Sayyid Amir


A. PENDAHULUAN
Pada masa periode pertengahan, kerajaan-kerajaan islam terbagi menjadi tiga kerajaan besar, salah satunya adalah kerajaan Mughal yang berpusat di India dengan ibukota Delhi. Kerajaan Mughal memegang kekuasaan dalam masa yang cukup panjang, yakni sekitar tiga setengan abad. Namun masa perkembangan dan kejayaanya hanya dapat dipertahankan sekitar satu abad, yakni sampai masa Raja Auranzeb (1658-1707M). Setelah itu Mughal mengalami kemunduran dan kehancuran. Beberapa faktor yang menjadi penyebab kemunduran Mughal yakni, 1) Perebutan kekuasaan antar keluarga penguasa. 2) Pemberontakan oleh umat hindu. 3) Serangan dari kerajaan luar, seperti kerajaan Persia san Afghanistan. 4) Kelemahan dibidang ekonomi yang mengakibatkan persaingan perdagangan antar India dengan Inggris, Portugis dan Perancis yang kemudian Imperalis Inggris menguasai negara India.
Di waktu Inggris telah mulai menanam kekuasaanya di India dan kemajuan peradaban Barat telah mulai dirasakan rakyat India, baik yang beragama Islam atau Hindu. Tetapi diantara kedua umat tersebut orang-orang Hindulah yang lebih banyak dipengaruhi oleh peradaban baru itu, sehingga orang Hindu lebih maju dari orang Islam dan lebih banyak bekerja di kantor-kantor Inggris. Keadaan umat islam yang lebih mundur dari umat Hindu itulah yang kemudian ingin diatasi oleh pembaharu-pembaharu India, termasuk salah satunya adalah Sayyid Amir Ali.

B PEMBAHASAN
1. Biografi Tokoh
Sayyid Amir Ali adalah seorang pembaru pemikiran islam, sejarawan, dan ahli hukum. Ia dilahirkan pada tanggal 6 April 1849 di Cuttack, Orissa, India, dan meninggal pada usia 79 tahun, tepatnya pada 3 Agustus 1928 di Sussex, Inggris. Ia merupakan keturunan dari keluarga Arab Syi’ah, yakni dengan Ali ar-Ridlo, imam ke-8 syi’ah yang pada zaman kepimimpinan Nadir Syah (1736-1747) atau pada pertengahan abad ke-18 pindah dari Khurasan, Persia ke Mohan, Oudh di India, dan menetap disana.
Sayyid Amir Ali memperoleh pendidikanya di perguruan tinggi Hoogly (muhsiniyyah college) dekat kalkuta (calcutta). Disanalah ia mempelajari bahasa Arab, bahasa Inggris, sastra Inggris, serta hukum Inggris. Pada tahun 1869, ia melanjutkan pendidikan atau studinya ke Inggris, dan selesai pada tahun 1873 dengan memperoleh gelar kesarjanaan muda di bidang hukum dan master di bidang sejarah . Dan pada tahun yang sama, Ia berhasil menerbitkan karya pertama dengan judul A Critical Examination of the Life and Teaching of Muhammed di Inggris. Buku pertama tersebut merupakan interpretasi kaum modernis Muslim tentang Islam, yang telah menjadikanya terkenal baik di Barat maupun di Timur.
Kecintaanya terhadap ilmu pengetahuan, terlebih sejarah dan sastra telah terlihat sejak ia kecil, dimana semenjak belajar di muhsiniyyah college, ia sudah membaca buku-buku penting berbahasa Inggris, seperti : The Decline and Fall of the Roman Empire karya Gibbon, Paradise Lost karya Milton, dan beberapa karya Shakespeare. Bahkan karya Gibbon telah telah selesai ia baca pada saat usianya 12 tahun. Melalui buku-buku itulah timbul dalam dirinya kekaguman terhadap kebangkitan orang islam (saracenic)
Setelah memperoleh gelar kesarjanaannya tersebut, Sayyid Amir Ali kembali ke India dan bekerja pada berbagai lapangan penting, yakni sebagai guru besar dalam hukum islam, pengacara, pegawai pemerintah Inggris, politikus dan penulis, serta ia terkenal aktif di bidang politik.
Kegiatan politiknya dimulai Pada tahun 1877, dimana Sayyid Amir Ali mendirikan organisasi yang di beri nama National Muhammadan Association, yakni sebuah organisasi sebagai wadah persatuan ummat islam India yang bertujuan untuk membela kepentingan umat islam serta untuk melatih dan melengkapi orang-orang Muslim India dengan pengalaman teknik politik eropa. Organisasi politik tersebut segera tersebar dan telah menjadi organisasi nasioanal diseluruh India, telah tercatat bahwasanya organisasi tersebut mempunyai 34 cabang di berbagai tempat di India.
Pada tahun 1883 , Amir Ali diangkat menjadi salah satu dari ketiga anggota majlis Wakil Raja Inggris atau Dewan Raja Muda (The Viceroy’s Council) di India, dia merupakan satu-satunyaanggota islam dalam majlis tersebut. Dan pada tahun 1904, ia meninggalkan India dan menetap di Inggris untuk selama-lamanya. Dan kemudian beristrikan orang Inggris. Perpindahanya ke Inggris ini dilakukan setelah ia berhenti dari Pengadilan Tinggi Bengal, dan pada tahun 1906 ia diangkat menjadi anggota The Judical Committee of the Privy Council.
Setelah berdirinya Liga Muslimin di India pada tahun 1906, ia membentuk cabang dari perkumpulan tersebut di London, namun karena kecintaan dan kesetianya kepada Inggris, maka tatkala Liga Muslimin India mengadakan kerja sama dengan Kongres Nasional India, ia akhirnya mengundurkan diri dari Liga Muslimin.
2. Kegelisahan Akademik
Munculnya Amir Ali sebagai pembaru pemikiran islam adalah merupakan kelanjutan dari pembaharu-pembaru sebelumya. Ia merupakan wujud respon atas kemunduran umat islam India, dimana umat islam lebih mundur dari umat Hindu.
Berangkat dari dasar itulah Amir Ali berusaha menyelidiki hal-hal apa yang menjadikan umat muslim mundur. Karena ia berkeyakinan bahwa islam bukanlah merupakan agama kemunduran, kalau umat islam masa lampau merupakan umat yang maju, lalu kenapa umat islam masa sekarang tidak bisa maju? Pertanyaan itulah kiranya yang mendorong Amir Ali untuk berupaya menemukan titik masalahnya..
3. Metodologi Berpikir
Sayyid Amir Ali merupakan pemikir pertama yang kembali kepada sejarah lama untuk membawa bukti bahwa agama islam bukanlah agama yang membawa kepada kemunduran, melainkan agama yang rasional serta agama yang membawa kepada kemajuan. Hal tersebut dibuktikan dengan sejarah islam klasik, dimana Islam mengalami kejayaan pada masanya. Karena pemikiranya itulah para orientalis sering menyebutnya “seorang apologis” yakni seorang yang rindu dan memuja kepada masa lampau.
Dalam salah satu bukunya yang berjudul The Spirit of Islam telah ia paparkan ajaran-ajaran islam, baik mengenai tauhid, ibadah, hari akhirat, kedudukan wanita, perbudakan, sistem politik, ilmu pengetahuan, pemikiran rasional-fillosofis dan sebagainya.
Metode penelitian yang digunakan Amir Ali dalam menguraikan gagasanya adalah dengan metode perbandingan dengan menambah uraian-uraian rasional. Dimana ia terlebih dahulu membawa ajaran-ajaran serupa dalam agama lain dan kemudian menjelaskan dan menyatakan bahwa islam membawa perbaikan-perbaikan terhadap ajaran-ajaran tersebut, selanjutnya ia memberi argumen-argumen untuk menyatakan bahwa ajaran tersebut tidak bertentangan dengan akal.
Beberapa contoh yang kami singung disini adalah masalah poligami. Dalam bukunya Amir Ali menyebutkan bahwasanya pada semua bangsa-bangsa Barat dimasa purbakala, poligami dianggap sebagai suatu kebiasaan yang diperbolehkan. Dikalangan orang Hindu, poligami (poligini-poliandri) dilakukan secara meluas. Orang-orang Babillonia, Assyria, Parsi, Thracia, Lidia, Athena, serta orang-orang Arab dan Yahudi purpakala lainya, mereka melakukan poligami tanpa batas.
Selanjutnya Amir Ali mengatakan bahwa dengan kedatangan Rasulullah diadakanlah pembaharuan-pembaharuan yang mengakibatkan perbaikan yang luas dalam kedudukan kaum wanita. Islam memberikan hak-hak yang sebelumnya tidak wanita punyai, dan diberinya hak-hak yang tidak beda sama sekali dengan kaum laki-laki dalam menjalankan segala kkeuasaan hukum dan jabatan.
Amir Ali beranggapan bahwasanya hukum qur’an yang berkembang mengajarkan monogami, hal ini sebagaimana yang diajarka oleh oleh oleh ulama’-ulama’ mu’tazilah pertama, yakni masa pemerintahan al-ma’mun. Poligami menurut Amir Ali bertentangan dengan hukum islam.Kondisi yang memperbolehkan poligami terdapat pada masa primitif yang telah lenyap. Adanya poligami menurut Amir Ali adalah tergantung pada keadaan, ada masa-masa dimana poligami sungguh-sungguh perlu untuk memelihara wanita dari kemiskinan dan kemelaratan. Dan dengan berubahnya keadaan serta majunya pemikiran-pemikiran orang, maka secara lambat laun poligami ditinggalkan dan dilarang dngan tegas. Dan poligami dianggap sebagai suatu kejahatan dan merupakan lembaga yang bertentangan dengan ajaran islam.
Adapun berkenaan dengan masalah perbudakan,Amir Ali berpendapat bahwa hal tersebut ada dalam sejarah hidupnmanusia dari dari semua bangsa, seperti : Yahudi, Yunani, Romawi, dan Jerman. Agama kristen sebagai suatu sistem dan kepercayaan juga tidak memprotes terhadap perbudakan dan tidak memberikan peraturan lain dan cara memberantasnya, namun justru membiarkan berjalan apa adanya. Dan barulah ketika islam datang, perbudakan secara perlahan-perlahan dan pasti dihapuskan oleh islammelaui berbagai cara. Pemebebasan budak dijadikan sebagi salah satu bentuk sanksi hukuman bagi pelanggar tindak pidana tau ajaran tertentu.
Pandangan lain yang dikemukakan oleh Amir Ali adalah berkenaan dengan akhirat, dimana gagasan tentang kehidupan akhirat merupakan fenomena umum umat islam, Ia menyatakan bahwasnya ajaran tentang akhirat mempunyai nilai yang sangat penting, karena dapat menggerakkan sesorang untuk berbuat baik pada dirinya sendiri maupun orang lain. Dan meninggalkan perbuatan tercela.
4. Penelitian Terdahulu
Sayyid Amir Ali merupakan salah satu dari murid Sayyid Ahmad Khan. Dalam perjalanan kehidupanya ia pernah mengenyam pendidikan di akademi (sekolah) Aligarh, Yakni sebuah akademi yang didirikan oleh Sayyid Ahmad Khan dengan nama Muhammedan Anglo Oriental College (M.A.O.C). Sekolah tersebut merupakan pusat dari gerakan Aligarh, gerakan yang berusaha menyebarkan ide-ide dari Sayyid Ahmad Khan. Sebuah gerakan yang menjadi penggerak utama dan berpengaruh besar bagi terwujudnya pembaharuan dikalangan umat islam india, termasuk Amir Ali. Pemikiran-pemikiran Amir Ali banyak banyak yang sejalan dengan Sayyid Ahmad Khan.
5. Istilah-istilah Kunci dalam Penelitian
Sebagai tokoh pembaharu pemikiran islam, Sayyid Amir Ali memiliki gagasan-gagasan maupun argumen-argumen yang tertuang dalam beberapa istilah kunci dalam pemikiranya, yakni : politik, ijtihad, rasionalisme (pemikiran dan filsafat), serta ilmu pengetahuan.
Salah satu yang menjadikan Sayyid Amir Ali terkenal adalah aktifitasnya di bidang politik. Ia mengemukakan gagasanya dengan mencoba merekonstruksi kembali apa yang telah dilontarkan oleh pemikir pendahulunya, seperti Sayyid Ahmad Khan, dimana Amir Ali melihat bahwa ide Ahmad Khan untuk memajukan umat islam india melalui pendidikan saja tidaklah cukup, namun perlu dibarengai dengan adanya kegiatan politik. Jika kedudukan politik umat islam India ini tidak dinaikkan, maka mereka akan kalah oleh komunitas hindu. Pandangan Amir Ali tersebut kemudian diikuti oleh pembaharu islam berikutnya, seperti :Sir Muhammad Iqbal dan Muhammad Ali Jinnah.
Dalam masalah ijtihad, ia berpendapat bahwasanya kemunduran umat islam pada saat ini adalah dilatarbelakangi adanya anggapan bahwa pintu ijtihad telah tertutup, serta adanya sikap berpegang teguh atau taqlid kepada pendapat ulama’ abad ke-9 M yang tidak dapat mnegetahui kebutuhan abad 20. Pendapat ulama’ yang disusun beberapa abad lalu masih diyakini dapat dipakai dan diapliksikan pada zaman sekarang. Umat islam tidak percaya pada kekuatan akal, para ulama’ banyak yang menganggap pemakaian akal sebagai dosa, padahal nabi muhammad begitu meninggikan akal.
Dalam kaitanya dengan hal diatas, maka ijtihad tidak dapat dipisahkan dengan rasionalisme serta kebebasan berkehendak manusia, al-qur’an bukanlah jiwa fatalism tetapi jiwa kebebasan manusia dalam berbuat. Dalam mengukuhkan argumenya tersebut Amir Ali membawa ayat al-qur’an (surah al-ra’d:11). Yang dimaksudkan bahwasanya perubahan nasib tidak akan muncul bagi umat islam sebelum mereka berupaya merubahnya sendiri. Oleh karenanya umat islam tidak terkungkung oleh pendapat-pendapat lama yang mungkin sudah tidak relevan lagi bagi umat islam dizaman sesudahnya.
Mengutip lebih jauh apa yang diungkapkan oleh Harun Nasution bahwasanya Amir Ali beranggapan bahwa islam bukanlah dijiwai oleh paham qadla’ dan qadar atau jabariyah, namun dijiwai oleh paham qadariyah, yakni paham kebebasan manusia dalam kemauan dan perbuatan (free will and free act). Kedua paham yakni qadariyah dan rasionalisme itulah yang dianggap telah menimbulakan peradaban islam di zaman klasik. Dan kalahnya aliran rasionalismedalam islam telah membawa islam zaman sekarang mengalami kemunduran. Hal tersebut sebagaimana yang diungkapkan oleh Amir Ali dalam bukunya The Spirit of Islam yang berbunyi :
Tatkala Mutawakkil naik tahta, kedudukan berbagai golongan seperti berikut :-kaum rasionalis merupakan kekuasaan yang memimpin Negara; mereka menduduki tempat-tempat penting yang memerlukan kepercayaan; mereka menjadi guru-guru besar di perguruan Tinggi, memimpin rumah sakit, direktur observatium; mereka menjadi pedagang, pendeknya mereka mawakili hikamah dan kekayaan kerajaan; Rasionalisme adalah anutan umumnya dikalangan masyarakat yang terpelajar, kalangan intelektuil dan berpengaruh. Ajaran sifatiyahi dianut dalam lapisan masyarakat yang lebih rendah dan kebanyakan Kadi, para khatib, ahli hukum berbagi tingkat, menganut ajaran itu……………

Mengenai hal ini, Harun Nasution sebagaimana yang telah ia kutip juga menuliskan dalam bahasanya :
Sewaktu al-Mutawakkil diangakat menjadi khalifah kaum rasionalis islam masih turut berkuasa dan dapat memberikan pengarahan kepada negara. Tetapi dalam golongan awam terdapat aliran sifatiyah yang tidak setuju dengan ajajarn-ajaran mu’tazilah. Untuk memperkuat kedudukan , Al-Mutawakkil mencari pada mayoritas awam dan mengeluarkan minoritas rasionalis dari kekuasaan negara. Perguruan-perguruan tinggi dan universitas ditutup, pengajaran falsafat dan ilmu pengetahuan dilarang dan kaum rasionalis sendiri diusir keluar baghdad. Masa rasonalis dengan demikian berakhir.
Dalam pada itu Abu Hasan al-Asy’ari muncul dengan teologi baru, teologi yang menentang pada rasionalisme mu’tazilah.Pada akhirnya teologi Asy’ari inilah yang berkuasa di dunia Islam dan falsafat serta rasionalisme mengalami kekalahan.

Selain itu, ijtihad sebagai sarana untuk menemukan berbagai solusi masalah haruslah bersifat rasional dan hendaknya mampu memajukan umat islam dalam bidang ilmu pengetahuan. Dimana golongan yang dianggap oleh Amir Ali memegang peranan penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan rasionalisme dalam islam adalah mu’tazilah. Dalam beberapa abad aliran mu’tazilah tersebut telah mempengaruhi umat dan membawa kemajuan dalam bidang tersebut. Ahli-ahli ilmu pengetahuan, sebagai dokter penyakit, ahli fisika, ahli matematika, ahli sejarah kesemuanya masuk dalam golongan mu’tazilah. Ketiga aspek inilah (ijtihad-rasionalisme serta ilmu pengetahuan) yang oleh Amir Ali dianggap akan bisa membawa kejayaan umat islam sebagaimana telah dialami dan dibuktikan oleh para ilmuan periode awal dinasti Abbasiyah.
6. Konstribusi Pengembangan Keilmuan
Pemikiran-pemikiran Amir Ali diatas, tidak hanya berpengaruh di India tetapi juga tersebar di bagian dunia islam lainya. Beberapa buku besar karyanya seperti :
a. A Critical Examination of the Life and Teaching of Muhammed, merupaka karya pertama di Inggris pada tahun 1873 .
b. The Spirit of islam (Api Islam, 1891)
c. A Short History of The Saracens (Sejarah Ringkas Kebangkitan Umat Islam, 1899)
d. Islamic History and Culture
telah menjadi rujukan di berbagai perguruan tingi baik di Barat maupun di Timur. Serta dapat menjadi kontribusi dalam pengembangan khazanah keilmuan islam.

C PENUTUP
1. Simpulan
Dari pemaparan diatas, dapat penulis simpulkan dalam beberapa poin, yakni :
a. Backround akademis serta kecintaanya pada sejarah telah membentuk dan mendorong ia menjadi seseorang yang memuja dan rindu kepada masa lampau (romantisme sejarah).
b. Oleh karenanya sebagai pembuktian bahwa islam merupakan agama kemajuan dan bukan agama yang membawa kamunduran, ia mencoba mengembalikan persoalan pada sejarah islam klasik dimana islam mengalami kejayaanya.
c. Dalam pandangan Amir Ali, hal yang telah menjadikan umat islam mengalami kemunduran adalah kalahnya aliran atau paham rasionalisme atas paham asy’ariyah sesudah abad ke-12, sehingga untuk memajukan kembali umat islam perlu menghidupkan kembali rasionalisme.
d. Dalam memanifestasikan ide pemikiranya, ia begitu menjunjung tinggi paham qadariyah serta golongan mu’tazilah. Dimana kedua aliran tersebut memiliki kesamaan paham bahwa manusia memiliki kemampuan untuk mewujudkan tindakan tanpa campur tangan Tuhan. Manusia mempunyai kehendak bebas.
2. Kritik dan Saran
Dalam pemaparan makalah diatas, penulis meyakini akan adanya banyak kekurangan dan kesalahan. Oleh karenanya penulis mengharap adanya kritik dan saran untuk bisa kami jadikan bahan wawasan kedepan.

BIBLIOGRAFI

Ali, Amir, 1974. The Spirit of Islam, Humanities Press: New York dialihbahasakan oleh H. B. Jassin, 1978. Api Islam, Bulan Bintang : Jakarta

Ali, Mukti, 1998. Alam Pikiran Islam Modern di India dan Pakistan, Mizan : Bandung

Anonim, 2005. Ensiklopedi Islam, PT. Ichtiar Baru Van Hoeve : Jakarta

Muhammad Sa’id, Bustami, 1995. Gerakan Pembaruan Agama; antara Modernisasi dan Tajdidudin, Wala Press: Bekasi

Nasution, Harun, 2001. Pembaharuan dalam Islam; Sejarah Pemikiran dan Gerakan, Bulan Bintang : Jakarta

Rozak, Abdul dan Rosihan, Anwar, 2006. Ilmu Kalam, Pustaka Setia : Bandung

One thought on “Sayyid Amir

  1. Datangnya pertolongan Allah itu disyaratkan adanya pertolongan kita kepada agama-Nya. Bahkan sangat penting para aktivis yang ikhlas itu mengerahkan segala kesungguhan dan daya-upayanya, bahkan untuk melipatgandakan upayanya. Hal itu dibarengi dengan kesanggupan menanggung kesulitan, apapun bentuknya. Mereka harus menghiasi diri dengan kesabaran dan keteguhan dalam kebenaran. Mereka harus berpegang teguh dengan mabda’ (ideologi) Islam dan pada metode Rasul Saw. hingga tercapai yang mereka inginkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s