XENOTRANPLANTATION JANTUNG ANTARA BABI DAN MANUSIA


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Di masa modern sekarang agama adalah kebutuhan pokok yang tidak bisa dilupakan, bahkan tidak sesaat pun manusia mampu meninggalkan agamanya. Agama adalah pandangan hidup dan praktik penuntun hidup dan kehidupan, sejak kelahiran sampai kematian dan di seluruh aspek kehidupan. Agama selalu memberikan bimbingan, demi menuju hidup bahagia dunia dan akhirat. Dalam Al-Muwâfaqat, Al-Imam Asy-Syatibi telah menyusun pembahasan tentang Tujuan Agama (Maqashid Asy-Syariah), “tujuan agama terbagi menjadi 2 (dua) bagian, yaitu, tujuan yang berkaitan dengan agama dan tujuan yang berkaitan dengan mukallaf. Dari perspektif agama, tujuan tersebut terwujud dalam bentuk adanya undang-undang yang diletakkan sebagai dasar dan pedoman hidup. Dengan kata lain, pedoman tersebut sekaligus sebagai beban (taklif) yang wajib ditunaikan oleh mukallaf.
Dewasa ini ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kedokteran dan kesehatan berkembang dengan pesat. Salah satunya adalah kemajuan dalam teknik transplantasi organ. Transplantasi organ merupakan suatu teknologi medis untuk penggantian organ tubuh pasien yang tidak berfungsi dengan organ dari individu lain.
Sejak kesuksesan transplantasi yang pertama kali berupa ginjal dari donor kepada pasien gagal ginjal pada tahun 1954, perkembangan di bidang transpIantasi maju dengan pesat. Kemajuan ilmu dan teknologi memungkinkan pengawetan organ, penemuan obat-obatan anti penolakan yang semakin baik sehingga berbagai organ dan jaringan dapat ditransplantasikan.
Sayang sekali, sumber jaringan atau organ manusia untuk ditransplantasikan sangat sedikit sehingga terjadi antrean panjang untuk mendapatkan jaringan atau organ donor. Karena itu banyak ahli memikirkan kemungkinan menggunakan binatang sebagai sumber organ dan jaringan untuk ditransplantasikan. Keuntungan terbesar jika dapat menggunakan sel, jaringan, atau organ binatang-berarti xenotransplantasi-adalah tidak terbatasnya sumber donor. Mau tidak mau, di masa depan manusia makin membutuhkan pertolongan transplantasi organ dari binatang.
Sampai saat ini penggunaan katup jantung dari babi sudah rutin. Penelitian kedokteran sekarang sedang meneliti apakah sel-sel binatang juga dapat digunakan untuk menolong pankreas manusia memproduksi insulin. Juga mungkin dalam waktu tidak terlalu lama menggunakan kulit dari babi untuk menolong orang menderita luka bakar berat.
Meski sekarang belum ada yang menerima transplantasi organ jantung, hati, atau ginjal babi, masalah xenotransplantasi sudah menjadi perdebatan hangat. Di Jerman sekitar 11.000 orang masih menunggu untuk transplantasi organ, padahal kemampuan mentransplantasikan organ hanya sekitar 3.000 setahun, baik di Jerman maupun Inggris. Di Amerika Serikat sekitar 53.000 orang menunggu proses transplantasi.

B. Runusan Masalah
1. Apa hukum xenotranplantation jantung antara babi dan manusia?

C. Batasan Masalah
Makalah ini hanya membahas hal-hal yang berkenaan dengan hukum mengenai xenotranplantation jantung antara babi dan manusia.

BAB II
DISKRIPSI MASALAH

A. Pengertian Transplantasi
Transplantasi berasal dari bahasa Inggris to transplant, yang berarti to move from one place to another, bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Adapun pengertian menurut ahli ilmu kedokteran, transplantasi itu ialah : Pemindahan jaringan atau organ dari tempat satu ke tempat lain. Yang dimaksud jaringan di sini ialah : Kumpulan sel-sel (bagian terkecil dari individu) yang sama mempunyai fungsi tertentu. Yang dimaksud organ ialah : Kumpulan jaringan yang mempunyai fungsi berbeda sehingga merupakan satu kesatuan yang mempunyai fungsi tertentu, seperti jantung, hati dan lain-lain.
Sedangkan transplantasi dalam literatur Arab kontemporer dikenal dengan istilah naql al-a’da’ atau juga disebut dengan zar’u al-a’da’. Kalau dalam literatur Arab klasik transplantasi disebut dengan istilah al-wasl (penyambungan). Adapun pengertian transplantasi secara terperinci dalam literatur Arab klasik dan kontemporer sama halnya dengan keterangan ilmu kedokteran di atas. Sedang transplantasi di Indonesia lebih dikenal dengan istilah pencangkokan.
Transplantasi Organ adalah rangkaian tindakan medis untuk memindahkan organ dan atau jaringan tubuh manusia yang berasal dari tubuh orang lain atau tubuh sendiri dalam rangka pengobatan untuk menggantikan organ atau jaringan tubuh yang tidak berfungsi dengan baik .
Ada dua komponen penting yang mendasari tindakan transplantasi, yaitu :
1. Eksplantasi, yaitu usaha mengambil jaringan atau organ manusia yang hidup atau yang sudah meninggal.
2. Implantasi, yaitu usaha menempatkan jaringan atau organ tubuh tersebut kepada bagian tubuh sendiri atau tubuh orang lain.
Disamping itu, ada dua komponen penting yang menunjang keberhasilan tindakan transplantasi,, yaitu :
1. Adaptasi donasi, yaitu usaha dan kemampuan menyesuaikan diri orang hidup yang diambil jaringan atau organ tubuhnya, secara biologis dan psikis, untuk hidup dengan kekurangan jaringan / organ.
2. Adaptasi resepien, yaitu usaha dan kemampuan diri dari penerima jaringan / organ tubuh baru sehingga tubuhnya dapat menerima atau menolak jaringan / organ tersebut, untuk berfungsi baik, mengganti yang sudah tidak dapat berfungsi lagi.

Sedangkan Organ dan Jaringan yang dapat ditransplantasikan adalah :

1. Organ Thoracic
a) Jantung
b) Paru – paru 2. Organ Abdomen
a) Ginjal
b) Hati
c) Pankreas
d) Usus
e) Perut/lambung 3. Organ, sel, cairan
a) Tangan
b) Kornea
c) Kulit
d) Pulau Langerhans (sel pancreas)
e) Sumsum tulang
f) Transfusi darah
g) Pembuluh darah
h) Katup jantung
i) Tulang

B. Macam-macam Transplantasi
1. Dari segi jenis transplantasi yang dipakai :
a. Transplantasi jaringan, misal: cornea mata.
b. Transplantasi organ, seperti pencangkokan ginjal, jantung dsb.
2. Menurut hubungan genetik antara donor (pemberi jaringan atau organ yang ditransplantasikan) dan recipient (orang yang menerima pindahan jaringan atau organ) ada 3 macam pencangkokan:

a. Autotransplantasi
Transplantasi yang dilakukan antara donor dan recipient satu individu, seperti seorang yang pipinya dioperasi, untuk memulihkan betuk, diambilkan daging dari bagian badannya yang lain dalam badannya sendiri.
Pada autotransplantasi hampir selalu tidak pernah mendatangkan reaksi penolakan, Sehingga jaringan atau orang yang ditransplantasikan hampir selalu dapat dipertahankan oleh recipient dalam jangka waktu yang cukup lama.
b. Homotransplantasi
Transplantasi yang terjadi antara donor dan recipient individu yang sama jenisnya, bukan jenis kelamin, tetapi jenis manusia dengan manusia. Pada homotransplantasi ini bisa terjadi donor dan recipient dua individu yang masih hidup, bisa juga terjadi antara donor yang telah meninggal dunia yang disebut cadaver donor, sedang recipient masih hidup. Pada homotransplantasi, diketahui 3 kemungkinan golongan:
1) Apabila recipient dan donor adalah saudara kembar yang berasal dari satu sel telur, maka transplantasi hampir selalu tidak menyebabkan reaksi penolakan. Pada golongan ini hasil transplantasinya serupa dengan hasil transplantasi pada autotransplantasi.
2) Apabila recipient dan donor adalah saudara kandung atau salah satu orang tuanya satu keturunan, maka reaksi penolakan pada golongan ini lebih besar dari pada golongan pertama, tetapi masih lebih kecil daripada golongan ke tiga.
3) Apabila recipient dan donor adalah dua orang yang tidak ada hubungan saudara, maka kemungkinan besar transplantasi selalu menyebabkan reaksi penolakan. Pada waktu sekarang homotransplantasi paling sering dikerjakan dalam klinik, terlebih-Iebih dengan menggunakan cadaver donor, karena dua hal:
• Kebutuhan organ dengan mudah dapat dicukupi, karena donor tidak sulit dicari.
• Dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat pesat, terutama dalam bidang immunologi, maka reaksi penolakan dapat ditekan seminimal mungkin.
c. Heterotransplantasi
Transplantasi yang dilakukan antara donor dan recipient dua individu yang berlainan jenis, seperti transplantasi yang terjadi antara donor adalah hewan sedangkan recipient adalah manusia. Pada heterotransplantasi hampir selalu menyebabkan timbulnya reaksi penolakan yang sangat hebat dan sukar sekali diatasi. Oleh karena itu penggunaannya masih terbatas pada binatang percobaan. Pernah diberitakan adanya percobaan mentransplantasikan kulit babi yang sudah diiyophilisasi untuk menutup luka bakar pada manusia. Sekarang hampir semua organ dapat ditransplantasikan, sekalipun sebagian masih menggunakan binatang percobaan.
C. Sejarah Transplantasi Jantung
Rasa ingin tahu manusia yang tidak terbatas serta keinginan hidup abadi tercermin secara nyata sejak tahap awal sejarah transplantasi jantung. Oleh sebab itu, ide penggantian jantung yang rusak dengan yang baru telah berkobar dalam imajinasi manusia sejak beberapa abad yang lalu. Beberapa catatan sehubungan dengan transplantasi jantung dapat ditemukan dalam Kitab Perjanjian Lama maupun dalam cerita mitologi Cina.(5,6,7). Karya pionir Alexis Carrel di awal abad ke-20 telah membawa ide transplantasi jantung keluar dari alam mitologi dan menjadi kenyataan; bersama Morel, dia mengembangkan teknik jahitan vaskuler di Perancis. Pada tahun 1904, dia pindah ke Universitas Chicago dan setahun kemudian bersama Charles Guthrie melakukan transplantasi jantung pertama pada anjing yang hanya bertahan hidup selama 2 jam.
Untuk karya besar ini, Carrel menerima Penghargaan Nobel di bidang kedokteran di tahun 1912. Pada tahun 1933 Frank C. Mann mengembangkan penelitian untuk mempelajari fisiologi dan imunologi transplantasi jantung. Dialah yang pertama menggambarkan perubahan patologi reaksi penolakan organ dan mengkaitkannya dengan inkompatibilitas biologis antara donor dan resipien. Berbagai penelitian eksperimental lainnya terus berkembang untuk menyempurnakan transplantasi jantung. Pada tahun 1951 Demikhov dari Rusia memelopori transplantasi jantung-paru pada anjing.
Penggabungan transplantasi jantung-paru ini bertujuan untuk menyederhanakan teknik operasi. Penelitian penting lainnya berasal dari Lower dan Shumway, yang pada tahun 1960 melaporkan transplantasi jantung dengan menggunakan gabungan teknik bedah sederhana dengan upaya proteksi organ pada anjing; 5 dari 8 anjing yang ditransplantasi jantungnya hidup kembali normal, namun karena tidak mendapatkan obat imunosupresif, hewan-hewan tersebut kemudian meninggal. Diperkirakan penyebab kematiannya adalah reaksi penolakan organ.
Fase klinis transplantasi jantung dimulai pada tahun 1964. James Hardy saat itu merencanakan transplantasi jantung dari seorang lelaki muda yang meninggal karena kerusakan otak irreversibel kepada seorang lelaki penderita gagal jantung kronis berusia 68 tahun. Penderita itu tiba-tiba menjadi tidak stabil namun karena si donor masih `hidup’ (dalam arti belum berhentinya fungsi jantung-paru, menurut definisi konsep mati pada waktu itu), transplantasi jantung belum dapat dilaksana-kan. Hardy terpaksa mentransplantasikan jantung seekor simpanse. Meskipun secara teknis transplantasi ini sangat memuaskan, jantung simpanse tersebut ternyata terlalu kecil sehingga tidak mampu mengambil alih fungsi sirkulasi manusia yang menyebabkan penderita tersebut meninggal beberapa saat kemudian.
Christian Barnard tiba-tiba mengejutkan seluruh dunia ketika pada tanggal 3 Desember 1967 berhasil melakukan transplantasi jantung antar manusia pertama kalinya di RS Groote Schuur CapeTown, Afrika Selatan. Louis Washkansky, lelaki berusia 54 tahun dengan gagal jantung stadium akhir memperoleh donor jantung dari seorang wanita muda berusia 24 tahun yang didiagnosis menderita kerusakan otak berat akibat kecelakaan lalu lintas. Sayangnya, resipien hanya mampu bertahan hidup selama 18 hari dan meninggal karena radang paru-paru. Keberhasilan ini segera diikuti oleh pusat transplantasi jantung lainnya di berbagai belahan dunia. Meskipun hasil awal kurang memuaskan, dengan makin baiknya kriteria seleksi donor dan resipien, penanganan terhadap infeksi, penemuan teknik biopsi endomiokard untuk mende-teksi reaksi penolakan akut dan penemuan obat imunosupresif, angka harapan hidup telah mencapai sekitar 80% di tahun pertama dan 70% di tahun ke lima.
Saat ini lebih dari 66.000 transplantasi jantung dan 3047 transplantasi jantung paru telah berhasil dilakukan di lebih dari 220 pusat jantung di seluruh dunia. Program transplantasi jantung di Pusat Jantung & Diabetes Northrhine Westphalia Bad Oeynhausen berawal pada tanggal 13 Maret 1989, dan pada tahun yang sama sebanyak 39 transplantasi jantung telah dilakukan. Satu tahun kemudian, sejumlah 129 penderita gagal jantung kronik berhasil ditransplantasi. Angka ini melebihi jumlah total transplantasi jantung di Jerman saat itu. Pada tahun berikutnya, jumlah transplantasi meningkat menjadi 148, dalam arti hampir 3 kali transplantasi jantung per minggu dan jumlah ini telah menembus rekor nasional. Saat ini, program transplantasi jantung di Bad Oeynhausen termasuk salah satu pusat transplantasi jantung tersibuk di dunia.
D. Tujuan Transplantasi
1. Transplantasi pada dasarnya bertujuan:
a. Kesembuhan dari suatu penyakit, misalnya kebutaan, rusaknya jantung dan ginjal, dsb.
b. Pemulihan kembali fungsi suatu organ, jaringan atau sel yang telah rusak atau mengalami kelainan, tapi sama sekali tidak terjadi kesakitan biologis, ex. bibir sumbing
2. Ditinjau dari segi tingkatan tujuannya, ada “tingkat dihajatkan” dan ada “tingkat dharurat”.
a. Tingkat dihajatkan yaitu transplantasi semata-mata pengobatan dari sakit atau cacat yang kalau tidak dilakukan dengan pencangkokan tidak akan menimbulkan kematian, seperti transplantasi cornea mata dan bibir sumbing.
b. Tingkat dharurat yaitu transplantasi sebagai jalan terakhir yang kalau tidak dilakukan akan menimbulkan kematian, seperti transplantasi ginjal, hati dan jantung.

Pasal 33 Undang-undang No 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, menyatakan bahwa transplantasi merupakan salah satu pengobatan yang dapat dilakukan untuk penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan.
Secara legal transplantasi hanya boleh dilakukan untuk tujuan kemanusiaan dan tidak boleh dilakukan untuk tujuan komersial . Penjelasan pasal tersebut menyatakan bahwa organ atau jaringan tubuh merupaka anugerah Tuhan Yang Maha Esa sehingga dilarang untuk dijadikan obyek untuk mencari keuntungan atau komersial.

E. Proses Transplantasi Jantung
Pada transplantasi dari manusia ke manusia (alotransplantasi), penolakan ini sebagian besar dapat diatasi dengan penyesuaian donor dan penerima, disertai dengan pemberian obat yang menekan respons imun.
Risiko penolakan pada xenotransplantasi lebih berat karena perbedaan antara donor dan penerima jauh lebih besar. Kalau xenotranplantasi menjadi pilihan untuk terapi pada manusia, maka diperlukan penelitian yang meliputi preklinik dan klinik.
Pada preklinik, dilakukan penelitian dari binatang ke binatang. Jadi, prosedur xenotransplantasi diuji pada binatang, contohnya transplantasi ginjal babi ke baboon. Pada penelitian klinik, diuji produk binatang pada manusia, misalnya, transplantasi sel otak babi ke manusia. Australia yang cukup maju meneliti xenotransplantasi ini ternyata juga belum begitu jauh kemajuannya. Soalnya, prosedur ini memang harus dilakukan secara hati-hati sesuai standar yang ditetapkan National Health and Medical Research Council (NHMRC) yang baru diedarkan Juli 2002.
Harus diakui, binatang donor yang paling menguntungkan dan memungkinkan adalah babi karena bereproduksi secara cepat dan anaknya banyak, organnya berukuran kurang lebih sama dengan manusia, mudah membuatnya dalam kondisi bebas patogen, rendahnya risiko membawa patogen yang menginfeksi manusia (lebih kecil daripada menggunakan kera atau monyet), dan metabolisme babi yang mirip manusia. Selain itu babi secara genetik dapat dimanipulasi untuk mengurangi resiko penolakan.
a. Prosedur Transplantasi
• Ventrikel dipotong, meninggalkan pembuluh darah besar antrium kanan dan kiri penerima
• Jantung donor kemudian dijahit ke daerah – daerah tersebut

F. Dampak Transplantasi
Pada transplantasi dari manusia ke manusia (alotransplantasi), penolakan sebagian besar telah dapat diatasi dengan tissue matching penyesuaian donor dan penerima dan dengan pemberian obat kepada penerima yang dapat menekan respons imun.
Risiko penolakan pada xenotransplantasi lebih berat karena perbedaan antara donor dan penerima jauh lebih besar. Xenotransplantasi juga dapat mentransmisikan infeksi (seperti virus) dari binatang ke manusia. Retrovirus menjadi perhatian utama karena banyak contoh virus pindah dari satu spesies ke spesies lain dan saling menginfeksi.
Retrovirus tidak selalu menimbulkan tanda atau gejala penyakit yang jelas pada awalnya. Kalau ada retrovirus saat xenotransplantasi dan menginfeksi penerima, ia dapat menyebar dan bisa menjadi pembawa infeksi pada populasi yang luas sebelum terjadi infeksi nyata.
Primata bukan manusia (kera dan monyet) tidak baik untuk sumber transplantasi binatang ke manusia karena hubungannya yang sangat erat ke manusia akan meningkatkan risiko virus bertransmisi antar spesies.
Virus yang paling perlu diperhatikan pada xenotransplantasi menggunakan babi adalah porcine endogenous retrovirus (PERV). PERV ada di dalam hampir semua strain babi dan tidak dapat dihilangkan dengan meningkatkan babi dalam kondisi steril. Meskipun PERV inaktif, dan karena itu tidak berbahaya di dalam babi, dikhawatirkan transplantasi ke manusia dapat mengaktifkan virus, menimbulkan penyakit baru, dan dapat menyebar luas pada orang yang dekat pada penerima transplantasi.
PERV dapat menginfeksi sel manusia dalam laboratorium, menandakan kemungkinan ia dapat menginfeksi manusia melalui xenotransplantasi. Akan tetapi, menurut NHMRC, penelitian dari sekitar 150 orang yang tersebar luas di dunia yang ditransplantasi dengan jaringan babi atau sel babi menunjukkan tidak terdapat kejadian infeksi virus atau infeksi lain yang berasal dari babi.

G. Hakikat Babi
Babi adalah hewan mamalia berkaki empat, di dunia sudah menjadi komoditi usaha para peternak untuk dibudidayakan. Seluruh tubuh babi memiliki kegunaan yang beraneka ragam, di antaranya:

1. Lemak dan beberapa produk variannya berperan untuk:
a. Lemak dan gliserin: softdrink, bahan kosmetik (facial, hand and body lotion), sabun dan lainnya.
b. Emulsifier : Lesitin,E471dansebagainya.
c. Lard (lemak babi) : pengempuk dan pelezat roti & coklat
d. Minyak: penyedap masakan.
e. Bahan starter vetsin: penyedap masakan.

2. Bulu berguna sebagai bahan kuas (bristle), seperti pada kuas roti, kuas cat tembok dan kuas lukis. Biro Pusat Statistik pada tahun 2002 melaporkan bahwa pada periode Januari hingga Juni 2001, Indonesia mengimpor boar bristle dan pig/boar hair sejumlah 282,983 ton (senilai 1.713.309 US $).

3. Daging babi merupakan sumber protein hewani yang murah. Harganya jelas lebih murah dari daging sapi, dan mudah diperoleh di pasaran. Sifat dagingnya sendiri selain empuk, seratnya halus. Penggunaannya bisa sebagai campuran bakso, siomay, bakmi goreng, dan sebagainya.
4. Tulang
a. Industri pariwisata: patung, ukiran, souvenir dan lainnya.
b. Industri makanan/minuman: arang tulang sebagai filter penyaring air mineral, karena pori-pori tulangnya bagus.
c. Indutri obat: gelatin dari tulang sebagai bahan soft capsule.
d. Industri pertukangan: bahan lem dan sebagainya.

5. Organ
a. Transplantasi organ: ginjal, hati, jantung.
b. Plasenta: kosmetika (facial, hand and body lotion), sabun dan lainnya.
c. Enzim pencernaan: amilasi, lipase, tripsin, pankreatin, pepsin dan sebagainya.
6. Kulit Berguna dalam industri kulit (leather handicrafts) seperti tas, sepatu, dompet dan lainnya.

7. Kotoran Kotoran babi berguna sebagai pupuk tanaman. Di Jepang, kotoran itu digunakan sebagai pupuk tanaman apel, karena dapat menciptakan warna merah bagus pada kulit apel

Aktualisasi babi terbentur dengan norma religi yang melarang konsumsi daging babi. Bahkan dalam aspek dunia kesehatan sendiri, eksistensi babi juga tidak jarang mengundang pro dan kontra. Di balik ancaman sekian banyak parasit pada hewan babi yang mengancam kesehatan yang mengonsumsinya, kerugian yang terdapat dari proses transplantasi organ babi di antaranya potensi resiko virus babi dapat menular ke tubuh manusia yang dapat menimbulkan penyakit bagi manusia. Dalam suatu kasus, babi yang memiliki PERV (Porcine Endogenous Retrovirus) yang dapat menjangkit di tubuh manusia.

BAB III
MANHAJ XENOTRANPLANTATION JANTUNG
ANTARA BABI DAN MANUSIA

A. Pengertian Qiyas
Qiyas secara bahasa : Pengukuran (التقدير) dan Penyamaan (المساواة). Sedangkan menurut istilah adalah
إلحاق واقعة لا نص على حكم بواقعة ورد نص بحكمها، في الحكم الذي ورد به النص، لتساوي الواقعتين في علة هذا الحكم .
Qiyas menurut ulama ushul adalah menerangkan sesuatu yang tidak ada nashnya dalam Al Qur’an dan hadits dengan cara membandingkan dengan sesuatu yang ditetapkan hukumnya berdasarkan nash. Mereka juga membuat definisi lain, Qiyas adalah menyamakan sesuatu yang tidak ada nash hukumnya dengan sesuatu yang ada nash hukumnya karena adanya persamaan illat hukum.
Dengan demikian qiyas itu penerapan hukum analogi terhadap hukum sesuatu yang serupa karena prinsip persamaan illat akan melahirkan hukum yang sama pula. Umpamanya hukum meminum khamar, nash hukumnya telah dijelaskan dalam Al Qur’an yaitu hukumnya haram. Sebagaimana firman Allah Swt:

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãYtB#uä $yJ¯RÎ) ãôJsƒø:$# çŽÅ£øŠyJø9$#ur Ü>$|ÁRF{$#ur ãN»s9ø—F{$#ur Ó§ô_Í‘ ô`ÏiB È@yJtã Ç`»sÜø‹¤±9$# çnqç7Ï^tGô_$$sù öNä3ª=yès9 tbqßsÎ=øÿè? ÇÒÉÈ
Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah Termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (Qs.5:90)

Haramnya meminum khamr berdasar illat hukumnya adalah memabukan. Maka setiap minuman yang terdapat di dalamnya illat sama dengan khamar dalam hukumnya maka minuman tersebut adalah haram.
1. Kelompok jumhur, mereka menggunakan qiyas sebagai dasar hukum pada hal-hal yang tidak jelas nashnya baik dalam Al Qur’an, hadits, pendapat shahabt maupun ijma ulama.
2. Mazhab Zhahiriyah dan Syiah Imamiyah, mereka sama sekali tidak menggunakan qiyas. Mazhab Zhahiri tidak mengakui adalanya illat nash dan tidak berusaha mengetahui sasaran dan tujuan nash termasuk menyingkap alasan-alasannya guna menetapkan suatu kepastian hukum yang sesuai dengan illat. Sebaliknya, mereka menetapkan hukum hanya dari teks nash semata.
3. Kelompok yang lebih memperluas pemakaian qiyas, yang berusaha berbagai hal karena persamaan illat. Bahkan dalam kondisi dan masalah tertentu, kelompok ini menerapkan qiyas sebagai pentakhsih dari keumuman dalil Al Qur’an dan hadits.

C. Rukun dan Syarat Qiyas
1. Rukun Qiyas
Adapun rukun qiyas atau sesuatu yang harus ada dalam qiyas yaitu :
1) Cabang (الفرع) : yang diqiyaskan (المقيس).
2) Pokok/ashl (الأصل) : yang diqiyaskan kepadanya (المقيس عليه)
3) Hukum (الحكم) :
ماإقتضاه الدليل الشرعي من وجوب،أوتحريم،أوصحة،أوفساد،أوغيرها
“Apa yang menjadi konsekuensi dalil syar’i dari yang wajib atau harom, sah atau rusak, atau yang selainnya.”
4) Sebab/’illah (العلة)
المعنى الذي ثثبت بسببه حكم الآصل
“Sebuah makna dimana hukum ashl ditetapkan dengan sebab tersebut.”

2. Syarat-syarat Qiyas :
a. Tidak bertentangan dengan dalil yang lebih kuat darinya, maka tidak dianggap qiyas yang bertentangan dengan nash atau ijma’ atau perkataan shohabat jika kita mengatakan bahwa perkataan shohabat adalah hujjah. Dan qiyas yang bertentangan dengan apa yang telah disebutkan dinamakan sebagai anggapan yang rusak (فاسد الاعتبار). Contohnya : dikatakan : bahwa wanita rosyidah (baligh, berakal, dan bisa mengurus diri sendiri) sah untuk menikahkan dirinya sendiri tanpa wali, diqiyaskan kepada sahnya ia berjual-beli tanpa wali. Ini adalah qiyas yang rusak karena menyelisihi nash, yaitu sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam:
لاَ نِكَاح إِلاَّ بِولِي
“Tidak ada nikah kecuali dengan wali.”

b. Hukum ashl-nya tsabit (tetap) dengan nash atau ijma’. Jika hukum ashl-nya itu tetap dengan qiyas maka tidak sah mengqiyaskan dengannya, akan tetapi diqiyaskan dengan ashl yang pertama, karena kembali kepada ashl tersebut adalah lebih utama dan juga karena mengqiyaskan cabang kepada cabang lainnya yang dijadikan ashl kadang-kadang tidak shohih. Dan karena mengqiyaskan kepada cabang, kemudian mengqiyaskan cabang kepada ashl; menjadi panjang tanpa ada faidah.
Contohnya : dikatakan riba berlaku pada jagung diqiyaskan dengan beras, dan berlaku pada beras diqiyaskan dengan gandum, qiyas yang seperti ini tidak benar, akan tetapi dikatakan berlaku riba pada jagung diqiyaskan dengan gandum, agar diqiyaskan kepada ashl yang tetap dengan nash.

c. Pada hukum ashl terdapat ‘illah (sebab) yang diketahui, agar memungkinkan untuk dijama’ antara ashl dan cabang padanya. Jika hukum ashl-nya adalah perkara yang murni ta’abbudi (peribadatan yang tidak diketahui ‘illah-nya), maka tidak sah mengqiyaskan kepadanya.
Contohnya : dikatakan daging burung unta dapat membatalkan wudhu diqiyaskan dengan daging unta karena kesamaan burung unta dengan unta, maka dikatakan qiyas seperti ini adalah tidak benar karena hukum ashl-nya tidak memiliki ‘illah yang diketahui, akan tetapi perkara ini adalah murni ta’abbudi berdasarkan pendapat yang masyhur (yakni dalam madzhab al-Imam Ahmad rohimahulloh).

d. ‘Illah-nya mencakup makna yang sesuai dengan hukumnya, yang penetapan ‘illah tersebut diketahui dengan kaidah-kaidah syar’i, seperti ‘illah memabukkan pada khomer. Jika maknanya merupakan sifat yang paten (tetap) yang tidak ada kesesuaian/hubungan dengan hukumnya, maka tidak sah menentukan ‘illah dengannya, seperti hitam dan putih.
Contohnya : Hadits Ibnu Abbas rodhiyallohu anhuma : bahwa Bariroh diberi pilihan tentang suaminya ketika ia dimerdekakan, Ibnu Abbas berkata : “suaminya ketika itu adalah seorang budak berkulit hitam”.
Perkataan beliau “hitam” merupakan sifat yang tetap yang tidak ada hubungannya dengan hukum, oleh karena itu berlaku hukum memilih bagi seorang budak wanita jika ia dimerdekakan dalam keadaan memiliki suami seorang budak walaupun suaminya itu berkulit putih, dan hukum tersebut tidak berlaku jika ia dimerdekakan dalam keadaan memiliki suami seorang yang merdeka walaupun suaminya itu berkulit hitam.

e. ‘Illah tersebut ada pada cabang sebagaimana ‘illah tersebut juga ada dalam ashl, seperti menyakiti orang tua dengan memukul diqiyaskan dengan mengatakan “uf”/”ah”. Jika ‘illah (pada ashl, pent) tidak terdapat pada cabangnya maka qiyas tersebut tidak sah.
Contohnya : dikatakan ‘illah dalam pengharoman riba pada gandum adalah karena ia ditakar, kemudian dikatakan berlaku riba pada apel dengan diqiyaskan pada gandum, maka qiyas seperti ini tidak benar, karena ‘illah (pada ashl-nya) tidak terdapat pada cabangnya, yakni apel tidak ditakar.

D. JENIS-JENIS QIYAS
Qiyas terbagi menjadi Qiyas Jali ( جلي ) dan Qiyas Khofi (خفي)
1. Qiyas jali (jelas) adalah : yang tetap ‘illahnya dengan nash atau ijma’ atau dipastikan dengan menafikan perbedaan antara ashl dan cabangnya. Contoh yang ‘illah-nya tetap dengan nash : Mengqiyaskan larangan istijmar (bersuci dengan batu atau yang semisalnya, pent) dengan darah najis yang beku dengan larangan istijmar dengan kotoran hewan, maka ‘illah dari hukum ashl-nya tetap dengan nash ketika Ibnu Mas’ud rodhiyallohu anhu datang kepada Nabi shollallohu alaihi wa sallam dengan dua batu dan sebuah kotoran hewan agar beliau beristinja’ dengannya, kemudian beliau mengambil dua batu tersebut dan melempar kotoran hewan tersebut dan mengatakan : “Ini kotor ( هذا ركس )”, dan ( الركس ) adalah najis (النجس) Contoh yang ‘illah-nya tetap dengan ijma’ : Nabi shollallohu alaihi wa sallam melarang seorang qodhi (hakim) memutuskan perkara dalam keadaan marah. Maka qiyas dilarangnya qodhi yang menahan kencing dari memutuskan perkara, terhadap larangan qodhi yang sedang marah dari memutuskan perkara merupakan qiyas jali karena ‘illah ashl-nya tetap dengan ijma’ yaitu adanya gangguan pikiran dan sibuknya hati. Contoh yang dipastikan ‘illah-nya dengan menafikan perbedaan antara ashl dan cabangnya : Qiyas diharamkannya menghabiskan harta anak yatim dengan membeli pakaian, terhadap pengharoman menghabiskannya dengan membeli makanan karena kepastian tidak adanya perbedaan antara keduanya.
2. Qiyas khofi (samar) adalah : yang ‘illah-nya tetap dengan istimbath (penggalian hukum) dan tidak dipastikan dengan menafikan perbedaan antara ashl dengan cabang. Contohnya : mengqiyaskan tumbuh-tumbuhan dengan gandum dalam pengharaman riba dengan ‘illah sama-sama ditakar, maka penetapan ‘illah dengan takaran tidak tetap dengan nash, tidak pula dengan ijma’ dan tidak dipastikan dengan menafikan perbedaan antara ashl dan cabangnya. Bahkan memungkinkan untuk dibedakan antara keduanya, yaitu bahwa gandum dimakan berbeda dengan tumbuh-tumbuhan.

BAB IV
ISTINBATH HUKUM

A. Pendapat Ulama
Jika pengobatan medis untuk manusia dengan cara transplantasi mengunakan organ babi, maka hukum yang perlu diterapkan pada fakta ini adalah hukum berobat (al-tadawi/ al-mudaawah) dengan dzat yang najis lagi haram. Sebab babi adalah zat yang najis dan haram.
Seperti yang telah dijalaskan dalam bab sebelumnya, untuk menetapkan hukum dengan menggunakan manhaj Qiyas, diperlukan empat rukun, yaitu Far’u, Ashl, Hukum dan Illah.
1. Far’u atau Maqis dalam masalah ini adalah xenograft jantung antara babi dan manusia.
2. Al-Ashl, atau maqis alaih dalam masalah ini adalah beberapa ayat al-Quran, yaitu dalam surat Al-Baqarah ayat 173, Al-Ma’idah ayat 3 dan 60, Al-An’am ayat 145 dan An-Nahl ayat 115 dan hadits Nabi
3. Hukum ashalnya adalah haram memakan daging babi
4. Illatnya adalah

Hadits-hadits yang mengandung larangan untuk berobat dengan sesuatu yang haram/ najis misalnya sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Sesungguhnya Allah yang menurunkan penyakit dan obatnya, dan Dia menjadikan obat bagi setiap penyakit. Maka berobatlah kamu semua, dan janganlah kamu berobat dengan sesuatu yang haram” (riwayat Abu Dawud, no: 3376).
Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Janganlah kamu berobat dengan sesuatu yang haram”, menunjukkan larangan berobat dengan sesuatu yang haram/ najis. Hadits ini tidak otomatis mengandung hukum haram, melainkan sekedar larangan, sehingga membutuhkan dalil lain sebagai indikasi larangan yang mengantarkannya apakah larangan ini bersifat jazim (haram), ataukah ghairu jazim (makruh). Di sinilah ada hadits yang menunjukkan larangan itu bersifat ghairu jazim (makruh),
1. Dalam Shahih Al-Bukhari terdapat riwayat:
“Orang-orang suku ‘Ukl dan ‘Urainah datang ke kota Madinah menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu memeluk Islam. Namun mereka kemudian sakit karena tidak cocok dengan cuaca Madinah. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan mereka untuk meminum air susu unta dan air kencingnya…” (Shahih Al- Bukhari: no 226, Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathul Bari: 1/ 367).

2. Dalam Musnad Al-Imam Ahmad terdapat riwayat:
“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memberi rukhshah (keringanan) kepada ‘Abdurrahman bin ‘Auf dan Zubair bin Al-‘Awwam untuk mengenakan sutera karena keduanya menderita penyakit kulit” (riwayat Al-Imam Ahmad: no. 13178).

Hadits-hadits ini menjadi indikasi bahwa larangan yang ada bukanlah larangan jazim (haram), namun larangan ghairu jazim (makruh). Kedua hadis ini menunjukkan bolehnya berobat dengan sesuatu yang najis (air kencing unta), dan sesuatu yang haram (sutera). Kedua hadits inilah yang kita dijadikan indikasi bahwa larangan berobat dengan sesuatu yang najis/ haram hukumnya bukanlah haram, melainkan makruh.
Maka dari itu, hukum pengobatan medis untuk manusia dengan cara transplantasi mengunakan organ babi yang najis lagi haram, hukumnya adalah makruh, bukan haram. Hukum makruh ini berarti lebih baik dan akan berpahala jika seorang yang membutuhkan transplantasi organ tidak menggunakan organ babi. Namun jika dilakukan dia tidak berdosa. Kedua Keadaan Darurat Keadaan darurat adalah keadaan di mana Allah membolehkan seseorang yang terpaksa (kehabisan bekal makanan, dan kehidupannya terancam kematian) untuk memakan apa saja yang didapatinya dari makanan, termasuk makanan yang diharamkan Allah, seperti bangkai, darah, daging babi, dan lain-lain.
Pengobatan medis dengan cara transplantasi salah satu organ babi untuk menyelamatkan kehidupan manusia, yang kelangsungan hidupnya tergantung pada organ yang akan dipindahkan kepadanya dibolehkan walaupun dengan benda yang najis/ haram. Dalam hukum syariat, ada kaidah bahwa sesuatu yang darurat itu dapat membolehkan sesuatu yang dilarang, “ad-dharuratu tubihul mahdzurat”. Mengenai hukum darurat Allah ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagi kalian bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam kea-daaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa atasnya.” (Al-Baqarah: 173)

Maka orang yang terpaksa tersebut boleh memakan makanan haram apa saja yang didapatinya, sehingga dia dapat memenuhi kebutuhannya dan mempertahankan hidupnya. Kalau dia tidak mau memakan makanan tersebut lalu mati, berarti dia telah berdosa dan membunuh dirinya sendiri. Padahal Allah ta’ala berfirman :

“Dan janganlah kalian membunuh diri-diri kalian.” (An-Nisaa : 29)

B. Pengambilan Hukum dengan Qiyas

BAB V
PENUTUP

C. Ringkasan dan Kesimpulan
Pengobatan medis dengan cara Xenotransplantation antara babi dan manusia hukumnya sebagaimana pengobatan dengan dzat yang bernajis/ haram yaitu makruh, menurut pendapat yang terkuat. Namun untuk dilakukannya transplantasi organ babi kepada manusia ini ada syarat-syarat yang harus terpenuhi, di antaranya sebagai mana berikut:
1. Terdapat bahaya yang mengancam kehidupan pasien jika tidak melakukan transplantasi.
2. Tidak ada organ lain yang bersih/ halal sebagai ganti obat yang bernajis/ haram.
3. Transplantasi organ tidak merusak keutuhan genetik atau identitas psikologis recipient.
4. Transplantasi tersebut memiliki catatan biologis serta medis yang teruji dalam kemungkinan berhasilnya.
5. Transplantasi tidak mendatangkan banyak resiko bagi recipient.ü
Adanya suatu pernyataan dari seorang dokter muslim yang dapat dipercaya, baik pemeriksaannya maupun agamanya (keyakinannya).
Karena sangat banyak bahaya yang bisa ditimbulkan oleh daging babi maka dari itulah Allah mengharamkannya, mungkin masih ada bahaya yang belum diketahui oleh manusia. Apabila Allah mengharamkan sesuatu, pasti suatu yang sangat keji dan membahayakan, walaupun terdapat manfaat di dalamnya. Dan di sini Keimanan harus dipupuk terus sehingga tidak ada keraguan untuk segala perintah dan larangan yang datang dari Allah subhanahu wata’ala. Wallahu a’lam.

Daftar Pustaka
Khalaf, Abd. Wahab. 2004. Khalaf. Ilmu Ushul Fiqh. Al Haramain.
Wahba Zuhaili,ilmu ushl al fiqh., juz II.
Dr M.ibn ahmad taqiyah.1999.”masadiru al tasyri’ al islamy”.Lebanon. muasisu al kitab al tsaqofiyah.
Wahbah zuhaily.1990.”Ushul Fiqh”.kuliyat da’wah al islami.
Al ghozali .1997. “al mustasfa,Juz 1” Bairut.daar al ihya’ al turats al ‘araby.
Wahbah zuhaily.1990.”Ushul Fiqh”.kuliyat da’wah al islami. Hlm 89
Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid: 1/ 384
Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah: 1/ 492, Wahbah Az-Zuhaili, Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu: 9/ 662, Imam Asy-Syaukani, Nailul Authar: 13/ 166
Izzuddin bin Abdis Salam, Qawa’idul Ahkam fi Mashalih Al-Ahkam: 2/ 6, Imam Ash-Shan’ani, Subulus Salam:6/100
Taqiyuddin An-Nabhani, Asy-Syakhshiyah Al-Islamiyah: 3/ 116
Undang-undang No. 23 tahun 1992 ttentang Kesehatan
Peraturan Pemerintah No 18 tahun 1981 tentang Otopsi Anatomi, Otopsi Klinik dan Transplantasi Alat dan Jaringan Tubuh Manusia
Peraturan Menteri Kesehatan No. 585 tahun 1989 tentang Persetujuan Tindakan Medis
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 269 tahun 2008 tentang Rekam Medis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s