Muhammad Abduh bin Hasan Khairullah


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sejak abad kesembilan belas dan memasuki abad kedua puluh, banyaknya sumbangsih Muhammad Abduh kepada pemikiran Islam modern. Muhammad Abduh secara tegas mengembangkan gerakan pembaharuan Islam melalui gerakan intelektual yang memiliki signifikan yang kuat untuk terus dikaji. Persoalan yang berkaitan dengan sikap intelektualitas itu bukan hanya persoalan kelembagaan pendidikan, akan tetapi juga sikap mental yang dipengaruhi oleh budaya dan tata nilai dari sebuah masyarakat. Dari sini jelas bahwa masalah pendidikan mempunyai peran yang signifikan dalam menumbuhkan kembali intelektualitas umat Islam lewat jalur pendidikan. Konsepsi dasar pembaharuan (modernisasi) adalah mengubah tatanan lembaga pendidikan tradisional menjadi lembaga penidikan modern.
Modernisasi dalam bidang pendidikan adalah bagian terpenting dari modernisasi sosial, ekonomi, politik. Artinya untuk membangun suatu tatanan masyarakat yang modern, maka pendidikan merupakan agen yang amat penting sebagai media transformasi nilai budaya maupun pengetahuan. Asumsi adanya relevansi yang signifikan antara pembaharuan dengan pendidikan merupakan salah satu fungsi pendidikan yang membebaskan masyarakat dari belenggu keterbelakangan. Itu artinya untuk mengadakan perubahan (pembaharuan) dalam masyarakat, yang menjadi kuncinya adalah pendidikan. Maka dari itu kajian tentang Muhammad Abduh sebagai tokoh pembaharu dunia islam sudah banyak dilakukan oleh peneliti sebelum ini.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Riwayat Hidup
Muhammad Abduh bin Hasan Khairullah lahir pada tahun 1849 M/ 1265 H, di Desa Mahallat Nashr, Provinsi Gharbiyah, Mesir. Ayahnya bernama Abduh Khairullah warga Mesir keturunan Turki. Sedangkan ibunya adalah perempuan yang berasal dari suku Arab yang nasabnya sampai pada Umar ibnul Khattab, Sahabat Nabi Muhammad saw.
Sebagaimana umumnya keluarga Islam, pendidikan agama pertama didapat dari lingkungan keluarga. Sang ayah. Abduh Khairullah yang pertama menyentuh Abduh di arena pendidikan. Ayahnya mengajarkan baca tulis, dan menghafal Al-Qurán. Allah memberikan kecerdasan kepada Abduh. Ini terbukti, hanya dalam tempo kurang dari tiga tahun mempelajari Al-Qurán, ia sudah mampu menghafal semua isinya.
Tahun berikutnya, ia melanjutkan pendidikan ke Thanta lembaga pendidikan di Masjid Manawi, karena kecewa dengan metode pengajaran yang diperoleh, yang hanya mementingkan hafalan saja dan tidak diikuti dengan pemahaman. Maka ia memutuskan untuk melanjutkan studinya ke Al-Azhar dan bertemu dengan Jamaludin Al-Afghani pada tahun 1869. Pertemuannya dengan Jamaludin Al-Afgani mengubah pemikirannya dari penguasaan teori-teori ilmiah kearah sikap praktis.
Muhammad Abduh bersama Jamaludin Al-Afghani aktif dalam berbagai bidang sosial dan politik. Disamping itu ia juga pernah menjabat sebagai mufti Mesir hingga wafat pada tahun 1905. Muhammad Abduh termasuk salah seorang pembaru dan ahli pikir muslim yang hidup pada pertengahan abad ke-19 di Mesir.

B. Metode Muhammad Abduh dalam pembaharuan
Dalam melakukan perbaikan Muhammad Abduh memandang bahwa suatu perbaikan tidaklah selamanya datang melalui revolusi atau cara serupa. Seperti halnya perubahan sesuatu secara cepat dan drastis. Akan tetapi juga dilakukan melalui perbaikan metode pemikiran pada umat islam. Melaui pendidikan,pembelajaran,dan perbaikan akhlaq. Juga dengan pembentukan masyarakat yang berbudaya dan berfikir yang bisa melakukan pembaharuan dalam agamanya. Sehingga dengannya akan tercipta rasa aman dan keteguhan dalam menjalankan agama islam. Muhammad Abduh menilai bahwa cara ini akan membutuhkan waktu lebih panjang dan lebih rumit. Akan tetapi memberikan dampak perbaikan yang lebih besar dibanding melalui politik dan perubahan secara besar-besaran dalam mewujudkan suatu kebangkitan dan kemajuan. Sebagaimana telah didefinisikan bahwa pembaharuan(tajdid) adalah kebangkitan dan penghidupan kembali dalam bidang keilmuan islam dan aplikasi sebagaimana pada zaman Rasullullah dan para sahabat. Yang selama ini sempat hilang, terlupakan, bahkan terhapus dari tubuh umat islam.
Sebagaimana telah diungkapkan oleh Muhammad Abduh bahwa metodenya dalam perbaikan adalah jalan tengah (al-manhaj al-wusto). Dalam hal ini beliau membagi umat islam kepada 2 bagian yaitu:
1. Mereka yang condong kepada ilmu-ilmu agama dan apa yang berhubungan dengan itu semua. Mereka itu yang biasa disebut al-muqallid.
2. Mereka yang condong pada ilmu-ilmu dunia. Yang silau dan kagum akan barat serta berbagai disiplin ilmu yang dimiliki,dan kemajuannya dalam bidang materi.
Metode dalam pembaharuan yang digunakan oleh Muhammad Abduh adalah mengambil jalan tengah antara kedua kelompok diatas. Menyeimbangkan antara kedua jalan tersebut. Yaitu antara kelompok yang berpegang teguh pada kejumudan taqlid dan mereka yang berlebihan dalam mengikuti barat baik itu pada budaya dan disiplin ilmu yang mereka miliki. Sebagaimana yang diungkapan oleh Muhammad Abduh dalam metode pembaharuannya: sesengguhnya aku menyeru kepada kebebasan berfikir dari ikatan belenggu taqlid dan memahami agama sebagaimana salaful ummat terdahulu. Yang dimaksud dengan salaful umat di sini adalah kembali kepada sumber-sumber yang asli yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadist sebagaimana yang dipraktikkan oleh para salafus shaleh terdahulu.
Disamping itu Syeikh Muhammad Abduh juga mengemukakan pendekatan akomodatif untuk merapatkan jurang antara dua kelompok tradisionalis dan modenis yang muncul dikalangan golongan terpelajar Islam. Abduh menghadapi fenomena konflik dua aliran dengan pemikiran positif. Penyelesaian yang disarankan olehnya kepada kedua-dua kelompok itu ialah dengan membebaskan pemikiran daripada taqlid buta dan kembali kepada pendekatan salafi sebelum periode khilafiah. Malah, beliau mengajak intelektual Islam menyelidiki kemajuan sains dan modeniti yang sedang melanda dunia mutakhir. Selanjutnya, beliau mengajak para cendekiawan Islam tampil membuka pintu ijtihad serta membuat kajian dan tafsiran yang bijak tentang hal ihwal umat Islam.

C. Ide Pembaruan Pemikiran Muhammad Abduh
Ide pembaruan pemikiran Muhammad Abduh masih ada keterkaitannya dengan pemikiran sebelumnya seperti Jamaludin Al-Afgani dan Tahtawi. Gagasan utama pembaruannya berangkat dari asumsi dasar bahwa semangat rasional harus mewarnai sikap pikir masyarakat dalam memahami ajaran Islam. Jika semangat ini dapat ditumbuhkan, maka taklid dan ketergantungan pada nasib yang melekat pada tubuh masyarakat akan mudah dikikis sehingga akan mudah tumbuh sikap pandang terhadap Islam. Selain itu, ajaran Islam tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi modern dan ide pembaruannya lebih bersifat bebas dan merdeka.
Muhammad Abduh memahami ajaran Islam sebagai ajaran yang tidak kaku di dalam menghadapi perkembangan zaman. Suatu realitas yang tidak dapat dipungkiri bahwa Abduh mewariskan ide-ide pembaruan yang amat berpengaruh ke seluruh dunia Islam. Untuk lebih jelas ide-ide pembaruan Abduh akan dipaparkan sebagai berikut :
1. Membongkar kejumudan
Kata jumud terkandung arti keadaan membeku, keadaan statis dan tiadanya perubahan. Karena dipengaruhi faham jumud umat Islam tidak menghendaki perubahan dan tidak mau menerima perubahan, Umat Islam berpegang teguh pada tradisi. Untuk itu Umat Islam harus dihindarkan dari kebekuan tersebut dan mau menerima perubahan dan bisa mengkritisi tradisi yang ada. Karenanya Abduh menentang taklid yang dipandang sebagai faktor yang melemahkan jiwa kaum muslimin. Pandangannya tentang perlunya pembongkaran kejumudan melahirkan ide tentang perlunya ijtihad.
2. Perlunya ijtihad
Sejak akhir abad ke 4 H, Umat Islam meyakini bahwa pintu ijtihad telah tertutup, hingga masa Abduh, hal ini tetap terjadi. Tetapi menurut Abduh bahwa pintu ijtihad tidak dapat ditutup, selamanya pintu ijtihad harus dibuka dan perlu diadakan. Tetapi yang dimaksudnya bukan tiap-tiap orang boleh mengadakan ijtihad. Hanya orang-orang yang memenuhi syarat-syarat yang diperlukan yang boleh mengadakan ijtihad, yang berlandaskan pada Al-Qurán dan Al-Hadist sebagai sumber yang asli dari ajaran-ajaran Islam. Sedangkan lapangan bagi ijtihad sebenarnya ialah mengenai soal-soal mu’amalah yang ayat-ayat dan hadistnya bersifat umum dan jumlahnya sedikit itu dan bukan permasalahan ibadah. Hukum-hukum kemasyarakatan inilah yang perlu disesuaikan dengan zaman. Adapun soal ibadat, karena hal ini merupakan hubungan manusia dengan Tuhan, dan bukan antara manusia dengan manusia, tak menghendaki perubahan menurut zaman. Oleh karena itu, ibadat bukanlah lapangan ijtihad sebenarnya untuk zaman modern ini.
Dengan sendirinya taklid kepada ulama tak perlu dipertahankan bahkan mesti diperangi karena taklid inilah yang membuat umat Islam berada dalam kemunduran dan tak dapat maju. Dengan demikian, diharapkan perkembangan fiqih tidak mengalami stagnasi, tetapi harus berkembang sesuai dengan tuntunan zaman.
3. Penggunaan akal fikiran
Pelaksanaan ijtihad dan pembrantasan taklid membutuhkan kekutan akal fikiran. Islam memandang akal mempunyai kedudukan tinggi. Allah menunjukkan perintah-perintah dan larangan-laranganNya kepada akal. Di dalam Al-Qurán terdapat ayat-ayat:
افلا يتبرون- افلا ينظرون- افلا يعقلون.
dan sebagainya. Oleh sebab itu Islam baginya adalah agama yang rasional. Mempergunakan akal adalah salah satu dari dasar-dasar Islam Kepercayaan pada kekuatan akal adalah dasar peradaban sesuatu bangsa. Akal terlepas dari ikatan tradisi akan dapat memikirkan dan memperoleh jalan-jalan yang membawa pada kemajuan. Pemikiran akallah yang menimbulkan ilmu pengetahuan.
4. Ilmu pengetahuan modern
Ilmu-ilmu pengetahuan modern yang banyak berdasar pada hukum alam (natural laws = سنة الله ) tidak bertentangan dengan islam sebenarnya. Hukum alam atau
سنة الله adalah ciptaan Tuhan dan wahyu juga berasal dari Tuhan. Karena keduanya berasal dari Tuhan, maka ilmu pengetahuan modern yang berdasar pada hukum alam, dan Islam sebenarnya, yang berdasar pada wahyu, tak bisa dan tak mungkin bertentangan. Islam mesti sesuai dengan ilmu-pengetahuan modern dan ilmu pengetahuan modern mesti sesuai dengan Islam. Ilmu pengetahuan adalah salah satu dari sebab-sebab kemajuan umat Islam di Masa yang lampau dan pula salah satu dari sebab-sebab kemajuan Barat sekarang. Untuk mencapai kemahuannya yang hilang, umat Islam sekarang haruslah kembali mempelajari dan mementingkan soal ilmu pengetahuan.
5. Pembaruan bidang agama
Terdapat beberapa ide pembaruan Abduh dalam bidang agama, yaitu sebagai berikut :
a. Abduh mengkategorikan ajaran-ajaran yang terdapat di dalam Al-Qurán dan Hadist ada dua kategori, yaitu ibadah dan muámalah.
b. Perkawinan seharusnya hanya satu satu atau tidak berpoligami, jika tidak mampu berbuat adil secara lahir. Sebab hal itu merupakan syarat bolehnya berpoligami.
c. Menentang hal-hal bid’ah dan penyimpangan terhadap akidah, di antaranya ziarah kubur pada auliyah (pemimpin) mengganggu orang yang sedang shalat dengan menabuh beduk.
d. Menentang perbuatan sogok menyogok atau dengan istilah sekarang suap menyuap. Alasannya, perbuatan tersebut merupakan kebiasaan buruk yang membahayakan agama dan dunia.
e. Menentang perbuatan yang tidak memperhatikan kemaslahatan umum, yaitu ia tidak menyukai umat Islam yang tidak mau bekerja sama dengan orang lain karena kerja sama dapat menimbulkan saling-tolong menolong sesame manusia.
f. Menentang sifat kikir dan boros yang dilakukan umat manusia.
5. Perbaikan pendidikan modern di Al-Azhar
Ide pembaharuan di Al-Azhar mucul karena kondisi minim yang dialami Abduh pada saat ia menimba ilmu di sana. Baginya, pembenahan di Al-Azhar sama halnya dengan membenahi kondisi umat Islam secara keseluruhan, karena mahasiswanya berasal dari penjuru dunia. Dan ke dalam Al-Azhar perlu dimasukkan ilmu-ilmu modern, agar ulama-ulama Islam mengerti kebudayaan modern dan dengan demikian dapat mencari penyelesaian yang baik bagi persoalan-persoalan yang timbul dalam zaman modern ini. Mempermodern sistem pelajaran di Al-Azhar, menurut pendapatnya, akan mempunyai pengaruh besar dalam berkembangnya usaha-usaha pembaharuan dalam Islam.
Adapun langkah-langkah yang dilakukan Abduh antara lain:
a. Perluasan kurikulum
b. Ujian tahunan dengan memberikan beasiswa yang lulus
c. Penyeleksian yang baik dan bermanfaat
d. Penambahan mata kuliah yang terkait dengan ilmu pengetahuan modern.
Dalam bidang administrasi langkah yang di tempuh yakni penentuan gaji yang layak bagi ulama Al-Azhar dan staf pengajar yang ada. Sarana prasarana yang sebelumnya tidak adapun diprioritaskan. Abduh memang telah banyak memberikan manfaat bukan berarti bebas dari hambatan, karena usaha-usahanya dalam mengadakan pembaharuan di Al-Azhar banyak ditentang ulama Al-Azhar sendiri.
6. Ide Pembaruan Bidang Hukum
Ide pembaruan Muhammad Abduh dalam bidang hukum adalah mengeluarkan fatwa-fatwa keagamaan dengan tidak terikat pada pendapat ulama-ulama masa lampau atau tidak terikat pada salah satu mazhab, sebab menjadikan pendapat para imam sebagai sesuatu yang mutlak bertentangan dengan ajaran Islam.
Dalam bidang hukum, ada tiga prinsip utama pemikiran Abduh sebagai berikut :
a. Al-Qurán sebagai sumber syariat
b. Memerangi taklid
c. Berpegang kuat pada akal dalam memahami ayat-ayat Al-Qurán
7. Pemikiran Politik
Keterlibatan Abduh dalam kegiatan politik tidak lepas dari peran gurunya ketika di Paris, Jamaludin Al Afgani yang mematangkan kemampuannya dalam bidang berpolitik. Menurutnya kekuasaan dari penyelenggara Negara haruslah dibatasi. Pemerintah harus siap terhadap setiap koreksi yang dikemukakan oleh rakyat atas segala kekhilafannya. Pemikirannya dalam bidang politik berpengaruh besar dalam pentas politik Mesir.
D. Dampak pemikiran Muhammad Abduh dalam pemikiran islam kontemporer
Muhammad Abduh adalah seorang pelopor reformasi dan pembaharuan dalam pemikiran islam. Ide-idenya yang cemerlang, meninggalkan dampak yang besar dalam tubuh pemikiran umat islam.beliaulah pendiri sekaligus peletak dasar-dasar sekolah pemikiran pada zaman modern juga menyebarkannya kepada manusia. Walau guru beliau Jamal Al-Afghani adalah sebagai orang pertama yang mengobarkan percikan pemikiran dalam jiwanya,akan tetapi Imam Muhammad Abduh sebagai mana diungkapkan Doktor. Mohammad Imarah,adalah seorang arsitektur terbesar dalam gerakan pembaharuan dan reformasi atau sekolah pemikiran modern. Melebihi guru beliu Jamaluddin Al-Afghani.
Muhammad Abduh memiliki andil besar dalam perbaikan dan pembaharuan pemikiran islam kontemporer. Telah banyak pembaharuan yang beliau lakukan diantaranya:
1.Reformasi pendidikan
Mohammad Abduh memulai perbaikannya melalui pendidikan. Menjadikan pendidikan sebagai sektor utama guna menyelamatkan masyarakat mesir. menjadikan perbaikan sistem pendidikan sebagai asas dalam mencetak muslim yang shaleh.
2.mendirikan lembaga dan yayasan sosial.
Sepak terjang dalam perbaikan yang dilakukan Muhammad Abduh tidak hanya terbatas pada aspek pemerintahan saja seperti halnya perbaikan pendidikan dan Al-Azhar. Akan tetapi lebih dari itu hingga mendirika nbeberapa lembaga-lembaga sosial. Diantaranya: Jamiah khairiyah islamiyah,jamiah ihya al-ulum al-arabiyah,dan juga jamiah at-taqorrub baina al-adyan.
3.mendirikan sekolah pemikiran.
Muhammad Abduh adalah orang pertama yang mendirikan sekolah pemikiran kontemporer. Yang memiliki dampak besar dalam pembaharuan pemikiran islam dan kebangkitan akal umat muslim dalam menghadapi musuh-musuh islam yang sedang dengan gencar menyerang umat muslim saat ini.
 Gerakan Reformasi Abduh

1. Mohammad Abduh adalah murid Sayid Jamaluddin Asad-abadi (Afghani). Meski demikian, keduanya memiliki pemikiran dan cara berjuang yang berbeda. Setelah Sayid Jamaluddin diasingkan dari Mesir, Mohammad Abduh memanfaatkan surat kabar di Mesir untuk menyampaikan pemikiran reformasinya. Dalam mengusung ide revolusionernya, Abduh sangat berhati-hati. Ia lebih banyak memberikan perhatian pada upaya pembaruan pemikiran dan pendidikan.
2. Walaupun terlibat dalam kehidupan berpolitik, namun Sheikh Mohammad Abduh menghindari sikap frontal dalam politik dan lebih memberikan perhatian pada masalah reformasi pemikiran.
3. Bagi Abduh reformasi pemikiran dan budaya umat Islam lebih penting dari segalanya.
4. Sheikh Mohammad Abduh meyakini prinsip kaderisasi dan peningkatan kemampuan sumber daya manusia.
5. Kebanyakan orang yang ada disekeliling Abduh, adalah para ulama, santri dan kalangan kampus. Merekalah yang meramaikan kuliah agama yang disampaikan Sheikh Mohammad Abduh.
6. Abduh meyakini bahwa melakukan gerakan reformasi terhadap masyarakat hanya bisa dilakukan dengan memperbaiki individunya. Meski demikian, ia tidak pernah lalai atau acuh terhadap kondisi sosial yang ada.
E. Sumbangan Dalam Bidang Pendidikan
Idea-idea yang dibawa oleh Syeikh Muhammad Abduh telah mengubah pandangan umat Islam terhadap Islam yang sering terikut-ikut dengan sebahagian sarjana Muslim yang jumud dan pasif. Syeikh Muhammad Abduh berjaya memberi gambaran yang jelas tentang keperluan umat Islam kepada Islah, khususnya dalam bidang pendidikan. Idea Islah Syeikh Muhammad Abduh dalam bidang pendidikan, khususnya di Universiti Al-Azhar telah memberi kesan yang mendalam terhadap perkembangan ilmu pengetahuan umat Islam. Antara idea tersebut ialah:
• mewujudkan mata pelajaran matematik, geometri, algebra, geografi, sejarah dan seni khat
• Mewujudkan farmasi khusus untuk pelajar Universiti Al-Azhar
• menyediakan peruntukan gaji guru dari perbendaharaan negara dan waqaf negara;
• memperbaiki asrama pelajar dengan menekankan aspek-aspek keselamatan dan kesehatan.
Syeikh Muhammad Abduh Juga meninggalkan beberapa karya yang bermutu dan menjadi sumber rujukan utama dalam dunia Islam seperti:
• Riasalah at-Tauhid
• Tafsir Juz’ ‘Amma
• Tafsir Surah al-‘Asr
• Risalah ar-Raddi ‘ala ad-Dahriyyin yang merupakan terjemahan karya Sayyid Jamalidin Al-Afghani
• Syarh Nahji al-Balaghah
• Syarh Maqamat al-Badi’
• at-Tahrir fi Islah al-Mahakim as-Syar’iyyah
• al-Islam wa ar-Raddu ‘ala Muntaqidih
• al-Islam wa an-Nasraniyyah ma’a al-‘ilmi wa al-Madaniyah
 Wafatnya Muhammad Abduh
Beliau wafat pada tanggal 11 juli 1905 di Alexandria.setelah banyak mewarisi peninggalan berharga bagi generasi selanjutnya. Pembaharuan dalam pemikiran keislaman serta perbaikan dibidang politik dan ekonomi.

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Demikianlah selayang pandang riwayat hidup Muhammad Abduh dan perjuangannya, Seorang ulama besar, seorang pembaharu (mujadid) yang penuh dedikasi, juru pengubah yang gental, yang hidup sebagai jembatan penghubung antara kemajuan abad ke-19 dengan ke-20 (1849-1905). Abduh mengenai islam untuk abad kedua puluh, terlihat jelas dalam beratus-ratus teks yang menguraikan berbagai aspek pemikirannya. Meskipun sebagian pemimpin Ikhwanul Muslimun menuduhnya menyimpang dari ajaran pokok Islam, pengaruhnya terlihat jelas dalam berbagai proposisi dan gagasannya yang digemakan dalam perumusan mereka mengenai Islam. Namun gagasan Muhammad Abduh tetap saja membentuk banyak di antara generasi baru Muslim di seluruh dunia.
Pendapat-pendapat dan ajaran-ajaran Muhammad Abduh telah mempengaruhi dunia Islam pada umumnya terutama dunia Arab melalui karangan-karangan Muhammad Abduh sendiri. Karangan-karangan Muhammad Abduh sendiri telah banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Turki, Urdu dan Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Imarah, Muhammad (2004) Syakhsiyat Laha Tarikh, Solo: Era Intermedia.

Taufik, Akhmad (2003) Sejarah Pemikiran dan Toko Modernisasi Islam. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Muhammad, Herry (2006) Tokoh-Tokoh Islam Yang Berpengaruh Abad 20, Jakarta: Gema Insani.
http//wikimedia Bahasa melayu, ensiklopedia bebas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s