REKONSTRUKSI TAFSIR AYAT AL-QUR’AN TENTANG PEREMPUAN


Abstrak:
Selama ini, kaum perempuan masih dianggap sebagai the second class dalam persepsi sebagian besar masyarakat. Fenomena munculnya berbagai persepsi bias gender dipahami sebagai akibat dari pemahaman keagamaan (teologi). Di dalam ajaran agama islam pun terdapat beberapa ayat-ayat al qur’an dan hadits nabi Muhammad SAW yang menimbulkan kontroversial berkaitan dengan relasi bias gender misalnya larangan bagi perempuan menjadi imam sholat, konsep kewarisan bagi perempuan adalah separoh dari laki-laki, konsep kesaksian bagi perempuan adalah separoh dari laki-laki, dsb. Namun, apabila al-qur’an dipahami secara komprehensif akan ditemukan juga berbagai ayat yang menyatakan kesetaraan. Berbagai penafsiran tentang ayat-ayat al qur’an dan hadits dari para penafsir al-qur’an, para ahli hadits, dan ahli fiqh diyakini sebagai penyebab utama munculnya bias gender. Islam hadir sebagai rahmatan lil aalamin menghendaki terwujudnya keadilan. Oleh karena itu, pemahaman tentang ayat-ayat al qur’an secara utuh diharapkan dapat menggugah kesadaran fikiran dan nurani manusia untuk mengarahkan kehidupannya pada upaya-upaya pembentukan tatanan sosial politik yang didasarkan atas kesatuan etika kemanusiaan universal sehingga Islam akan selalu relevan dengan tuntutan kemaslahatan sosial yang selalu berubah-ubah.
Kata Kunci: bias gender, penafsiran ayat al qur’an dan hadits, kemanusiaan universal.

1. Pendahuluan
Persoalan perempuan seolah tak pernah habis untuk tetap mengiringi perjalanan kehidupan manusia. Bahkan, sampai pada saat ini berbagai gerakan yang mengatas namakan pembelaan terhadap perempuan diberbagai penjuru dunia selalu berkembang dan tak henti-hentinya mengadvokasi pemenuhan hak-hak bagi perempuan.
Ada sebuah anggapan atau persepsi umum yang berlaku tentang kedudukan perempuan dalam masyarakat yaitu “perempuan berderajat lebih rendah dari pada laki-laki”. Anggapan-anggapan ini tercermin dari prasangka-prasangka umum seperti “seorang istri harus melayani suaminya”, “perempuan itu akan turut ke surga atau ke neraka bersama suaminya”, dsb. Bahkan, prasangka-prasangka ini mendapat penguatan dari struktur moral masyarakat yang terwujud dalam peraturan-peraturan agama dan adat istiadat yang berlaku dalam masyarakat.
Ada ungkapan bahwa perempuan adalah sahabat terbaik agama, namun agama bukanlah sahabat terbaik bagi perempuan. Hal ini terjadi karena agama kerap digunakan untuk membius sebagian besar masyarakat hingga mereka tunduk dan patuh terhadap kepentingan dan nilai-nilai yang dianut oleh penguasa. Namun, substansi Islam sama sekali tidak berkehendak meminggirkan kaum perempuan. Bahkan, Islam yang datang sebagai rahmatan lil aalamin merupakan agama yang berkehendak untuk menghilangkan ketidakadilan yang ada dalam masyarakat.
Yusuf Qardhawi (1995) mengemukakan bahwa tidak ada satupun agama langit atau bumi yang memuliakan perempuan seperti Islam yang memuliakan, memberikan hak, menyayangi dan memelihara perempuan baik sebagai anak perempuan, perempuan dewasa, ibu dan anggota masyarakat. Islam memuliakan perempuan sebagai manusia yang diberi tugas dan tanggung jawab yang utuh seperti halnya seorang laki-laki dan kelak akan mendapatkan pahala dan siksa sebagai balasannya.

2. Pembahasan
Mendudukkan perempuan pada tempat semestinya sepertinya sama halnya dengan membongkar habis sejarah manusia yang telah berlangsung berabad-abad. Yang digugat tak hanya sistem sosial yang terdiri dari kaum pria, tapi juga kaum perempuan itu sendiri. Selain itu, realitas sosial yang ada seringkali menjadikan dalil-dalil agama sebagai dasar untuk menolak keadilan gender. Kitab-kitab tafsir dijadikan referensi melegalkan pola hidup patriarkhi yang memberikan hak-hak istimewa kepada pria dan cenderung memojokkan perempuan. Pria dianggap sebagai jenis kelamin utama (the first class) dan perempuan sebagai jenis kelamin kedua (the second class). Pemahaman agama seperti ini mengendap di alam bawah sadar perempuan dan berlangsung sedemikian lama, sehingga melahirkan kesan seolah-olah perempuan memang tak pantas sejajar dengan pria dan membentuk etos kerja yang timpang antara kedua jenis hamba Tuhan tersebut.
Menurut seorang pakar kajian gender, Prof Dr Nasaruddin Umar MA, masalah keadilan gender selama ini cenderung mengeliminir persoalan asasinya. Selama ini, masyarakat lebih banyak menyoroti persoalan yang sesungguhnya merupakan akibat (efek), bukan pada substansi masalah yang menyebabkan akibat itu lahir. Fenomena gender ini mengindikasikan bahwa pemahaman terhadap agama (teologi) merupakan sebab utama (prima causa) dalam melahirkan berbagai persepsi yang bias gender .
Di dalam Islam ada beberapa isu kontroversial berkaitan dengan relasi gender, antara lain soal asal-usul penciptaan perempuan, larangan bagi perempuan menjadi imam sholat, konsep kewarisan pada perempuan adalah separoh dari laki-laki, persaksian perempuan adalah separoh dari laki-laki, poligami, larangan menjadi wali dalam pernikahan, perempuan tidak mempunyai hak mencerai suaminya kecuali melalui pengaduan (khulu’), serta peran publik perempuan. Ayat-ayat al-qur’an dan hadits-hadits nabi Muhammad SAW dengan tidak perlu diragukan lagi merupakan sumber dan rujukan utama bagi para ahli fiqh untuk merumuskan hukum. Oleh karena itu, menjadi logis jika atas dasar-dasar itu kemudian terumuskan diktum-diktum hukum fiqh yang tetap saja bias gender. Membaca sepintas teks ayat-ayat Al-Qur’an yang berhubungan dengan masalah tersebut mengesankan adanya ketimpangan (ketidakadilan) terhadap perempuan. Salah satu ayat tersebut terdapat dalam surat An-Nisaa’ ayat 11 tentang kewarisan yaitu sebagai berikut.
                              •                       •                       •     
Artinya: “Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, Maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, Maka ia memperoleh separo harta. dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), Maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, Maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.”.
Namun, lebih lanjut Nasaruddin memaparkan bahwa jika disimak secara mendalam dengan menggunakan metode analisis semantik, semiotik, hermeneutik, dan dengan memperhatikan teori asbabun nuzul, maka dapat dipahami bahwa ayat-ayat tersebut merupakan suatu proses dalam mewujudkan keadilan secara konstruktif di dalam masyarakat. Beliau mengatakan:
“Semua ayat tentang perempuan itu ternyata turun untuk menanggapi kasus-kasus tertentu yang terjadi masa Rasulullah. Ini berarti ayat-ayat tersebut bersifat khusus.”
Berbagai penafsiran telah diyakini menjadi penyebab utama munculnya bias gender. Nasaruddin juga mengatakan bahwa bahasa Indonesia yang miskin untuk menafsirkan bahasa Arab juga menjadi faktor besarnya. Oleh karena itu, hendaknya agama islam dipahami secara utuh bukan secara tekstual dan terpisah-pisah.
Kaum muslimin pada umumnya memandang bahwa pernyataan-pernyataan yang dikemukakan oleh para penafsir al quran, para ahli hadits, dan para ahli fiqh paling otoritatif. Dalam persepsi sebagian besar masyarakat, pikiran-pikiran para ulama merupakan suatu kebenaran yang tidak dapat digugat dan dikritisi. Bahkan, ada yang berpandangan bahwa mengkritisi pikiran-pikiran mereka sama halnya dengan mengkritik dan melecehkan agama.
Apabila kita membaca al-qur’an secara lebih komprehensif maka kita akan menemukan beberapa ayat Al-Qur’an dan hadist yang berbicara prinsip tentang kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, tentang kemuliaan manusia dibandingkan dengan mahluk Tuhan yang lain, tentang kesetaraan peran, hak dan kewajiban laki-laki dan perempuan di tengah-tengah kehidupan social politik, tentang keharusan berbuat baik bagi semua manusia, tentang keharusan menegakkan keadilan bagi siapapun, serta tentang keharusan bermusyawarah dalam menyelesaikan segala urusan bersama-sama. Ayat-ayat dan hadits ini dikemukakan antara lain:
         •    •      
Artinya: “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang Telah mereka kerjakan.” (An-Nahl: 97)
•                           • •  
Artinya: “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah Telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al-Ahzab: 35)
“Dan datang kepada Nabi Muhammad SAW, seorang laki-laki lalu bertanya: siapa orang yang paling berhak mendapatkan penghormatan atau perlakuan baik? Nabi menjawab: Ibumu! Laki-laki itu bertanya lagi: kemudian siapa lagi ya Nabi? Nabi menjawab lagi: Ibumu! Laki-laki itu bertannya lagi: Kemudian siapa lagi ya Nabi? Ibumu! Laki-laki itu bertanya lagi: Siapa lagi ya Nabi? Ayahmu!” (HR. Bukhori dan Muslim)
Dalam rangka mereduksi sumber-sumber diskriminasi diantara manusia, nabi Muhammad SAW sering menegaskan bahwa “kita semua adalah anak Adam, sedangkan Adam diciptakan dari tanah”. Artinya, kita semua adalah sama dihadapan Tuhan dan sama-sama tidak ada artinya atau rendah dihadapan-Nya. Hanya Allah SWT yang Maha Besar, Maha Kuasa, dan Maha Pemilik. Semua keterangan Tuhan dalam Al qur’an dan ucapan Nabi dalam hadits-hadits di atas merupakan prinsip-prinsip kehidupan yang menjadi inti dari sikap keberagamaan (religiusitas) dalam islam. Melalui prinsip-prinsip ini, al-qur’an menggugah kesadaran fikiran dan nurani manusia untuk mengarahkan kehidupannya pada upaya-upaya pembentukan tatanan sosial politik yang didasarkan atas kesatuan etika kemanusiaan universal yang melintasi batas-batas kultural dan ideologis.
Sementara itu Menteri Agama, Said Agil Husin Al-Munawar memaparkan, meskipun Alquran adalah kebenaran abadi, namun penafsirannya tak bisa terhindar dari sesuatu yang relatif. Perkembangan historis berbagai madzhab kalam, fiqih, dan tasawuf merupakan bukti positif tentang betapa relatifnya penghayatan keagamaan umat Islam. Pada suatu kurun, kadar intelektualitas yang menonjol, sementara pada kurun lainnya kadar emosionalitas yang menonjol. Beliau mengatakan:
”Itulah sebabnya mengapa persepsi tentang perempuan di kalangan umat Islam sendiri juga berubah-ubah,”
Said Agil mengatakan bahwa pandangan yang menyatakan Adam terlempar dari surga karena ulah Hawa tidak lain hanyalah konspirasi untuk merendahkan perempuan. Alquran berusaha meluruskan pandangan-pandangan seperti itu yang banyak dipengaruhi cerita-cerita Israiliyat yang berasal dari kitab Talmud, dimana perempuan digambarkan sebagai obsinator (pembangkang) dan templator (penggoda) yang juga dipengaruhi pandangan Kristen Lama yang mengidealkan laki-laki dengan menghubungkannya dengan Tuhan (Bapak) dan Yesus Kristus (Tuhan anak laki-laki). Di sisi lain, tafsir ayat-ayat tentang perempuan sangat dipengaruhi cerita-cerita Israiliyat yang bisa jadi sengaja dimasukkan oleh orang-orang yang dahulunya beragama Yahudi dan kemudian masuk Islam atau sengaja disusupkan ke dalam tradisi Islam.

3. Kesimpulan
Dengan mempertimbangkan hal-hal seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, maka teks-teks suci Al-Qur’an yang secara lahiriah terkesan bias gender sebenarnya memperllihatkan dan memberikan petunjuk kepada manusia tentang bagaimana memperjuangkan kesetaraan dan keadilan dan bukan menyetujuinya sebagai sesuatu yang tetap dan selamanya.
Ide penegakan keadilan gender dan perwujudan etika kemanusiaan universal oleh Rosulullah telah diperjuangkan dari sebuah kebudayaan patriarkhi yang akut dan bahkan cenderung bersikap membenci perempuan sebagaimana yang dilakukan oleh bangsa Arab Jahiliyah. Dari sinilah, maka teks-teks al-qur’an maupun hadits-hadits nabi Muhammad SAW yang menunjuk atau menjelaskan suatu persoalan partikulatif (kasus tertentu) perlu dipahami sebagai sebuah contoh (petunjuk) tentang bagaimana ide-ide kamanusiaan tersebut diterapkan dalam situasi dan kondisi kekinian. Nabi Muhammad SAW pun telah melakukan sebuah transformasi sosial kultural pada masyarakat Arab secara bertahap.
Kesadaran atas teks-teks pemikiran dan wacana keagamaan sudah saatnya menjadi perhatian serius agar dapat difahami dan ditemukan makna substansial dari teks-teks keagamaan tersebut. Penemuan atas makna substansial tersebut pada akhirnya akan memberikan jalan bagi upaya-upaya kearah perwujudan ide kemanusiaan universal Islam secara lebih luas sehingga Islam akan selalu relevan dengan tuntutan kemaslahatan sosial yang selalu berubah-ubah. Dengan demikian, islam akan menjadi agama yang rahmatan lil aalamin.

DAFTAR PUSTAKA

Muhammad, KH. Husein . 2007. Islam Agama Ramah Perempuan: Pembelaan Kiai Pesantren. Yogyakarta: PT. LKiS Pelangi Aksara.

Qardhawi, Yusuf. 1995. Fatwa-fatwa Kontemporer, jilid 2. Jakarta: Gema Insani Press.

http://Islam.com/id/index.php?page=article&id=981. Islam dan Gender oleh Moh. Jatmiko, diakses 13 Juli 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s