institusi keluarga sebagai faktor pendukung perkembangan anak.


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Keluarga sebagai pranata sosial pertama dan utama, tidak dapat dipungkiri lagi mempunyai arti paling stategis dalam mengisi dan membekali nilai-nilai kehidupan anak. Meskipun keluarga bukan merupakan satu-satunya pranata yang menata kehidupannya karena selain keluarga masih banyak pranata sosial lainnya yang secara kontributif mempunyai pengaruh dalam pembentukan kepribadian anak.
Rumah tidak hanya dimaknai secara fisik, tetapi lebih ditinjau berdasarkan nilai fungsionalnya dalam membentuk kepribadian anak. Oleh karena itu, kondisi kehidupan rumah tangga haruslah mampu memenuhi fungsi-fungsi kebutuhan keluarga baik pemenuhan fungsi keagamaan, sosial, pendidikan, biologis, ekonomis, keamanan, dan keharmonisan yang terjalin secara terpadu dan selaras.
Ada berbagai masalah dan tantangan kongkret yang muncul dalam setiap kehidupan rumah tangga baik yang sifatnya internal (melekat pada diri para anggotanya dalam segi fisik, mental, ataupun spiritual) maupun eksternal (diciptakan oleh sistem dan kondisi masyarakat). Permasalahan yang timbul juga berbeda di tiap tingkatan keluarga.
Secara global, golongan (tingkatan) keluarga dibagi menjadi tiga yaitu: (1) golongan keluarga yang berada pada tingkatan hidup subsistem (mengalami kemiskinan struktural baik material maupun immaterial), (2) golongan keluarga survival (hidup lebih maju dan berkembang dari pada golongan yang pertama), dan (3) golongan keluarga maju (hidup serba berkecukupan dan penuh kemewahan).
Permasalahan dan krisis keluarga muncul sebagai akibat tidak berfungsinya tugas dan peranan keluarga. Secara sosiologis, keluarga dituntut untuk berperan dan berfungsi mencapai suatu masyarakat sejahtera yang dihuni oleh individu (anggota keluarga) yang bahagia dan sejahtera sehingga keluarga sebagai sebuah komunal terkecil dari struktur makro masyarakat yang mampu memegang peranan penting dan memberikan kontribusi secara langsung terhadap kualitas perkembangan anak.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan masalah dalam makalah ini difokuskan pada:
1. Bagaimanakah urgensi institusi keluarga sebagai faktor pendukung perkembangan anak?
2. Bagaimanakah upaya pemenuhan operasionalisasi fungsi keluarga sebagai bagian integral terhadap perkembangan anak?
3. Apa saja tahap-tahap pendidikan dan kedisiplinan anak?
4. Bagaimanakah peranan pemberian model sanksi dan hadiah sebagai apresiasi atas perlakuan anak?

C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka tujuan penulisan makalah ini adalah:
1. Mengetahui urgensi institusi keluarga sebagai faktor pendukung perkembangan anak.
2. Mengetahui upaya pemenuhan operasionalisasi fungsi keluarga sebagai bagian integral terhadap perkembangan anak.
3. Mengetahui tahap-tahap pendidikan dan kedisiplinan anak.
4. Mengetahui peranan pemberian model sanksi dan hadiah sebagai apresiasi atas perlakuan anak.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Urgensi Institusi Keluarga sebagai Faktor Pendukung Perkembangan Anak.
Pribadi sebagai anggota keluarga, tidak lepas dari ikatan dan nilai-nilai yang hidup dalam keluarga. Keluarga memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap seluruh anggotanya sebab dalam keluarga selalu terjadi interaksi yang sangat bermakna dan paling berkenaan dengan nilai yang sangat mendalam dan intim. Jadi, peranan keluarga berbeda dengan organisasi kemasyarakatan yang lain.
Banyak kalangan mendefinisikan rumah tangga sebagai suatu organisasi atau komunitas sosial yang terbentuk dari hubungan antara pria dan wanita, dimana para anggota rumah tangga itu terdiri dari suami, istri, anak-anak, dan terkadang ditambah kakek,nenek, paman, atau bibi yang hidup bersama-sama berdasarkan rasa saling mencintai, toleransi, menyayangi, menolong, dan bekerjasama.
Umumnya, anggota-anggota dari sebuah rumah tangga memiliki kesamaan tujuan dan cara tertentu dalam mengelola rumah tangga. Cara menangani kehidupan dan kebijakan umum dalam rumah tangga bersumber pada seseorang yang disebut sebagai kepala rumah tangga. Aktifitas sebuah rumah tangga didasarkan pada pembagian tugas, keseimbangan hidup bersama, pembentukan keturunan dan pendidikan, serta mewujudakan ketenangan dan ketentraman.
Para sosiolog menyebut rumah tangga sebagai sebuah benteng pertahanan yang kokoh dan dasar utama dalam pembentukan sebuah masyarakat. Anak-anak yang hidup dalam sebuah keluarga saat ini merupakan individu masyarakat yang akan datang. Dari rumah tangga itulah mereka dapat mengambil pelajaran, baik tentang kehidupan individual maupun kehidupan sosial bermasyarakat. Para sosiolog pun menyatakan bahwa 70 % dasar-dasar kepribadian dan perilaku manusia berkaitan erat dengan masa kanak-kanaknya. Sementara itu, dari penelitian beberapa kasus, para pakar kriminal memperoleh kesimpulan bahwa 92 % dari para pelaku kriminal adalah mereka yang selama masa kanak-kanaknya hidup dalam rumah tangga yang tidak seimbang dan tidak harmonis.
Pendidikan dalam rumah tangga tentang apa yang diajarkan kedua orang tua terhadap anaknya serta lingkungan dan sarana yang disediakan bagi pertumbuhan dan pembinaan anak haruslah mampu mendorong mereka agar memiliki sikap yang taat dan patuh. Rasa kasih sayang serta kelemahlembutan dalam kehidupan berumah tangga akan memberikan ketenangan, ketentraman, mendidik, membentuk akhlak, dan memperbesar tingkat kepatuhan anak.
Begitu pentingnya peranan keluarga dalam mendukung perkembangan anak dalam berbagai permasalahan yang mendasar sehingga Ali Bin Abi Thalib dalam surat beliau kepada Malik al-Asytar mengatakan,”Pilihlah pegawaimu dari orang-orang yang berasal dari rumah tangga yang baik, dan disana mereka mendapatkan pendidikan”(Najm al-Balaghah,surat ke 53).
Karena pentingnya masalah pembentukan kehidupan dalam sebuah rumah tangga, Islam sangat menaruh perhatian yang besar dan menekankan pada masalah pembentukan rumah tangga ini yaitu membentuk rumah tangga yang sakinah mawaddah warahmah sesuai dengan tuntunan al qur’an dan sunnah rosul. Hal ini dapat dilihat dari dua sisi yaitu (1) Islam senantiasa mendukung upaya pembentukan rumah tangga dengan memberikan tuntunan yang jelas, dan (2) Islam selalu menekankan upaya untuk menjaga dan melindungi rumah tangga dari berbagai ancaman dan pengaruh negatif. Salah satunya tentang masalah perceraian. Islam tidak melarang adanya perceraian namun Allah SWT membenci perceraian dan menegaskan dalam al qur’an bahwa “perdamaian adalah lebih baik”.

B. Upaya Pemenuhan Operasionalisasi Fungsi Keluarga sebagai Bagian Integral Terhadap Perkembangan Anak.
Seperti apa yang telah dipaparkan sebelumnya, rumah tangga dituntut untuk mampu memenuhi fungsinya baik dari segi keagamaan, sosial, pendidikan, biologis, ekonomis, keamanan, dan keharmonisan yang terjalin secara terpadu dan selaras. Secara sosiologis, keluarga juga dituntut untuk berperan dan berfungsi mencapai suatu masyarakat sejahtera yang dihuni oleh individu (anggota keluarga) yang bahagia dan sejahtera pula. Oleh karena itu, maka suatu kehidupan rumah tangga yang baik merupakan sebuah keluarga yang dapat memenuhi fungsi dan peranannya dengan sangat optimal.
Pendidikan anak pada dasarnya adalah tanggung jawab orang tuanya. Karena keterbatasan kemampuan orang tua, maka perlu adanya seseorang atau sebuah lembaga yang membantu orang tua dalam pendidikan anak-anaknya terutama dalam mengajarkan berbagai disiplin ilmu dan keterampilan yang selalu berkembang dan dituntut pengembangannya demi kepentingan manusia.
Ada orang tua yang tidak mengenal cara mendidik anak selain bahasa kekerasan. Sebaliknya, ada pula orang tua yang terlalu lunak dalam mendidik anak, longgar dan terlalu memberi kebebasan. Sedikit sekali orang tua yang mengerti dan bisa memposisikan diri untuk memilih jalan pertengahan antara kedua tipe tersebut. Cara kekerasan yang digunakan sebagai satu-satunya metode pendidikan, bisa menimbulkan tekanan dan pukulan psikologis dalam jiwa serta mental anak. Tapi disisi lain, cara yant terlalu lunak dalam mendidik anak dan memberikan kebebasan tanpa batas secara berlebihan dengan memanjakan anak serta menuruti semua keinginannya akan menimbulkan keburukan dalam pembentukan pribadi anak.
Pandangan moderat berada diantara dua sikap dan cara pendidikan tersebut. Terkadang cara keras juga bisa dipakai sebagai salah satu pendekatan, tetapi bukan satu-satunya pilihan. Jika harus menggunakan pukulan atau kekerasan sebagai hukuman terhadap kesalahan anak maka cara ini hanyalah sebagai solusi terakhir setelah ada pilihan lain. Pandangan moderat juga percaya bahwa memberi kebebasan adalah salah satu metode pendidikan anak. Namun, tetap harus ada batas-batasnya sesuai dengan prinsip-prinsip akhlak dan nilai-nilai luhur. Disini orang tua mempunyai peranan penting untuk memberi bimbingan dan pengawasan.
Setiap individu anak dan orang dewasa selalu memiliki kebutuhan-kebutuhan tertentu yang bersifat vital biologis dan human kultur sosial untuk mempertahankan hidupnya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut menuntut agar dipenuhi agar tidak terjadi ketegangan batin (konflik-konflik batin) dan frustasi. Sehubungan dengan ini, setiap individu senantiasa berusaha menyingkirkan dan mengatasi semua rintangan yang menghambat pelaksanaan pemenuhan kebutuhan tadi.
Upaya pemenuhan operasionalisasi fungsi keluarga dapat terwujud dengan baik jika kewajiban suami istri terhadap keluarganya dapat dilaksanakan dengan optimal. Kewajiban yang harus dilakukan bersama-sama tersebut antara lain:
a. Mempunyai niat yang ikhlas dalam berkeluarga.
b. Menerima keadaan dan hasil usaha masing-masing apa adanya sehingga bias menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing. Namun demikian, harus tetap diupayakan agar kelebihannya dapat tetap dipertahankan dan kekurangannya dapat dikurangi.
c. Saling membantu dalam menunaikan tugas dan kewajiban terlebih dalam kewajiban bagi keduanya dalam mendidik dan membina kepribadian anak-anaknya, pemenuhan kebutuhan anak juga menjadi hal yang penting dalam kehidupan rumah tangga. Kebutuhan biologis, ekonomis, pendidikan, keamanan, hiburan dan sosial harus tetap diperhatikan agar bisa berjalan dengan harmonis dan seimbang.
d. Membiasakan saling terbuka dan menjalin adanya komunikasi sehingga setiap permasalahan yang timbul baik internal maupun eksternal dapat diselesaikan secara bersama-sama.
e. Menghidupkan suasana keagamaan dalam keluarga.

C. Tahap-tahap Pendidikan dan Kedisiplinan Anak.
Aristoteles (384-322 S.M) membagi masa perkembangan selama 21 tahun dalam tiga fase (tiga periode kali tujuh tahun) yang dibatasi oleh dua gejala alamiah yang penting yaitu (1) pergantian gigi, dan (2) munculnya gejala-gejala pubertas. Pembagian tersebut adalah:
a. Usia 0-7 tahun disebut sebagai masa anak kecil atau masa bermain.
b. Usia 8-14 tahun disebut masa anak-anak, masa belajar, atau masa sekolah rendah.
c. Usia 15-21 tahun disebut masa remaja atau pubertas yaitu masa peralihan dari anak menjadi dewasa.
Secara umum, para ahli menggolongkan periodisasi anak menjadi tiga macam, yaitu:
a. Periodisasi berdasar biologis yaitu berdasarkan umur anak seperti pada pengklasifikasian yang dipaparkan oleh Aristoteles.
b. Periodisasi berdasar didaktis yaitu penggolongan mempertimbangkan tentang apa yang akan diberikan kepada anak-anak pada masa-masa tertentu dan bagaimana mendidiknya.
c. Periodisasi berdasar psikologis.
Setelah proses kelahiran, proses pendidikan harus mulai dijalankan secara serius dan berkesinambungan. Para ahli psikologi anak sangat menekankan pendidikan anak pada masa-masa pertama kehidupan mereka dengan beberapa alasan antara lain (1) pembentukan kepribadian sangat ditentukan pada masa kanak-kanak, (2) masa ini merupakan masa peletakan dasar-dasar pembelajaran kehidupan, dan (3) masa ini merupakan masa peletakan dasar-dasar akhlak . Pendidikan anak pada tahap awal harus dilakukan dengan baik dan benar. Usaha membina dan mendidik anak pada tahap ini harus dilakukan sendiri oleh para ibu.Usaha ini diawali dengan pemenuhan gizi yang baik yaitu dengan pemberian ASI dan pemenuhan kebutuhan kesehatan lainnya.
Anak-anak yang berusia antara tiga sampai enam tahun memiliki rasa keingintahuan yang sangat tinggi. Mereka sangat ingin mengenal dan mengetahui segenap persoalan hidup. Jika bermaksud menyampaikan informasi dan pengetahuan kepada anak, seorang ibu dalam menjawab pertanyaan yang diajukan anak hendaknya menyesuaikan dengan tingkat kemampuan dan pemahamannya.
Tahap selanjutnya merupakan pendidikan pada masa kanak-kanak dan remaja. Pada tahap ini, seorang anak mulai memasuki dunia barunya dan menyibukkan diri dengan dunia persahabatan, sekolah, dan gurunya. Pada akhir fase ini, anak mulai memasuki dunia remaja. Pada tahap ini anak memiliki dunianya sendiri. Pada masa inilah mulai muncul gejolak-gejolak kedewasaan dan anak berada dalam tahap kelabilan. Oleh karena itu, orang tua harus tetap memperhatikan pergaulan anaknya. Dalam fase ini anak telah mampu berinteraksi dengan lingkungan luar sehingga pengawasan dan bimbingan yang baik dari orang tua sangat diperlukan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dalam perkembangan anak di tahap selanjutnya dan tujuan yang diharapkan oleh kedua orang tua dapat tercapai.
Pembinaan pada fase ini tidak hanya harus dilakukan oleh para ibu tetapi sosok seorang ayah juga mempunyai peran yang sangat penting. Pemberian waktu luang untuk bisa berkumpul bersama keluarga dan saling berkomunikasi dapat membentuk, membina serta mengarahkan anak pada tujuan yang diharapkan orang tuanya.
Pada tahap ini, orang tua harus mulai membebankan tugas dan tanggung jawab kepada anak-anak sesuai dengan kemampuan dan kapasitas masing-masing. Hal ini dimaksudkan agar anak mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan kehidupannya. Pemberian perintah dan larangan pun mulai diterapkan. Namun, orang tua harus tetap memperhatikan kesiapan anak untuk menerima perintah dan larangan tersebut. Karena ketika orang tua salah dalam menerapkan hal tersebut maka anak akan mengalami hal-hal yang tidak diinginkannya seperti merasa tertekan dan diperlakukan tidak adil. Kondisi ini akan membuat seorang anak cenderung akan menjadi suka membantah dan tidak lagi memperdulikan perintah atau larangan yang diberikan.
Seperti yang telah dipaparkan dalam pembahasan diawal bahwa figur seorang ibu dan ayah harus mampu menjadi suri tauladan (uswah hasanah) utama bagi anak-anaknya. Masa baligh merupakan masa yang sangat sensitif dan rawan bagi kehidupan anak. Perubahan yang terjadi pada tubuhnya secara berangsur-angsur mempengaruhi jiwa dan perilakunya.
Pada masa ini, anak-anak perlu mendapatkan pengawasan dan perhatian yang lebih serius yang berkenaan dengan bentuk hubungan mereka dengan sesama, waktu tidur serta istirahat, teman bergaul dan seterusnya. Tempat tidur mereka harus dipisah dan perlu diusahakan agar mereka senang berada di rumah serta memiliki hubungan yang baik denga sesama anggota keluarga. Kedua orang tua diharapkan mampu bersikap bijak dan memberikan dukungan pada anak, tidak terlalu menekan dan memaksa anak. Hal ini dilakukan untuk menumbuhkan keberanian anak.
Dalam islam, pendidikan orang tua terhadap anaknya ditampilkan dalam sosok Luqmanul Hakim sebagaimana terdapat dalam al qur’an surat Luqman ayat 12-19. Pendidikan yang diajarkan dalam surat ini meliputi:
1. Pembinaan Jiwa Orang Tua.
Dalam al qur’an surat Luqman ayat 12 Allah SWT berfirman:
             
  •    
Artinya:
Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”.
Luqmanul Hakim yang ditampilkan oleh Allah SWT sebagai seorang bapak yang mampu mendidik dan membina kepribadian anaknya menjadi manusia yang beriman, berakhlak mulia dan taat beribadah memerlukan sifat-sifat kepribadian yang menunjang hal itu. Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa Allah SWT telah memberikan hikmat (keistimewaan) kepada beliau yang berupa kebijaksanaan, yaitu kepribadian yang bersyukur kepada Allah dan tidak lupa kepada-Nya . Rumah tangga merupakan pusat kasih sayang dan pengorbanan. Seorang ayah dan ibu merupakan simbol dan keteladanan yang tanpa pamrih dan senantiasa mencurahkan kasih sayang kepada anak-anaknya. Menurut Heri Jauhari, salah satu metode pendidikan yang dianggap besar pengaruhnya terhadap keberhasilan proses belajar mengajar adalah metode pendidikan dengan keteladanan (Uswah Hasanah). Metode keteladanan yaitu suatu metode pendidikan dengan cara memberikan contoh yang baik kepada para peserta didik, baik dalam ucapan maupun perbuatan . Ditinjau dari sifatnya, metode keteladanan dibagi menjadi dua macam yaitu:
a. Keteladanan yang disengaja
Peneladanan kadangkala diupayakan dengan cara sengaja, yaitu pendidik sengaja memberi contoh yang baik kepada peserta didiknya supaya dapat menirunya. Contohnya, seorang ibu mengajarkan makan dengan tangan kanan, membaca basmallah dan hamdallah ketika menolong anak waktu makan dan minum, berganti pakaian, buang air, membersihkan rumah, dan seorang ayah mengajarkan tata cara sholat yang sempurna dengan membaikkan sholatnya, mengajarinya berwudhu, dan membaca al quran.
b. Keteladanan yang tidak disengaja
Bentuk keteladanan semacam ini keberhasilannya banyak bergantung pada kualitas kesungguhan realitas karakteristik pendidikan yang diteladani, seperti kualitas keilmuan, kepemimpinan, dan keikhlasan. Dalam kondisi pendidikan seperti ini, pengaruh teladan berjalan secara langsung tanpa disengaja. Oleh karena itu, orang tua diharapkan bisa memelihara tingkah lakunya disertai kesadaran bahwa ia bertanggung jawab dihadapan Allah dalam segala hal yang diikuti oleh anaknya.
2. Pembinaan Iman dan Tauhid.
Dalam surat Luqman ayat 13 Allah berfirman:
            
  
Artinya:
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.
Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa pembinaan iman dan tauhid sangatlah penting dan hal ini bias dilakukan dengan kata-kata. Namun, dalam memberikan pembinaan tersebut orang tua harus mampu menentukan waktu yang tepat misalnya ketika sang anak berusia 12 tahun sebab kemampuan untuk memahami hal-hal yang abstrak (maknawi) terjadi pada waktu perkembangan kecerdasan telah sampai pada tahap mampu memahami hal-hal diluar jangkauan alat-alat inderanya sehingga diperlukan kemampuan untuk mengambil kesimpulan yang abstrak dari kenyataan yang diketahui. Pertumbuhan kecerdasan anak sampai umur 6 tahun masih terkait dengan alat inderanya sehingga anak pada usia ini dikatakan masih berpikir inderawi. Pembentukan iman seharusnya dimulai sejak dalam kandungan sejalan dengan pertumbuhan kepribadian. Berbagai hasil penelitian pakar kejiwaan menunjukkan bahwa janin yang dalam kandungan telah mendapat pengaruh dari sikap dan emosi ibu yang mengandungnya .
3. Pembinaan Akhlak.
Akhlak adalah implementasi dari iman dalam segala bentuk perilaku. Diantara contoh akhlak yang diajarkan oleh Luqman kepada anaknya sebagaimana yang tergambarkan dalam ayat 14, 15, 18, dan 19 adalah:
a. Akhlak kepada kedua orang tua.
Sebagaimana firman Allah dalam surat Luqman ayat 14 dan 15:
     •     
           
             
•             
Artinya:
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu (14). Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan (15).”
Ayat ini diperkuat lagi dengan surat al-Israa’ ayat 23:
       •  •   
             
Artinya:
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”.
Kedua ayat ini menjelaskan dengan sangat detail mengenai tata krama bergaul dengan orang tua. Ayat tersebut menjelaskan betapa bersusahpayahnya seorang ibu ketika mengandung dan melahirkan anaknya, sementara seorang bapak sibuk mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan keluarganya. Karena sangat besar pengorbanan kepada anaknya maka mengucapkan kata ah saja kepada orang tua tidak dibolehkan oleh agama apalagi mengucapkan kata-kata atau memperlakukan mereka dengan lebih kasar daripada itu.
b. Akhlak terhadap orang lain.
Pada ayat 18-19 surat Luqman Allah berfirman:
   ••  •   •  •    •
          •  
  
Artinya:
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri (18). Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai (19)”.
Dari ayat ini dapat dipahami bahwa adab dan sopan santun dalam bergaul yaitu tidak sombong dan tidak angkuh, berjalan dengan sikap yang sederhana, serta bertutur kata dengan lemah lembut. Dengan demikian, rumah tangga memiliki pengaruh dan peran yang sangat besar dalam membentuk dan membina berbagai sisi kemanusiaan. Dapat pula dikatakan bahwa rumah tangga berada pada posisi puncak dalam upaya pembentukan pribadi. Kebaikan dan keburukan individu berasal dan bersumber dari kehidupan rumah tangga dan rumah tangga merupakan akar dari berbagai sifat anak.
4. Pembinaan Ibadah.
Pembinaan ketaatan beribadah pada anak juga dimulai dalam keluarga. Dalam surat Luqman ayat 17 Allah menggambarkan bagaimana Luqman menyuruh anaknya shalat dan bersabar dalam menghadapi cobaan yang menimpa. Pelaksanaan perintah tersebut bagi anak-anak dapat dilakukan dengan persuasi, mengajak, dan membimbingnya.
5. Pembinaan Kepribadian dan Sosial Anak.
Rumah tangga memiliki pengaruh yang sangat signifikan dalam membentuk kepribadian manusia, serta membangkitkan semangat hidup dan ketenangan jiwanya. Pada dasarnya, rumah tangga merupakan faktor utama dimana kepribadian seseorang akan tumbuh dan berkembang. Kebiasaan, kecenderungan, kemarahan, ketenangan, dan pemikiran yang sejalan dengan kehidupan sosial sebagian besar bersumber dari kehidupan rumah tangga . Manusia mempunyai tiga hubungan yaitu hubungan dengan Allah (habluminallah), hubungan dengan sesama manusia dalam lingkungan kemasyarakatan (habluminannas), dan hubungan dengan alam disekitarnya (habluminalalam). Dengan pendidikan semacam ini diharapkan anak memiliki wawasan kemasyarakatan dan mereka dapat hidup serta berperan serta aktif di masyarakat sehingga relasi dan komunikasi dalam kehidupan bermasyarakat dapat tercipta dengan baik.
Masalah kedisiplinan anak harus diperhatikan sejak bulan pertama kelahiran anak. Sudah semestinya para orang tua, khususnya ibu tidak menunda-nunda masalah pembinaan dan perbaikan anak-anaknya. Sewaktu masih hidup, ayahlah yang memegang kendali penegakan kedisiplinan dalam rumah tangga. Namumn, setelah ia tiada, maka tugas menjaga dan memperhatikan kedispilinan tersebut menjadi tanggung jawab ibu.
Istilah kedisiplinan memiliki makna yang beragam. Antara lain, penertiban dan pengawasan diri, penyesuaian diri terhadap aturan, kepatuhan terhadap perintah pimpinan, penyesuaian diri terhadap norma-norma kemasyarakatan, dan lain-lain. Meskipun begitu, pada praktiknya harus dilaksanakan secara proporsional.
Dalam lingkungan keluarga dan masyarakat, kedisiplinan bermakna penyesuaian sikap dan tingkah laku terhadap suatu bentuk undang-undang dan kaidah-kaidah kehidupan bersama.
Dalam institusi keluarga, masing-masing anggota keluarga menjalankan peran dan tugasnya sesuai dengan batas usia, kemampuan, dan tingkat pemikiran masing-masing. Seorang anak membutuhkan sistem pemerintahan dan nilai-nilai keadilan. Dalam mendidik anak agar disiplin, para pendidik sedapat mungkin menjauhkan diri dari keinginan untuk melampiaskan kejengkelan atau unjuk kekuatan dan kekuasaan. Dalam hal ini, terutama kaum ibu harus membiasakan anak-anaknya hidup dalam aturan dan kedisiplinan agar nantinya dalam kehidupan bermasyarakatnya ia mampu untuk tetap berdisiplin.
Pada hakekatnya, kedisiplinan berbeda dengan tatatertib. Tatatertib lebih dimaksudkan sebagai sarana untuk membentuk kehidupan yang didasari oleh ide-ide tertentu. Sementara kedisiplinan merupakan bentuk pejagaan dan pelanggengan pelaksanaan tatatertib tersebut. Tatatertib juga merupakan sebuah medium bagi proses pendidikan sekaligus penyebab tumbuhnya kedisiplinan dalam berperilaku. Tatatertib tidak bersifat permanen dan langgeng sehingga dapat berubah-ubah sesuai dengan kondisi sehingga muncullah tatatertib yang baru.
Maksud pembiasaan kedisiplinan pada anak adalah untuk mengantarkan anak meraih kehidupan anak yang sehat dan bermanfaat. Dengan berpegang teguh pada aturan dan tatatertib, seorang anak akan dapat memanfaatkan tenaga dan kemampuannya dalam proses pertumbuhan dan perkembangan dirinya. Dengan demikian, orang tua harus memberlakukan undang-undang yang berorientasi untuk membimbing anak dalam menjalani kehidupannya dan siap berperan aktif dalam dunia kemasyarakatan, mampu mengontrol emosinya serta senantiasa berada dalam koridor aturan dan tatatertib.
Syariat islam memiliki berbagai tuntunan dan ajaran yang dapat dijadikan pedoman dan tuntunan untuk mewujudkan kedisiplinan anak. Tutunan-tuntunan tersebut terdapat dalam al quran dan sunnah nabi Muhammad. Dari semuanya itu dapat diambil kesimpulan bahwa:
a. Kedisiplinan harus disesuaikan dengan usia dan tingkat pemahaman anak-anak. Hal ini dimaksudkan agar mereka tidak merasa berat dan terbebani.
b. Kedisiplinan harus rasional dan dilandasi logika yang kuat sehingga dapat dipahami oleh sang anak.
c. Kedisiplinan harus sesuai dengan pertumbuhan anak agar kedisiplinan yang diterapkan tidak menghambat serta mengganggu pertumbuhan jasmani, rohani, dan emosinya.
d. Kedisiplinan harus berorientasi pada hak-hak anak bukan melenyapkan atau mengabaikannya.
e. Dasar-dasar kedisiplinan harus terang, jelas dan stabil agar anak mengetahui cara mengambil sikap dan mempraktikkannya dalam kehidupan.
f. Isi yang berkenaan dengan kedisiplinan jangan terlalu berlebihan atau kekurangan. Hal ini dapat membuat anak menjadi kebingungan dan tidak mengetahui apa yang semestinya dikerjakan.
g. Perintah kedisiplinan dalam lingkungan rumah tangga harus terpusat ditangan satu orang. Dalam hal ini, anak hanya wajib menjalankan perintah dari ayah dan ibunya saja. Adapun anggota keluarga yang lain tidak berhak mengeluarkan perintah dan larangan apapun kepadanya.
Dalam proses pelaksanaan dasar-dasar kedisiplinan dan berbagai program pendidikan diperlukan suatu cara dan teknik yang tepat. Mengetahui dan mendalami cara-cara yang berkaitan dengan pendidikan tentunya sangat membantu usaha pendidikan dan semakin memperjelas tanggung jawab para ibu terhadap anaknya.
Pelaksanaan kedisiplinan dimaksudkan demi kebaikan dan kemaslahatan anak. Oleh karena itu, orang tua harus memahami dasar-dasar pelaksanaan pendidikan yang diperlukan, diantaranya:
a. Membimbing dan mengarahkan anak agar mengetahui alasan tentang keharusan berbuat ini dan itu .
b. Dalam menegakkan kedisiplinan, selin dengan sikap yang lemah lembut juga dituntut untuk berikap tegas.
c. Selalu berusaha untuk menjaga perasaan sang anak.
d. Memperhatikan akhlak dan sopan santun.
e. Janganlah melecehkan atau mencela anak ketika telah berbuat salah. Jika anak telah berbuat salah maka orang tua harus menasehati dan memberikan bimbingan dengan tetap menjaga perasaan anak.
Dalam melakukan pendidikan dan menerapkan kedisiplinan pada anak, terdapat hal-hal yang perlu dihindari oleh orang tua antara lain:
a. Menghindari melontarkan sindiran yang jelas.
b. Menghindari memberikan perintah dan larangan yang berlebihan.
c. Menghindari perbuatan mencemooh dan memaki sang anak.
d. Menghindari melakukan kekerasan pada anak seperti memukul dan menampar anak sebagai hukuman jika anak melakukan kesalahan.

D. Peranan Pemberian Model Sanksi dan Hadiah sebagai Apresiasi Atas Perlakuan Anak.
Imbalan atau tanggapan terhadap orang lain terdiri dari dua hal yaitu penghargaan atau hadiah (reward/targhib) dan hukuman atau sanksi (punishment/tarhib). Hukuman atau sanksi dapat diambil sebagai metode pendidikan apabila terpaksa atau tidak ada alternatif lain yang bisa diambil.
Agama islam memberikan arahan dalam memberikan hukuman terhadap anak yaitu hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a. Menghindari diri dari memberikan hukuman ketika dalam kondisi marah karena pemberian hukuman ketika marah akan lebih bersifat emosional.
b. Menghindari menyakiti perasaan dan harga diri anak.
c. Menghindari perilaku merendahkan derajat dan martabat anak misalnya dengan menghina atau mencacinya di depan orang banyak.
d. Menghindari tindakan menyakiti secara fisik, misalnya menampar, memukul atau menarik kerah bajunya.
e. Pemberian hukuman ini bertujuan mengubah perilaku anak yang kurang baik.
Pemberian penghargaan atau hadiah atas perilaku terpuji atau prestasi yang dicapai anak akan memberikan motivasi tersendiri pada perkembangan kepribadian anak. Menurut B. F. Skiner, kepribadian dapat dipahami dengan mempertimbangkan perkembangan tingkah laku dalam hubungannya yang terus menerus dengan lingkungannya. Cara yang efektif untuk mengubah dan mengontrol tingkah laku adalah dengan melakukan reirfoncement atau penguatan yaitu kegiatan yang membuat tingkah laku tertentu berpeluang untuk terjadi atau sebaliknya (berpeluang untuk tidak terjadi) pada masa yang akan datang. Konsep dasarnya sangat sederhana yaitu bahwa semua tingkah laku dapat dikontrol oleh konsekuensi (dampak yang mengikuti) tingkah laku itu. Berdasarkan pada “cara kerja yang menentukan (operant conditioning)”, ia menegaskan bahwa perilaku yang diikuti oleh stimulan-stimulan penggugah (pemberian hadiah, pujian) memperbesar kemungkinan dilakukannya lagi perilaku tersebut di masa-masa yang selanjutnya sedangkan perilaku yang tidak lagi diikuti oleh stimulan-stimulan penggugah memperkecil kemungkinan dilakukannya perilaku tersebut dimasa-masa selanjutnya . Misalnya, memberikan hadiah ketika anak naik kelas dengan prestasi yang sangat memuaskan. Hal ini akan mendorong anak untuk berusaha tetap rajin belajar dan mempertahankan prestasinya. Selain itu, pemberian hadiah ini akan membuat anak merasa dihargai kerja kerasnya sehingga ia akan merasa lebih diperhatikan dalam keluarganya, semakin menghormati kedua orang tuanya dan semakin menjunjung tinggi nilai-nilai yang berlaku dalam keluarganya.
Pemberian hadiah juga tidak bisa seterusnya dilakukan. Oleh karena itu, perlu adanya kedisiplinan dalam sikap sehingga anak terbiasa melakukan hal-hal yang positif tanpa mengharapkan adanya imbalan atau hadiah. Namun, hadiah tetap dianggap sebagai stimulus yang bisa membangkitkan semangat bagi perkembangan anak.
Lain halnya dengan memberikan hukuman jika anak melakukan kesalahan, para orang tua hendaknya memberikan pengertian tentang alasan mengapa dia dihukum dan bahaya atas perbuatannya itu bukan semata-mata menghukumnya tanpa memberikan penjelasan. Hal ini dimaksudkan agar anak bisa memahami dan mengerti kesalahannya dan tidak lagi mengulanginya.

BAB III
PENUTUP

Keluarga memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap seluruh anggotanya sebab dalam keluarga selalu terjadi interaksi yang sangat bermakna dan paling berkenaan dengan nilai yang sangat mendalam dan intim. Pribadi sebagai anggota keluarga, tidak lepas dari ikatan dan nilai-nilai yang hidup dalam keluarga.
Rumah tangga dituntut untuk mampu memenuhi fungsinya baik dari segi keagamaan, sosial, pendidikan, biologis, ekonomis, keamanan, dan keharmonisan yang terjalin secara terpadu dan selaras. Secara sosiologis, keluarga juga dituntut untuk berperan dan berfungsi mencapai suatu masyarakat sejahtera yang dihuni oleh individu (anggota keluarga) yang bahagia dan sejahtera pula. Upaya pemenuhan operasionalisasi fungsi keluarga dapat terwujud dengan baik jika kewajiban suami istri terhadap keluarganya dapat dilaksanakan dengan optimal.
Dalam melaksanakan pendidikan dan kedisiplinan anak, orang tua harus memperhatikan usia dan kesiapan mental dan psikis anak. Dalam islam, pendidikan orang tua terhadap anaknya ditampilkan dalam sosok Luqmanul Hakim sebagaimana terdapat dalam al qur’an surat Luqman ayat 12-19.
Pemberian penghargaan atau hadiah atas perilaku terpuji atau prestasi yang dicapai anak akan memberikan motivasi tersendiri pada perkembangan kepribadian anak sedangkan dalam memberikan hukuman jika anak melakukan kesalahan, para orang tua hendaknya memberikan pengertian tentang alasan mengapa dia dihukum dan bahaya atas perbuatannya itu bukan semata-mata menghukumnya tanpa memberikan penjelasan. Hal ini dimaksudkan agar anak bisa memahami dan mengerti kesalahannya dan tidak lagi mengulanginya.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Bilali, Syaikh Abdul Hamid Jasim. 2000. Seni Mendidik Anak. Jakarta: Al-I’tishom Cahaya Umat.
Boeree, George. 2006. Personality Theories Melacak Kepribadian Anda Bersama Psikolog Dunia. Jogjakarta: Prismasophie.
Kartono, Kartini. 1995. Psikologi Anak (Psikologi Perkembangan). Bandung: Penerbit Mandar Maju.
Muchtar, Heri Jauhari. 2005. Fikih Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Qaimi, Ali. 2002. Menggapai Langit Masa Depan Anak. Bogor: Cahaya.
Rakhmat, Jalaluddin dan Muhtar Gandaatmaja. 1993. Keluarga Muslim dalam Masyarakat Modern. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Suryabrata, Sumadi. 2002. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

One thought on “institusi keluarga sebagai faktor pendukung perkembangan anak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s