Khaled M. Abou El-Fad


Hermeneutika dalam Hukum Islam
Khaled M. Abou El-Fadl dalam Karya
Speaking in God’s Name: Islamic Law, Authority, and Women

A. Pendahuluan

Hermeneutika, merupakan teori filsafat mengenai interpretasi makna. Sebagai sebuah pendekatan, akhir-akhir ini, hermeneutika semakin di gandrungi oleh para peneliti akademis, kritikus sastra, sosiolog, sejarawan, antropolog, filosof, maupun teolog, khususnya untuk mengkaji, memahami, dan menafsirkan teks (scripture), misalnya: Injil atau Al-Qur’an.

Fahruddin Faiz mengutip pendapat Sudarto, hermeneutika pada dasarnya adalah suatu metode atau cara untuk menafsirkan simbol yang berupa teks atau sesuatu yang diperlakukan sebagai teks untuk dicari arti dan maknanya, di mana metode hermeneutika ini mensyaratkan adanya kemampuan untuk menafsirkan masa lampau yang tidak dialami, kemudian dibawa ke masa sekarang .
Yusdani mengutip pendapat Josef Bleicher, Hermeneutika merupakan suatu teori atau filsafat tentang interpretasi makna . Namun, ia lazim dimaknai sebagai seni menafsirkan (the art of interpretation). Konon, dalam tradisi kitab suci, kata ini sering dirujuk pada sosok Hermes, yang dianggap menjadi juru tafsir Tuhan. Sosok Hermes ini oleh Sayyed Hossen Nasr, sering disebut sebagai Nabi Idris.3

Pendekatan hermeneutika, umumnya membahas pola hubungan segitiga (triadic) antara teks, si pembuat teks, dan pembaca (penafsir teks). Dalam hermeneutika, seorang penafsir (hermeneut) dalam memahami sebuah teks – baik itu teks kitab suci maupun teks umum – dituntut untuk tidak sekedar melihat apa yang ada pada teks, tetapi lebih kepada apa yang ada dibalik teks.4 Sebagaimana Ibnu Taimiyah misalnya, ia menyatakan bahwasanya proses yang benar dalam upaya penafsiran itu harus memerhatikan tiga hal: (1). Siapa yang menyabdakannya, (2). kepada Siapa ia diturunkan, (3) dan ditujukan kepada siapa.5 Dari sinilah, kata

Hermeneutika ini bisa didefinisakan sebagai tiga hal:
1. Mengungkapkan pikiran seseorang dalam kata-kata, menerjemahkan dan bertindak sebagai penafsir.
2. Usaha mengalihkan dari suatu bahasa asing yang maknanya gelap tidak diketahui ke dalam bahasa lain yang bisa dimengerti oleh si pembaca.
3. Pemindahan ungkapan pikiran yang kurang jelas, diubah menjadi bentuk ungkapan yang lebih jelas.

Lebih lanjut, Fahruddin Faiz menyatakan bahwa term khusus yang digunakan dalam pengertian kegiatan interpretasi dalam wacana keilmuan Islam adalah “tafsir”,bahasa Arab fassara atau fasara ini digunakan secara teknis dalam pengertianeksegesis di kalangan orang Islam dari abad ke-5 hingga sekarang.7Sedangkan Amin Abdullah menyebut hermeneutika sebagai fiqh tafsir wat ta’wil.

B. Objek Penelitian
Objek penelitian dalam makalah ini adalah pemikiran Khaled M. Abou El-Fadl tentang hermeneutika dalam studi hukum Islam dalam bukunya Atas Nama Tuhan, dari Fikih Otoriter ke Fikih Otoritatif (terj.) dari Speaking in God’s Name: Islamic Law, Authority, and Women.

1. Biografi Khaled M. Abou El-Fadl

Dalam mengkaji pemikiran orang, latar belakang/biografi sangat penting untuk diungkapkan sebagai bahan pertimbangan bahwa seorang pemikir tak bisa lepas dari konteks/background riwayat hidupnya. Khaled abou El Fadl (lahir 1963 di Kuwait) adalah profesor hukum di UCLA School of Law di mana dia mengajar hukum Islam, imigrasi, hak asasi manusia, keamanan nasional dan internasional hukum.. Dia memegang gelar dari Yale University (BA), University of Pennsylvania Law School (JD) dan Princeton University (MA / Ph.D.). Dia juga menerima pelatihan formal dalam jurisprudensi Islam di Mesir dan Kuwait.

Profesor El-Fadl diangkat oleh Presiden George W. Bush sebagai komisaris di US Commission on International Religious Freedom.. Dia advokasi yang kuat untuk mendukung hak asasi manusia dan duduk di Dewan Direksi untuk Human Rights Watch. Dr El-Fadl pada saat ini melayani di Dewan Penasehat Watch Timur Tengah. Dia adalah seorang penulis produktif dan tokoh intelektual masyarakat pada hukum Islam dan Islam. Sehingga, ia disebut-sebut sebagai “an enlightened paragon of liberal Islam”

2. Problem (kegelisahan akademik)

Khaled M. Abou El-Fadl merasakan maraknya otoritarianisme yang sangat parah dalam diskursus hukum Islam kontemporer. Epistemologi dan premis-premis normatif yang mengarahkan perkembangan dan pengembangan tradisi hukum Islam klasik kini sudah tidak ada lagi. Sementara tradisi hukum Islam klasik menjunjung premis-premis pembentukan hukum yang antiotoritarianisme, premis-premis serupa tidak lagi diberlakukan dalam tradisi hukum Islam belakangan ini. Selanjutnya, khaled menjelaskan tentang gagasan tentang pemegang otoritas dalam hukum Islam, yang dibedakan dengan otoritarianisme. Lebih luas, beliau berusaha menggali gagasan tentang bagaimana seseorang mewakili suara Tuhan tanpamenganggap dirinya sebagai Tuhan atau, setidaknya, tanpa ingin dipandang sebagai Tuhan.

3. Pentingnya Topik Penelitian

Penelitian Khaled M. Abou El-Fadl penting untuk memberikan penjelasan tentang fenomena maraknya otoritarianisme dalam diskursus hukum Islam kontemporer. Dengan pendekatan Hermeneutika, beliau berusaha melakukan penafsiran makna terhadap fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh CRLO (Council for Scientific Research and Legal Opinions), [al-Lajnah al-Da>’mah li> al-Buh}u>s} al- ‘Ilmiyyah wa al-Ifta’, Lembaga Pengkajian Ilmiah dan Fatwa], sebuah lembaga resmi di Arab Saudi yang diberikan kepercayaan untuk mengeluarkan fatwa. Khususnya fatwa-fatwa tentang kehidupan wanita Islam di Arab Saudi.

4. Hasil Penelitian Terdahulu

Khaled telah menelaah karya-karya sebelumnya mengenai konsep otoritatif dan otoriter. Salah satunya, Joseph Vining. Josep Vining menulis sebuah buku tentang perbedaan antara yang otoritatif dan yang otoriter. Dalam bukunya, ia menyatakan bahwa meskipun ada kebutuhan untuk menganut sebuah keyakinan bersama terhadap sebuah sistem sebelum melakukan upaya interpretasi, yang otoriter adalah sebentuk taklid buta, sementara yang otoritatif adalah melakukan “pilihan terbaik berdasarkan rasio”. Robert Michels dalam karya klasiknya tentang demokrasi secara persuasif menyatakan bahwa semua sistem politik, termasuk demokrasi, berada dalam genggaman apa yang ia sebut sebagai Hukum Besi Oligarki. Michels menegaskan bahwa sistem-sistem politik mengalami tekanan yang sangat kuat sentarlisasi dan oligarki, dan bahwa tekanan-tekanan tersebut merupakan sebuah kecenderunganalamiah dalam semua organisasi manusia. Begitu pula halnya, dalam sebuah proses interpretasi, ada sebuah kecenderungan yang pasti ke arah otoriterianisme yang ditandai dengan munculnya penetapan yang bersifat tetap dan tidak bisa berubah. Pemegang otoritas biasanya cenderung mengarah bersifat otoriter kecuali jika ada upaya sadar dan aktif untuk membendung kecenderungan tersebut dari wakil yang melakukan interpretasi dan wakil yang menerima interpretasi tersebut.
Dalam buku Speaking in GOD’s Name, Khaled Abu al-fadl, menfokuskan diri mengkaji sikap otoriter dalam studi hukum Islam. Khususnya, bagaimana CRLO (Council for Scientific Research and Legal Opinions)) dalam melakukan pembacaan teks sehingga terjatuh dalam sikap otoriter dalam memberikan sebuah fatwa, sehingga menimbulkan pembacaan teks yang subjektif dan selektif. Dia mencontohkan fatwa Syaykh Ibn Jibrin ketika ditanya apakah mengenakan bra diperbolehkan menurut hukum Islam? Ibn Jibrin menjawab: bahwa beberapa perempuan membiasakan diri mengenakan pakaian tambahan untuk menciptakan kesan bahwa mereka masih muda atau perawan, dan jika memang demikian motifnya maka hal tersebut dipandang sebagai bentuk penipuan yang dilarang. Namun, jika seorang perempuan mengenakan bra untuk tujuan kesehatan dan pengobatan, maka hal tersebut diperbolehkan. Jelas sekali bahwa Ibn Jibrin tidak mengutip perintah Tuhan yang spesifik tentang bra atau jenis pakaian lainnya. Ia juga tidak menyebutkan perintah Tuhan tentang pakaian dalam yang membuat seorang lebih seksi, dan lain-lain.Mungkin yang menjadi landasan argumentasi Ibn Jibrin adalah hadis yang dinisbatkan kepada Nabi yang berbunyi, “Siapa pun yang berlaku curang bukanlah kelompok kami.” Namun, konteks riwayat tersebut tidak ada kaitannya dengan bra. Padahal konteks hadis tersebut mengenai pedagang yang berlaku curang dalam menjajakan barang dagangannya.

5. Metedologi Penelitian

Metedologi penelitian yang digunakan Khaled adalah pendekatan Hermeneutika. Pendekatan ini menekankan sebuah relativisme yang besar atas displin yang sangat miskin dengan relativisme yaitu hukum Islam (fikih). Khaled M. Abou El- Fadl menjelaskan bahwa otoritarianisme adalah sebuah metedologi hermeneutika yang merampas dan menundukkan mekanisme pencarian makna dari sebuah teks ke dalam pembacaan yang sangat subjektif dan selektif. Subjektivitas yang selektif dari Hermeneutika otoriter ini melibatkan penyamaan antara maksud pengarang dan maksud pembaca, dengan memandang maksud tekstual dan otonomi teks sebagai hal yang bersifat sekunder. Lebih jauh lagi, dengan menganggap maksud tekstual menjadi tidak penting dan dengan menghapus otonomi teks, khaled menjelaskan bahwa seorang pembaca yang subjektif pasti akan melakukan kesalahan penafsiran atau kecurangan dan melangar syarat-syarat yang lain.
Khaled menggambarkan bagaimana proses seorang pembaca teks sehingga jatuh dalam sikap otoriter seperti ini: ketika pembaca bergelut dengan teks dan menarik sebuah hukum dari teks, resiko yang dihadapi adalah bahwa pembaca menyatu dengan teks, atau penetapan pembaca akan menjadi perwujudan ekslusif teks tersebut. Akibatnya, teks dan konstruksi pembaca akan menjadi satu dan serupa. Dalam proses ini, teks tunduk kepada pembaca dan secara efektif pembaca menjadi pengganti teks. Jika seorang pembaca memilih sebuah cara baca tertentu atas teks dan mengklaim bahwa tidak ada lagi pembacaan lain, teks tersebut larut ke dalam karakter pembaca. Jika pembaca melampaui dan menyelewengkan teks, bahaya yang akan dihadapi adalah pembaca akan menjadi tidak efektif, tidak tersentuh, melangit dan otoriter.

Kecenderungan otoriter tersebut dapat dibendung dengan lima prasyarat. Dia mencontohkan kalau x dan y merupakan wakil-wakil yang telah menerima perintah yang agak kompleks dari Tuannya yang memerintahkan agar mereka melaksanakan pekerjaan tertentu dan harus melaksanakannya dengan cara tertentu. Y akan memandang x memiliki otoritas untuk diikuti karena y percaya kepada x. Namun kepercayaan ini didasarkan pada sebuah asumsi rasional bahwa kelima prasyarat itu telah terpenuhi. Adapun lima prasyarat tersebut adalah:

Pertama: Kejujuran. Prasyarat kejujuran mencakup harapan bahwa x tidak bersikap pura-pura memahami apa yang sebenarnya tidak ia ketahui dan bersikap terus terang tentang sejauh mana ilmu dan kemampuannya dalam memahami perintah Tuannya. Ini bukanlah persoalan penafsiran, tapi semata persoalan penjelasan. Y berasumsi bahwa x tidak akan menyembunyikan dengan sengaja sebagian perintah tuannya, atau karena berbagai alasan, dengan sengaja mengganti bunyi perintahnya. Dengan kata lain, x tidak membatasi, menyembunyikan, berbohong atau menipu, dan menjelaskan semua perintah yang telah ia pahami. Jadi, prasyarat kejujuran mencakup harapan bahwa x tidak bersikap pura-pura memahami apa yang sebenarnya tidak ia ketahuidan bersikap terus terang tentang sejauh mana ilmu dan kemampuannya dalam memahami perintah tuannya.

Kedua: Kesungguhan. Secara logis y berasumsi bahwa x telah mengerahkan segenap upaya rasional dalam menemukan dan memahami perintah-perintah yang relevan berkaitan dengan sebuah atau serangkaian persoalan tertentu. Asumsi terhadap kesungguhan x tidak mudah untuk diukur. Akan tetapi setidaknya, asumsi tersebut mewajibkan x untuk merenungkan persoalan yang sedang dihadapi, memaksimalkan upayanya dalam menyelidiki, mengkaji, dan menganalisis perintah-perintah yang ada. Standar kesungguhan tersebut tidak sepenuhnya bersifat subjektif dan tidak didasarkan pada standar masyarakat kecuali jika kita dapat menunjukkan bahwa perintah tersebut mengharuskan kita untuk mengikuti standar masyarakat.

Ketiga: Kemenyeluruhan. Secara logis y berasumsi bahwa x telah mencoba untuk menyelidiki perintah tuannya secara menyeluruh dan berharap bahwa x telah mempertimbangkan semua perintah yang relevan, membuat upaya terus-menerus untuk menemukan semua perintah yang relevan, dan tidak melepas tanggung jawabnya untuk menyelidiki atau menemukan alur pembuktian tertentu.

Keempat: Rasionalitas. Secara logis y berasumsi bahwa x telah melakukan upaya penasiran dan menganalisis perintah-perintah Tuannya secara rasional. Tentu saja, rasionalitas ini dipandang sebagai sebuah konsep yang abstrak. Namun menurut saya (khaled), setidaknya, ia berarti sesuatu yang dalam kondisi tertentu dipandang benar secara umum. Misalnya, seorang Dekan fakultas hukum di kampus saya menepuk pundak saya sambil mengatakan, “ saya bangga kepada anda! Anda mewakili kami semua.” Jika kemudian saya tiba-tiba berkata dalam rapat fakultas, “kita saling mewakili satu sama lain! Dekan mengatakan seperti itu kepada saya,” pernyataan tersebut mungkin kedengaran bodoh atau naif, tapi bisa dibenarkan dalam kondisi tertentu sehingga ia dipadang masuk akal.

Kelima: Pengendalian Diri. Secara logis y menghendaki agar x menunjukkan tingkat kerendahan hati dan pengendalian diri yang layak dalam menjelaskan kehendak tuannya. Prasyarat ini dijelaskan dengan baik dalam ungkapan Islam “Dan Tuhan tahu yang terbaik/Tuhan lebih tahu (wa Allahu a’lam) . Lebih dari sekedar ungkapan, gagasan utama ungkapan itu adalah bahwa seorang wakil itu harus mempunyai kewaspadaan tertentu untuk menghindari penyimpangan, atau kemungkinan penyimpangan, atas peran tuannya.

6. Ruang Lingkup dan Istilah Kunci Penelitian

Ruang lingkup kajian Khaled M. Abou El-Fadl adalah telaah kritis terhadap fatwa hukum Islam (fikih) yang dirumuskan oleh CRLO (Arab Saudi). Sedangkan kata kunci yang digunakan adalah konsep otoritas dan otoriter (otoritarianisme). Dalam konsep otoritas, Khaled membedakan antara otoritas koersif dan otoritas yang bersifat persuasif. Otoritas koersif merupakan kemampuan untuk mengarahkan perilaku orang lain dengan cara membujuk, mengambil keuntungan,mengancam, atau menghukum, sehingga orang yang berakal sehat akan berkesimpulan bahwa untuk tujuan praktis mereka tidak punya pilihan lain kecuali harus menurutinya. Otoritas persuasif melibatkan kekuasaan yang bersifat normatif. Ia merupakan kemampuan untuk mengarahkan keyakinan atau perilaku seseorang atas dasar kepercayaan . Sedangkan istilah otoritarianisme adalah mekanisme pencarian makna dari sebuah teks ke dalam pembacaan yang sangat subjektif dan selektif.

7. Kontribusi dalam Ilmu-ilmu Keislaman
Penelitian Khaled M. Abou El-Fadl memberikan beberapa kontribusi terhadappengetahuan (knowledge) antara lain: Pertama, memberikan sumbangan penjelasan mengenai pendekatan hermeneutika dalam studi hukum Islam, khususnya teoriotoritarianisme sebagai metedologi hermeneutika yang merampas dan menundukkan mekanisme pencarian makna dari sebuah teks ke dalam pembacaan yang sangat subjektif dan selektif. Kedua, Khaled menawarkan lima prasyarat agar terhindar dari tindak kesewang-wenangan dalam memberikan fatwa hukum Islam, sehingga terhindar dari fikih yang otoriter menuju fikih yang otoritatif.

Dia adalah pengarang buku dan lebih dari sepuluh lima puluh artikel tentang hukum Islam dan Islam. His recent books include: The Search for Beauty in Islam: A Conference of the Books (Rowman and Littlefield, 2006); The Great Theft: Wrestling Islam from the Extremists (HarperSanFrancisco, 2005); Islam and the Challenge of Democracy (Princeton University Press, 2004); The Place of Tolerance in Islam (Beacon Press, 2002); Conference of the Books: The Search for Beauty in Islam (University Press of America/Rowman and Littlefield, 2001); And God Knows the Soldiers: The Authoritative and Authoritarian in Islamic Discourses (UPA/Rowman and Littlefield, 2001); Speaking in God’s Name: Islamic law, Authority and Women (Oneworld Press, Oxford, 2001) and Rebellion and Violence in Islamic Law (Cambridge University Press, 2001). Nya baru-baru ini buku termasuk: The Mencari Kecantikan dalam Islam: A Conference of the Books (dan Rowman Littlefield, 2006), The Great Pencurian: Gulat Islam dari Extremists (HarperSanFrancisco, 2005); Islam dan Tantangan dari Demokrasi (Princeton University Press , 2004); The Tempat Toleransi dalam Islam (Beacon Press, 2002); Konferensi dari Buku: The Mencari Kecantikan dalam Islam (University Press of America / Rowman dan Littlefield, 2001), dan Allah Knows the Soldiers: The dan berwibawa otoriter dalam wacana Islam (UPA / Rowman dan Littlefield, 2001); Berbicara di Allah Nama: Hukum Islam, Kewenangan dan Perempuan (oneworld Press, Oxford, 2001) dan pemberontakan dan Kekerasan dalam Hukum Islam (Cambridge University Press, 2001).

7. Logika dan Sistematika Penulisan

Penulisan Khaled M. Abou El-Fadl diawali dengan kata pengantar mengenai penjelasan isi buku lalu dilanjutkan dengan menyelami persoalan teks Al-Qur’an dan otoritarianisme sebagai metodologi hermeneutika sebagai topik penelitiannya. Kemudian ia menerangkan pemegang otoritas dalam Islam, selanjutnya peralihan singkat seorang pembaca teks yang telah menggantikan peran pengarang dan teks. Pada bab selanjutnya (bab 4), Khaled menjelaskan tentang teks dan otoritas, kemudian konstruksi otoritarianisme, dilanjutkan anatomi diskursus otoriter, dan di akhir bab 7, khaled melakukan interpretasi terhadap fatwa hukum yang dilakukan oleh CRLO, khususnya fatwa-fatwa tentang wanita, misalnya: pelarangan ikhtilat}(berbaurnya perempuan dan laki-laki dalam satu tempat), perempuan yang bekerja diluar rumah, jilbab, dan lain-lain. Pembahasan buku ini diakhiri dengan kesimpulan, yakni membendung otoritarianisme dan menelusuri pesan moral.

9 .Catatan akhir dan simpulan

Kajian hukum islam oleh khaled abou el-fadl lewat perspektif hermeutik tergolong baru, tidak saja bagi pembaca indonesia, tetapi juga untuk dunia islam pada umumnya. Hermeunetika yang ia coba hadirkan dalam buku ini berbeda kajian hermeneutis yang ditawarkan oleh Fazlur Rahman, bahkan juga berbeda dari Farid Esack dan Nasr Hamid Abu Zaid. Kajian hermeneutikyang ia tawarkan bersifat inter dan multidisipliner, lantaran melibatkan berbagai pendekatan: lnguistik interpretasi ilmu sosial, literary criticim, selain ilmu-ilmu keislaman yang baku mulai dari mushthalah al-hadits, rijal al-hadits, fikih, ushul fikih, tafsir, kalam, yang kemudian dengan humaniora kontemporer.

Daftar Pustaka

El-Fadl, Khaled M. Abou. 2004. Atas Nama Tuhan Dari Fikih Otoriter ke Fikih Otoritatif. (terj.) oleh R. Cecep Lukman yasin. Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta

Faiz, Fahruddin. 2002. Hermeneutika Qur’ani. Yogyakarta: Penerbit Qalam.

Sudarto. 1996. Metedologi Penelitian Filsafat. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada

http://www.yusdani.com. Diunduh tanggal 21 Februri 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s