusiawi, karena ia secara langsung berubah dari wahyu (tanzil) menjadi interpretasi (ta’wil). Pemahaman Muhammad SAW atas teks merepresentasikan tahap paling awal dalam interaksi teks dengan pemikiran manusia.
Menurut Abu Zaid, realitas adalah dasar. Dari realitas, dibentuklah teks (al-Qur’an) dan dari bahasa dan budayanya terbentuklah konsepsi-konsepsi, dan ditengah pergerakannya dengan interaksi manusia terbaharuilah maknanya. Pertama adalah realitas, kedua adalah realitas, dan terakhir adalah realitas.
Pandangan tersebut mengantarkan Abu Zaid untuk sampai pada kesimpulan bahwa al-Qur’an adalah “Produk Budaya” (al-Muntaj al-Tsaqafi), yakni bahwa teks muncul dalam sebuah struktur budaya Arab abad ketujuh selama lebih dari duapuluh tahun, dan ditulis berpijak pada aturan-aturan budaya tersebut, yang didalamnya bahasa merupakan sistem pemaknaannya yang sentral. Namun, pada akhirnya teks berubah menjadi “Produsen Budaya”, yang menciptakan budaya baru sesuai dengan pandangan dunianya, sebagaimana tercermin dalam budaya Islam sepanjang sejarahnya
Para cendekiawan muslim menggunakan teori hermeneutika untuk memahami dan mengetahui Al-Qur’an dalam wacana historis dengan pendekatan yang bermacam-macam. Salah satunya adalah Nasr Hamid yang menggunakan teori hermeneutika. Tujuan dari studi yang dilakukan Nasr Hamid terhadap Al-Qur’an adalah:
1. menghubungkan kembali studi-studi Al-Qur’an dengan teori kritik wacana (ad-dirasat al-adabiyah wa an-naqdiyyah).
2. mendefinisikan satu pemahaman ”objektif” terhadap islam dan terhindar dari kepentingan ideologis.
Nasr Hamid memulai dengan menyatakan hubungan antara Nass dengan Takwil. Menurutnya teks dan interpretasi adalah dua sisi yang saling terinspirasi. Pada dasarnya, agama dan teks-teksnya bersifat netral, dalam artian merupakan teks yang terbuka untuk berbagai aktualisasi makna. Tetapi kontekstualisasi di kancah pertarungan ideologis yang spesifik sudah barang tentu sangat ditentukan oleh pretensi dan kecenderungan pembacanya. Menurut Abu Zaid, fenomena demikian mengisyaratkan bahwa teks agama yang berasal dari masa lampau telah dan terus menerus diinterpretasikan mengikuti keprihatinan dan tekanan yang dihadapi pembacanya pada masa kini. Di sinilah Abu Zaid mulai khawatir mengenai apakah teks-teks agama ini cukup terbuka atau tidak untuk menampung limpahan berbagai tipe penafsiran yang berbeda-beda ini. Ini mendorong Abu Zaid untuk menentukan hingga sejauh mana sebetulnya jangkauan tafsir (interpretative scope) yang dapat diberikan teks sehingga ia tidak tereduksi menjadi saluran belaka bagi ideologi-ideologi yang tengah bertarung.
1) Konsep Takwil
Dalam melakukan ta’wil Nasir Hamid Abu Zaid mencoba merumuskan satu konsep yang obyektif dan ilmiah untuk menafsirkan teks-teks keagamaan, konsep yang Abu Zaid coba bangun adalah mempertemukan antara ta’wil (tafsir bi al-ra’yi) dalam Islam dan hermeneutika yang menurutnya merupakan kecenderungan yang juga ada dalam tradisi penafsiran Islam. Secara umum hermeneutik Abu Zaid ini bertujuan untuk menemukan makna asal (dalalatuhu al-asaliyyah) dari sebuah teks. Sebagai seorang Hermeneut, Abu Zaid banyak menggunakan metode Hermeneutiknya disamping juga merujuk pada pendapat-pendapat Mu’tazilah.
Teks menurut Nasr Hamid bebas dari penafsiran dan komentar. Al-Qur’an telah menjadi subjek interpretasi sejak diturunkan. Ada perbedaan pendapat tentang penggunaan kata takwil dan tafsir. Beberapa tokoh diantaranya Nasr Hamid membedakan antara keduanya, sebab takwil berkaitan dengan proses penemuan yang tidak dijangkau dengan tafsir, didalam takwil peran pembaca dalam menemukan makna teks lebih berarti dari pada tafsir.
Menurut Abu Zaid, perbedaan antara konsep ta’wil dengan tafsir dari sisi pengertiannya telah diberi makna dengan landasan sectarian dalam fase belakangan dalam pergumulan ideologis antar berbagai sekte dan aliran pemikiran keagamaan. Pemberian makna tersebut umumnya disertai dengan dominasi aliran Asy’ari dan dijadikannya sebagai aliran resmi oleh Negara setelah melenyapkan Mu’tazilah. Istilah tafsir bermakna interpretasi-interpretasi yang diajukan oleh aliran resmi, sementara istilah ta’wil berarti interpretasi yang diajukan oleh pihak musuh, interpretasi yang telah menyimpang dari kebenaran. setelah itu istilah ta’wil bermakna negative dari sisi agama yang telah mapan dan dominant. Besar dugaan bahwa serangan-serangan terhadap ta’wil-ta’wil para ahli nahwu, analog-analog serta illat-illat mereka oleh para pakar modern tidak lain merupakan perpanjangan dari adanya kepentingan ideologis.
2) Al-Qur’an adalah Makhluk Tuhan
Pemikiran Abu Zaid dalam hal ini didasarkan bahwa bahasa adalah kesepakatan manusia, menurut pendapat Muktazilah al-Qur’an adalah makhluk dan tidak abadi. al-Qur’an diciptakan dalam konteks tertentu. Abu Zaid percaya bahwa problem mendasar hermeneutika al-Qur’an berbeda akan tetapi permasalahannya lebih terletak pada pengertian dasar tentang teks. Pengertian teks al-Qur`an ini mencerminkan teori penafsiran yang ia rumuskan berdasarkan konsepsi teks yang ia rumuskan sebelumnya. Ada dua hal yang ingin dicapai Abu Zaid dari teori penafsiran ini, ialah mencapai pemahaman yang obyektif atas teks disatu sisi dan upaya menghindar dari kecondongan ideologis di sisi yang lain. Kecondongan ideologis (ideological inclination) dalam pembacaan teks terjadi ketika seseorang menarik teks begitu saja ke dalam horison masa kini, tanpa menentukan terlebih dahulu pengertian asal dari teks itu atau batas-batas makna yang dapat diberikannya. Untuk menghindari kecenderungan ideologisasi teks semacam ini maka Abu Zaid melontarkan dua aspek yang harus diperhatikan dalam pembacaan teks :
 Aspek histories, dalam pengertian sosiologis untuk menempatkan teks dalam konteksnya semula demi memperoleh pengertian yang asli dari teks itu. Termasuk ke dalam aspek ini adalah konteks historis dan, sudah barang tentu, konteks kebahasaan yang spesifik dari teks tersebut.
 Aspek yang kedua adalah konteks sosio-kultural masa kini yang merupakan landasan yang mendorong untuk melakukan penafsiran – atau tepatnya penafsiran ulang – terhadap teks tersebut.
Abu Zaid juga memposisikan Muhammad SAW sebagai pengarang al-Qur’an dan sebagai produk budaya dari masyarakat yang terkait dengannya. Demikianlah, dengan pembedaan antara aspek historis teks dengan konteks sosio-kultural pembacaan disatu sisi, dan sejajar dengan ini pembedaan antara “arti” dan “makna”, maka penafsiran yang valid dan obyektif terhadap teks dapat dilakukan. Menurut Abu Zaid al-Quran eksis dan dapat mengembangkan budaya baru karena ada orang yang mengimaninya. Bila tidak ada orang yang percaya pada al-Quran, misalnya, al-Quran tidak akan bisa menciptakan budaya. Agama, yang merupakan reproduksi al-Quran, terkombinasi dengan usaha manusia untuk memahaminya. Peradaban terbentuk dari interaksi antara manusia yang mengimani al-Quran dan al-Quran itu sendiri.
5. Sumbangan dalam Pengembangan Keilmuan Islam
Seorang pemikir Islam, seperti apapun produk yang dia hasilkan tidak akan pernah terlepas dari upaya dan niat tulus untuk menjadikan agama lebih bermakna dalam kehidupan. Terlepas dari benar dan salah, harus diakui jerih payah tersebut memberikan beberapa sumbangan ide sebagai penyegar wacana keislaman yang selama ini dianggap dan dirasa statis. Keberanian intelektual Abu Zaid ini sanggup menerobos ikatan-ikatan sakralitas keagamaan yang dianggap baku dan mapan, dia berupaya membangun sebuah tradisi keilmuan Islam yang mencoba mengambil jarak dari keyakinan-keyakinan keagamaan – yang dianggapnya ideologi – itu sendiri, bukan untuk memperapuh pemahaman keagamaan, sebagaimana yang dituduhkan oleh para pengkritiknya, namun justru untuk membersihkan pemahaman keagamaan itu dari unsure-unsur yang dianggapnya palsu, yakni ideologi dan mitologi.
6. Kesimpulan
Kehadiran Nasr Hamid Abu Zaid, lelaki kelahiran Thanta, Mesir, 7 Oktober 1943, dalam konstelasi pemikiran Islam, khususnya di ranah Mesir, mengundang reaksi cukup keras dari publik Mesir.
Abu Zaid, begitu ia disapa, dalam batas-batas tertentu, mampu menghidupkan kembali dinamika pemikiran Islam, yang sering kali terjebak pada mono tafsir, Abu Zaid, datang dan membuka ruang-ruang tafsir baru dalam melihat dan mencermati Islam.
Tentu saja, kondisi ini dipicu oleh dua kecenderungan utama wacana Islam yang berkembang di Mesir. Yakni kecenderungan Islamis (Islamiyyun), baik yang masuk kubu radikal maupun kubu moderat, dan kecenderungan Sekularis (‘almaniyyun), yang berdiri dari berbagai kelompok mulai yang sosialis hingga liberal. Dari sinilah, Abu Zaid hadir, untuk membelah ruang-ruang tafsir lain ketika berhadapan dengan teks-teks Islam.
Secara singkat pemikiran hermeneutika Nasir Hamid Abu Zaid adalah bertujuan untuk menemukan makna asal (dalalatuhu al-asaliyyah) dari sebuah teks dengan menempatkannya pada sebuah konteks sosio-historisnya, sekaligus untuk mengklarifikasi kerangka sosio-kultural kontemporer.

DAFTAR PUSTAKA

Abu Zaid, Nasr Hamid. Hermeneutika Inklusif. (Jakarta: ICIP. 2004)
Abu Zaid, Nasr Hamid, Tekstualitas Al-Qur’an: Kritik Terhadap Ulumul Qur’an (Yogyakarta: LKiS. 2005)
Cooper, John, Ronald L Netter, M. Mahmoud, Pemikiran Islam, (Jakarta: Erlangga, 2002)
Hilman Latief, Nasr Hamid, Kritik Teks Keagamaan (Yogyakarta: eLSAQ press, 2003)
Mustaqim, Abdul – Syamsudin, Sahiron. Studi al-Qur’an Kontemporer. (Jogjakarta: PT Tiara Wacana. 2002)
http//www. Peziarah. WordPress.com
http:// islamlib. Com/id/c/ pernyataan. Pers/
http://www. Muslimdelf. Ne/feed

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s