ANALISIS FATWA MUI MENGENAI NIKAH MUT’AH


MUI sebagai organ dari pemerintahan Indonesia berfungsi sebagai pengayom segala macam aspirasi masyarakat islam khususnya untuk memberikan saran-saran, fatwa terhadap gejala-gejala fenomena yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam hal ini, tentunya sikap yang fleksibel dan mampu mensitesakan pendapat lintas madzhab maupun lintas kelompok islam agar tercipta suatu bentuk apresiasi toleransi yang tinggi terhadap pluralitas pemahaman.
Mengenai nikah mut’ah, dengan keputusan haram, keputusan ini rasanya perlu ditinjau ulang bahwa islam yang pertama kali datang di Indonesia adalah (disinyalir) di indikasikan islam syi’ah. Pada awal perjalanan Islam, nikah mut’ah memang dihalalkan, sebagaimana yang tercantum dalam banyak hadits diantaranya:
Hadits Abdullah bin Mas’ud: “berkata: Kami berperang bersama Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sedangkan kami tidak membawa istri istri kami, maka kami berkata bolehkan kami berkebiri? Namun Rasululloh melarangnya tapi kemudian beliau memberikan kami keringanan untuk menikahi wanita dengan mahar pakaian sampai batas waktu tertentu”. (HR. Bukhari 5075, Muslim 1404).
Hadits Jabir bin Salamah: “Dari Jabir bin Abdillah dan Salamah bin ‘Akwa berkata: Pernah kami dalam sebuah peperangan, lalu datang kepada kami Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan berkata: Telah diizinkan bagi kalian nikah mut’ah maka sekarang mut’ahlah”. (HR. Bukhari 5117).
Namun hukum ini telah dimansukh dengan larangan Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk menikah mut’ah sebagaimana beberapa hadits diatas. Akan tetapi para ulama berselisih pendapat kapan diharamkannya niakh mut’ah tersebut dengan perselisihan yang tajam, namun yang lebih rajih-Wallahu a’lam- bahwa nikah mut’ah diharamkan pada saat fathu makkah tahun 8 Hijriyah. Ini adalah tahqiq Imam Ibnul Qoyyim dalam zadul Ma’ad 3/495, Al-Hafidl Ibnu Hajar dalam fathul bari 9/170, Syaikh Al-Albani dalam irwaul Ghalil 6/314.
Telah datang dalil yang amat jelas tentang haramnya nikah mut’ah, diantaranya:
Hadits Ali bin Abi Thalib Radiyallahu ‘anhu: “Dari Ali bin abi Thalib berkata: Sesungguhnya Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang nikah mut’ah dan memakan daging himar jinak pada perang khaibar” (HR. Bukhari 5115, Muslim 1407).
Hadits Sabrah bin Ma’bad Al-Juhani Radiyallahu ‘anhu: “berkata:Rasululloh Shallallahu ‘alahi wa sallam memerintahkan kami untuk nikah mut’ah pada waktu fathu makkah saat kami masuk Makkah kemudian beliau melarang kami sebelum kami keluar dari makkah. Dan dalam riwayat lain: Rasululloh bersabda: Wahai sekalian manusia, sesunggunya dahulu saya telah mengizinkan kalian nikah mut’ah dengan wanita. Sekarang Alloh telah mengharamkannya sampai hari kiamat, maka barangsiapa yang memiliki istri dari mut’ah maka hendaklah diceraikan” (HR. Muslim 1406, Ahmad 3/404).
Hadits Salamah bin Akhwa Radiyallahu ‘anhu: “berkata:Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan keringanan keringanan untuk mut’ah selama tiga hari pada perang authos kemudian melarangnya” (HR. Muslim 1023).
Dilain hal dengan mengatasnamakan mayoritas sunny, dan memarjinalkan syi’ah sebagai aliran islam yang kurang benar, hal ini merupakan sikap kekanak-kanakan sekalipun notabene bahwa saya adalah seorang sunni, yang juga sependapat dengan apa yang dikeluarkan oleh MUI. Tapi dilain hal, perlu dikaji ulang prihal nikah mutah dikalangan syi’ah.
Apakah pernikahan mut’ah (yang dikatakan menyimpang) sesuai dengan prosedur dengan prosedur dan tujuan nikah mut’ah syi’ah?
Kiranya lebih adil jika penyimpangan pernikahan (mut’ah) ini tidak diatas namakan bagian dari syi’ah karena para pelakunya notabene adalah orang-orang sunny yang mecari-cari kemudahan (kenikmatan) dengan mensintesakan madzhab (dalam rana prosedur, bukan tujuan dan kemanfaatan).
Titik akhir yang harus ditekankan, adalah bahwa MUI sebagai organ dari pemerintah guna mengayomi masyarakat dengan pluralisme pemahaman keagamaan. Bukan malah memarjinalkan sebagai sampah yang tidak layak diikuti.
Kritik metode
– penggunaan kaedah fiqhiyah sudah benar dengan berlandaskan dalil yang tertera. Tapi dengan berlandaskan undang-undang perkawinan No 1 tahun 1974 hanya bisa menjasmen kesalahan tersebut dan tidak dapat mensikronisasikan dengan dalil-dalil tersebut diatas.
– Metode yang dipakai sistematis dan cukup bagus (prespectif sunny).
– Kurangnya dalil perbandingan antara dua aliran antara sunni dan syiah sebagaimana telah ditambahkan diatas.
Catatan :
– perlu adanya tambahan interpretasi terhadap dalil yang dikeluarkan oleh MUI
– bahwasanya MUI masih banyak didekte oleh pemerintah oleh karena itu seringkali keputusan yang dikeluarkan oleh MUI sering kali ikut-ikutan apa yang tidak dikehendakli oleh pemerintah
– perlu dicarikan titik temu antara dua alairan yang berbeda supaya perselisishan antara keduanya bisa diminimalisir.
Tanggapan:
– bahwa MUI ikut menjaga masa depan masyrakat Indonesia pada umumnya umat islam pada khususnya karena sesuatu perkara yang nantinya dicatatkan pada pemerintah maka akan mempermudah bagi mereka yang mengalami masalh tersebut untuk menguruskannya.
– Seharusnya MUI menyoroti nikah mut’ah bukan hanya dari sudut dogmatik teologis semata, melainkan juga dari aspek dampak yang ditimbulkannya di lapangan. Dengan perkataan lain, pengujian legalitas nikah mut’ah tidak melulu di ranah teologis, melainkan yang jauh lebih mengena adalah di lapangan kehidupan. Misalnya, seberapa jauh nikah mut’ah dapat memberikan kemaslahatan, tentu bukan hanya terhadap laki-laki tetapi juga terhadap perempuan. Termasuk kerugian apa saja yang dimungkinkan muncul jika nikah mut’ah dilangsungkan. Akhirnya, jika nikah mut’ah mengandung kemaslahatan, maka ia jelas absah dan boleh diselenggarakan. Sebaliknya, jika nikah mut’ah telah terbukti secara empiris menimbulkan kemafsadatan, maka betapapun tangguhnya dalil-dalil teologis yang dihadirkan sesungguhnya ia (nikah mut’ah) telah kehilangan legalitas dan keabsahannya. Wallahu A’lam bi al-Shawab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s