HUKUM MENIKAHI ORANG YANG TELAH BERBUAT ZINA (Penafsiran Terhadap Surat An Nuur ayat 3 )


HUKUM MENIKAHI ORANG YANG TELAH BERBUAT ZINA

Seringkali kita dapati di masa sekarang ini pasangan muda yang melakukan zina. Barangkali mereka tidak berniat pada awalnya untuk berzina. Namun karena keteldoran dan tidak mengindahkan larangan untuk berkhalwat dan seterunya, maka mereka menjadi sasaran empuk jerat syetan sehingga tanpa disadari terjerumuslah mereka ke zina yang diaharamkan.

Pilihan yang paling konyol setelah berbuat zina adalah mengaborsi anak yang terlanjur tumbuh dalam janin. Padahal aborsi ini selain dilaknat Allah dan agama, juga sangat beresiko besar kepada keselamatan seorang wanita.

Selain itu praktek aborsi adalah pelangaran hukum dimana bila ada seseorang ikut membantu proses aborsi di luar nikah yang syah, bisa dijerat dengan hukum.
Pilihan lainnya adalah menikahi pasangan zina yang terlanjur hamil itu. Namun bagaimana hukumnya dari sudut pandang syariah ? Bolehkah menikahi wanita yang telah dizinai ?

Dijelaskan pada Surat An Nuur ayat 3:
•       •            
Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mu`min. (QS. An-Nur : 3)

Dalam surat An Nuur ayat 3, secara leterlek dapat kita tangkap bahwa diharamkan bagi seorang mu’min untuk menikah dengan orang yang pernah berbuat zina, namun dalam penafsirannya lebih lanjut, seacara garis besar terdapat dua pendapat berbeda, yaitu:

1. Pendapat yang Membolehkan
Jumhur ulama Fuqaha mengatakan bahwa yang dipahami dari ayat tersebut bukanlah mengharamkan untuk menikahi wanita yang pernah berzina. Bahkan mereka membolehkan menikahi wanita yang pezina sekalipun, asal dia bertobat. Lalu bagaimana dengan lafaz ayat yang zahirnya mengharamkan itu ?

Para fuqaha memiliki tiga alasan dalam hal ini, yaitu:
a) Dalam hal ini mereka mengatakan bahwa lafaz `hurrima` atau diharamkan di dalam ayat itu bukanlah pengharaman namun tanzih (dibenci).
b) Selain itu mereka beralasan bahwa kalaulah memang diharamkan, maka lebih kepada kasus yang khusus saat ayat itu diturunkan.
c) Mereka mengatakan bahwa ayat itu telah dibatalkan ketentuan hukumnya (dinasakh) dengan ayat lainnya yaitu :

                   
Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui. (QS> An-Nur : 32).

Pendapat mereka ini dikuatkan dengan hadits berikut :
Dari Aisyah ra berkata,`Rasulullah SAW pernah ditanya tentang seseorang yang berzina dengan seorang wanita dan berniat untuk menikahinya, lalu beliau bersabda,`Awalnya perbuatan kotor dan akhirnya nikah. Sesuatu yang haram tidak bisa mengharamkan yang halal`. (HR. Tabarany dan Daruquthuny).
Juga, Hadits aisyah r.a. bahwa Nabi s.a.w. bersabda:
لا يحرم الحرام الحلال
“Sesuatu yang haram tidak mengharamkan sesuatu yang halal.
Ibnu Katsir mengatakan mengenai ayat (An Nuur ayat 3) ini : adalah berita dari Allah bahwa laki-laki yang berzina tidak akan dituruti keinginannya untuk melakukan zina kecuali oleh perempuan yang berzina atau perempuan musyrik (yaitu menjadi musyrik karena tidak berkeyakinan bahwa zina itu haram). Demikian juga perempuan yang berzina tidak berzina kecuali dengan laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik (musyrik karena tidak berkeyakinan bahwa zina itu haram).
Menurut Ibnu Abbas ra. yang dimaksud dalam ayat (laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik..) bukanlah menikah melainkan bersetubuh, jadi maknanya laki-laki yang berzina tidak bersetubuh melainkan dengan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik. Demikian juga sebaliknya perempuan yang berzina tidak bersetubuh melainkan dengan laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik.
Adapun ayat (…dan yang demikian ini diharamkan atas orang-orang yang beriman) menurut Abu Daud At Thoyyalisi maksudnya adalah : melakukan perzinaan diharamkan atas orang-orang yang beriman.
Di sisi Malikiyyah, si wanita beristibra’ (menunggu bebas rahimnya, selesai ‘iddahnya) dengan tiga kali haidh, atau telah berlalu tiga bulan. Di sisi Imam Ahmad, dia beristibra’ dengan tiga kali haidh (tidak ada pilihan dengan berlalunya tiga bulan). Ibnu Qudamah berpendapat bahwa istibra’nya cukup dengan satu kali haidh, dan inilah yang dikuatkan oleh Ibnu Taimiyyah, dan beliau sangat mendukungnya. Hanabilah mensyaratkan syarat lain bagi halalnya pernikahan dengan wanita pezina, yaitu taubatnya si wanita dari zina.
Bagaimana dengan nasab anaknya? Pada dasarnya nasab anak zina dihubungkan dengan ibunya sesuai dengan hadits bahwa seorang anak adalah milik ibunya. Maka anak itu tidak dinasabkan kepada ayahnya, sekalipun si ayah menyatakan bahwa anak tersebut anaknya.

2. Pendapat yang mengharamkan
Sesungguhnya tidak boleh menikahi wanita pezina. (Berlaku) ke atas si wanita untuk ber’iddah semenjak bersenggama ketika zina berdasarkan masa suci (iqraa’) apabila dia tidak hamil, hingga melahirkan apabila dia hamil.
Apabila dia memiliki suami, diharamkan ke atas si suami untuk menyetubuhinya sehingga selesai ‘iddahnya berdasarkan masa suci ataupun hingga melahirkan.
Ini adalah pendapat Rabi’ah, (Sufyan) Ats-Tsauri, Al-Auza’i, dan Ishaq (bin Rahawaih). Dan ini adalah madzhab Malikiyyah dan Hanabilah.
Klaim adanya ijma’ membutuhkan penelitian terhadap seluruh pendapat dan fatwa sahabat. Dan itu adalah klaim yang tidak benar, karena diriwayatkan dari sebagian sahabat sesuatu yang bertentangan dengannya. Bahkan terdapat beberapa riwayat yang marfu kepada Rasul s.a.w. Di antaranya dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah s.a.w. bersabda, “Laki-laki pezina yang dihukum cambuk tidak boleh menikah kecuali dengan yang semisal dengannya.”
Penyifatan dalam hadits ini (yang dihukum cambuk) adalah berdasarkan yang biasa terjadi. Yang dimaksud adalah orang tampak padanya zina. Di dalamnya terdapat dalil bahwa tidak halal bagi wanita untuk menikahi laki-laki yang tampak padanya zina. Demikian juga, tidak halal bagi laki-laki untuk menikahi wanita yang tampak padanya zina.
Hal ini ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala:
“Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin” (An-Nur: 3)
Dalil para ulama mazhab Maliki atas pendapat mereka tentang tidak sahnya pernikahan wanita yang berzina meskipun dengan laki-laki yang berzina dengannya, adalah perkataan Ibnu Mas’ud r.a., “Jika laki-laki berzina dengan wanita, lalu laki-laki itu menikahinya setelah itu, maka keduanya berzina selamanya.”
Selain itu, pernikahan memiliki kehormatan. Di antara kehormatannya adalah bahwa dia tidak boleh dituangkan pada air perzinaan, sehingga yang haram bercampur dengan yang halal, dan air kehinaan berbaur dengan air kemuliaan.
Para ulama mazhab Hanbali menyandarkan pendapat mereka pada dalil berikut:
Hadits Ruwaifi’ ibn Tsabit dari Nabi s.a.w., beliau bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah dia mencampur airnya dengan anak orang lain.”
Tirmidzi berkata, “Ini adalah hadits hasan. Praktek berdasarkan hadits ini, menurut ahli ilmu, tidak boleh bagi laki-laki, jika dia membeli budak wanita yang hamil, untuk menyetubuhinya sampai melahirkan.”
Pada pokoknya, ‘iddah disyariatkan untuk mengetahui kebebasan rahim. Sebelum ber’iddah, bisa jadi wanita yang berzina hamil. Oleh karena itu, pernikahannya batil dan tidak sah, sebagaimana wanita yang disetubuhi dengan syubhat.
Adapun wanita pezina yang tidak hamil, pengharaman menikahinya adalah dari sisi yang lebih utama. Jika wanita pezina yang hamil tidak sah dinikahi, maka yang tidak hamil lebih utama untuk tidak sah. Sebab, menyetubuhi wanita yang hamil tidak mengakibatkan kerancuan nasab. Tapi wanita pezina yang belum jelas kehamilannya, di dalam dirinya kemungkinan terdapat janin. Anaknya bisa jadi adalah dari laki-laki pertama, dan bisa jadi dari laki-laki kedua. Hal ini mengakibatkan kerancuan nasab
Dalil mereka atas disyariatkannya taubat adalh firman Allah Ta’ala, “laki-laki yang berzina tidak menikahi selain wanita yang berzina atau wanita musyrik. Dan wanita yang berzina tidak dinikahi selain laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik. Yang demikian itu diharamkan bagi orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nur: 3).
Sebelum bertaubat, wanita tersebut berada dalam hukum zina. Dan jika dia bertaubat, maka hukum tersebut hilang, berdasarkan sabda Nabi s.a.w., “Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak memiliki dosa.”
Taubatnya, sebagaimana orang lain, adalah dengan menghindarkan diri dari zina setelah mengajak kepadanya. Hal ini telah diriwayatkan dari Umar dan Ibnu Abbas
Sedangkan argumentasi al-Qurthubi atas disebutkannya kata nikah dengan arti persetubuhan saja, dengan firman Allah s.w.t, “Sampai dia menikahi suami yang lain,” dan penafsiran Nabi s.a.w. terhadapnya dengan arti persetubuhan, ini adalah sesuatu yang tampak jelas kesalahannya. Sebab, yang dimaksud dengan penghalalan dalam ayat tersebut bukanlah persetubuhan tanpa akad.
Kedua, sebab turunnya ayat ini adalah permintaan fatwa kepada Nabi s.a.w. tentang menikah dengan wanita yang berzina. Maka bagaimana bisa sebab turun berada di luar lafal ayat tersebut?
Ketiga, pada ayat sebelumnya Allah berfirman, “Wanita yang berzina dan laki-laki yang berzina,cambuklah masing-masing dari keduanya sebanyak seratus cambukan,” (QS. An-Nur: 2). Maka apa perlunya menyebutkan lagi pengharaman berzina setelah itu?
Sedangkan klaim adanya nasakh, itu lemah sekali. Sebab, tidak ada satu nash pun yang dinasakh kecuali dengan nash lain yang masih ada dan terjaga di tangan umat. Dan nash tersebut tidak ada di sini. Adapun pendapat bahwa ayat tersebut dinasakh dengan ayat “Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antar kalian” (QS. An-Nur: 32) itu sangat lemah. Sebab, keberadaan wanita tersebut sebagai pezina adalah sifat yang insidental baginya, yang menetapkan pengharaman yang insidental pula, sebagaiman keberadaannya sebagai wanita yang haram dinikahi (untuk sementara), wanita yang sedang ber’iddah, wanita yang telah dinikahi oleh laki-laki lain, dan semacamnya. Dan diketahui bahwa ayat ini (QS. An-Nur: 32) tidak bicara tentang sifat-sifat yang dengannya wanita haram dinikahi secara mutlak atau sementara. Akan tetapi, ayat ini memerintahkan kita untuk menikahkan orang-orang yang sendirian secara umum. Dan ini adalah perintah untuk menikahkan mereka dengan syarat-syarat yang telah dijelaskan. Sebagaimana wanita tidak boleh dinikahi pada saat ber’iddah dan berihram, maka dia tidak boleh dinikahi (jika berzina) sampai bertaubat

Allah s.w.t. Berfirman, “Dan muhshanat di antara wanita-wanita yang beriman.” Telah dinukilkan dari Ibnu Abbas penafsiran muhshanat dengan wanita-wanita merdeka dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan. Di antara yang menunjukkan itu adalah firman Allah Ta’ala dalam surat al-Maidah,
Jika yang dImaksud dengan kata muhshanat dalam ayat ini adalah wanita-wanita merdeka, maka menjaga kehormatan masuk ke dalamnya dari sisi yang lebih utama. Sebab, asal dari kata muhshanat adalah wanita terhormat yang menjaga kemaluannya. Allah s.w.t. Berfirman, “Dan (ingatlah) Maryam putri Imran yang menjaga (ahshanat) kemaluannya.” (QS. Tahrim: 12) Allah juga berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang menuduh muhshanat yang lengah (tidak pernah memikirkan perbuatan dosa) lagi beriman…” (QS. An-Nur: 23) Mereka adalah wanita-wanita yang menjaga kehormatan.
Jadi, Allah hanya membolehkan menikahi muhshanat di antara kaum muslimin dan ahli kitab. Dan wanita-wanita pezina bukanlah muhshanat, sehingga Allah tidak membolehkan menikahi mereka. Di antara yang menunjukkan itu adalah firman Allah Ta’ala, “jika kalian telah membayarkan mahar mereka dengan maksud untuk menjaga kehormatan, bukan dengan maksud berzina (ghaira musafihin) dan bukan pula untuk menjadikan mereka sebagai gundik-gundik.” (QS. Al-Maidah: 5) Dan musafih adalah laki-laki pezina.

Pendapat yang Kuat
Penulis memandang bahwa yang kuat adalah pendapat para ulama mazhab Hanbali yang mengharamkan menikahi wanita yang berzina sampai dia membebaskan rahimnya dan bertaubat dari zina. Sama saja apakah yang menikahinya adalah laki-laki yang berzina dengannya atau orang lain. Ini adalah pendapat sekelompok salaf dan khalaf, di antaranya Qatadah, Ishaq, dan Abu Ubaid.
Yang memperkuat hal ini juga adalah bahwa Islam sangat menginginkan terbentuknya keluarga muslim yang shalih, yang para anggotanya terdidik dengan kesucian dan rasa malu. Bagaimana itu bisa terwujud, jika tulang punggung pendidikan dalam keluarga, yaitu istri dan ibu, tidak memiliki hal tersebut? Orang yang tidak memiliki sesuatu tidak akan dapat memberikan sesuatu itu kepada orang lain.
Kerusakan istri menyebabkab kerusakan seluruh keluarga. Masyarakat akan melahirkan anak-anak yang tidak terdidik dengan akhlak yang baik, jika mereka tidak menyeleweng. Dan ini kebanyakan muncul di negara-negara non musli, di mana banyak sekali terjadi pernikahan antara laki-laki muslim dan wanita-wanita Nasrani, yang sedikit sekali di antara mereka yang bukan pezina, karena tidak adanya pencegah dari agama, akhlak, atau rasa malu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s