Wasiat Organ Tubuh


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pada dasarnya harta benda yang dimiliki seseorang adalah merupakan milik Allah yang diamanatkan kepada manusia untuk dimanfaatkan di jalan Allah.
Islam telah menetapkan adanya hak milik perseorangan terhadap harta kekayaan dan cara memperolehnya. Misalnya dengan cara jual beli, tukar menukar dan warisan. Baik pewarisan karena hubungan nasab, perkawinan maupun wasiat.
Wasiat merupakan pesan seseorang kepada orang lain untuk mengurusi hartanya sesuai dengan pesannya setelah ia meninggal dunia. Artinya wasiat adalah tas{a>ruf terhadap harta peninggalan yang akan dilaksanakan setelah meninggalnya orang yang berwasiat, dan hanya berlaku setelah yang berwasiat meninggal dunia.
Dalam hukum Islam wasiat juga dapat dilihat sebagai suatu tanda ketaqwaan seseorang. Artinya kemampuan untuk mengorbankan apa yang dia miliki menandakan kebaikan yang dia miliki terhadap orang lain. Peralihan hak milik dengan cara wasiat ini dapat berpindah secara langsung ketika orang yang berwasiat meninggal dunia.
Dalam buku ilmu fiqih dijelaskan bahwa obyek wasiat tidak hanya berkisar antara harta dan benda saja, akan tetapi juga berupa pembebasan hutang dan pemberian manfaat.
Berkaitan dengan pemberian manfaat, maka banyak orang yang berminat untuk mendonorkan organ tubuhnya jika ia telah meninggal dunia. Hal ini dimaksudkan agar setelah meninggal dunia ia tetap bisa berbuat baik terhadap orang lain.
Broto Wasisto, ketua Majelis Kehormatan Etika Kedokteran, menyatakan bahwa sejak 20 tahun yang lalu banyak orang yang berwasiat agar setelah meninggal dunia organnya disumbangkan kepada orang lain. Misalnya salah seorang anggota yayasan Abdul Wahab di Yogyakarta berniat untuk mendonorkan mata setelah ia meninggal dunia. Begitu pula seorang muslim Palestina yang mendonorkan jantung dan paru-paru setelah ia meninggal dunia.
Perkembangan ilmu dan teknologi dewasa ini menghadapkan masyarakat pada hal-hal yang tidak pernah terbayang sebelumnya. Salah satu hasil perkembangan tersebut ialah ditemukannya teknologi pencangkokan organ tubuh.
Dalam dunia kedokteran pencangkokan organ tubuh ini sangat bermanfaat bagi perkembangan ilmu kedokteran. Baik untuk penelitian maupun untuk penyembuhan dan penyempurnaan organ tubuh pasien yang membutuhkan.
Mempunyai nilai positif bagi dunia kedokteran tidak lantas membuat para ulama’ kontemporer untuk tidak melakukan penelusuran terhadap hukum wasiat pencangkokan organ tubuh.
Baik dalam al-Qur’an maupun hadits tidak ada dalil yang secara tegas menunjukkan hukum dari pada wasiat pencangkokan organ tubuh. Begitu pula pada kitab-kitab fiqh klasik.

B. Runusan Masalah
1. Apa hukum mewasiatkan organ tubuh?

C. Batasan Masalah
Makalah ini hanya membahas hal-hal yang berkenaan dengan hukum mewasiatkan organ tubuh orang yang berwasiat.

BAB II
DISKRIPSI MASALAH

A. Pengertian Transplantasi
Transplantasi berasal dari bahasa Inggris to transplant, yang berarti to move from one place to another, bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Adapun pengertian menurut ahli ilmu kedokteran, transplantasi itu ialah : Pemindahan jaringan atau organ dari tempat satu ke tempat lain. Yang dimaksud jaringan di sini ialah : Kumpulan sel-sel (bagian terkecil dari individu) yang sama mempunyai fungsi tertentu. Yang dimaksud organ ialah : Kumpulan jaringan yang mempunyai fungsi berbeda sehingga merupakan satu kesatuan yang mempunyai fungsi tertentu, seperti jantung, hati dan lain-lain.
Sedangkan transplantasi dalam literatur Arab kontemporer dikenal dengan istilah naql al-a’da’ atau juga disebut dengan zar’u al-a’da’. Kalau dalam literatur Arab klasik transplantasi disebut dengan istilah al-wasl (penyambungan). Adapun pengertian transplantasi secara terperinci dalam literatur Arab klasik dan kontemporer sama halnya dengan keterangan ilmu kedokteran di atas. Sedang transplantasi di Indonesia lebih dikenal dengan istilah pencangkokan.
Transplantasi Organ adalah rangkaian tindakan medis untuk memindahkan organ dan atau jaringan tubuh manusia yang berasal dari tubuh orang lain atau tubuh sendiri dalam rangka pengobatan untuk menggantikan organ atau jaringan tubuh yang tidak berfungsi dengan baik .
Ada dua komponen penting yang mendasari tindakan transplantasi, yaitu :
1. Eksplantasi, yaitu usaha mengambil jaringan atau organ manusia yang hidup atau yang sudah meninggal.
2. Implantasi, yaitu usaha menempatkan jaringan atau organ tubuh tersebut kepada bagian tubuh sendiri atau tubuh orang lain.
Disamping itu, ada dua komponen penting yang menunjang keberhasilan tindakan transplantasi,, yaitu :
1. Adaptasi donasi, yaitu usaha dan kemampuan menyesuaikan diri orang hidup yang diambil jaringan atau organ tubuhnya, secara biologis dan psikis, untuk hidup dengan kekurangan jaringan / organ.
2. Adaptasi resepien, yaitu usaha dan kemampuan diri dari penerima jaringan / organ tubuh baru sehingga tubuhnya dapat menerima atau menolak jaringan / organ tersebut, untuk berfungsi baik, mengganti yang sudah tidak dapat berfungsi lagi.

Sedangkan Organ dan Jaringan yang dapat ditransplantasikan adalah :
1. Organ Thoracic
a) Jantung
b) Paru – paru 2. Organ Abdomen
a) Ginjal
b) Hati
c) Pankreas
d) Usus
e) Perut/lambung 3. Organ, sel, cairan
a) Tangan
b) Kornea
c) Kulit
d) Pulau Langerhans (sel pancreas)
e) Sumsum tulang
f) Transfusi darah
g) Pembuluh darah
h) Katup jantung
i) Tulang

B. Macam-macam Transplantasi
1. Dari segi jenis transplantasi yang dipakai :
a. Transplantasi jaringan, misal: cornea mata.
b. Transplantasi organ, seperti pencangkokan ginjal, jantung dsb.
2. Menurut hubungan genetik antara donor (pemberi jaringan atau organ yang ditransplantasikan) dan recipient (orang yang menerima pindahan jaringan atau organ) ada 3 macam pencangkokan:

a. Auto Transplantasi
Transplantasi yang dilakukan antara donor dan recipient satu individu, seperti seorang yang pipinya dioperasi, untuk memulihkan betuk, diambilkan daging dari bagian badannya yang lain dalam badannya sendiri.
Pada autotransplantasi hampir selalu tidak pernah mendatangkan reaksi penolakan, Sehingga jaringan atau orang yang ditransplantasikan hampir selalu dapat dipertahankan oleh recipient dalam jangka waktu yang cukup lama.
b. Homo Transplantasi
Transplantasi yang terjadi antara donor dan recipient individu yang sama jenisnya, bukan jenis kelamin, tetapi jenis manusia dengan manusia. Pada homotransplantasi ini bisa terjadi donor dan recipient dua individu yang masih hidup, bisa juga terjadi antara donor yang telah meninggal dunia yang disebut cadaver donor, sedang recipient masih hidup. Pada homotransplantasi, diketahui 3 kemungkinan golongan:
1) Apabila recipient dan donor adalah saudara kembar yang berasal dari satu sel telur, maka transplantasi hampir selalu tidak menyebabkan reaksi penolakan. Pada golongan ini hasil transplantasinya serupa dengan hasil transplantasi pada autotransplantasi.
2) Apabila recipient dan donor adalah saudara kandung atau salah satu orang tuanya satu keturunan, maka reaksi penolakan pada golongan ini lebih besar dari pada golongan pertama, tetapi masih lebih kecil daripada golongan ke tiga.
3) Apabila recipient dan donor adalah dua orang yang tidak ada hubungan saudara, maka kemungkinan besar transplantasi selalu menyebabkan reaksi penolakan. Pada waktu sekarang homotransplantasi paling sering dikerjakan dalam klinik, terlebih-Iebih dengan menggunakan cadaver donor, karena dua hal:
• Kebutuhan organ dengan mudah dapat dicukupi, karena donor tidak sulit dicari.
• Dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat pesat, terutama dalam bidang immunologi, maka reaksi penolakan dapat ditekan seminimal mungkin.
c. Hetero Transplantasi
Transplantasi yang dilakukan antara donor dan recipient dua individu yang berlainan jenis, seperti transplantasi yang terjadi antara donor adalah hewan sedangkan recipient adalah manusia. Pada heterotransplantasi hampir selalu menyebabkan timbulnya reaksi penolakan yang sangat hebat dan sukar sekali diatasi. Oleh karena itu penggunaannya masih terbatas pada binatang percobaan. Pernah diberitakan adanya percobaan mentransplantasikan kulit babi yang sudah diiyophilisasi untuk menutup luka bakar pada manusia. Sekarang hampir semua organ dapat ditransplantasikan, sekalipun sebagian masih menggunakan binatang percobaan.

C. Sejarah Transplantasi Jantung
Pada ujung abad ke-19 M, para ahli bedah baru berhasil mentransplantasikan jaringan, namun sejak penemuan John Murphy pada tahun 1897 yang berhasil menyambung pembuluh darah pada binatang percobaan, barulah terbuka pintu percobaan mentransplantasikan organ dari manusia ke manusia lain. Percobaan yang telah dilakukan terhadap binatang akhirnya berhasil, meskipun ia menghabiskan waktu cukup lama yaitu satu setengah abad. Pada tahun 1954, Dr. J.E. Murray berhasil mentransplantasikan ginjal kepada seorang anak yang berasal dari saudara kembarnya yang membawa perkembangan pesat dan lebih maju dalam bidang transplantasi.
Tatkala Islam muncul pada abad ke-7 Masehi, ilmu bedah sudah dikenal di berbagai negara dunia, khususnya negara-negara maju saat itu, seperti dua negara adi daya Romawi dan Persi. Namun pencangkokan jaringan belum mengalami perkembangan yang berarti, meskipun sudah ditempuh berbagai upaya untuk mengembangkannya. Selama ribuan tahun setelah melewati beragam eksperimen barulah berhasil pada akhir abad ke-19 M, untuk pencangkokan jaringan, dan pada pertengahan abad ke-20 M untuk pencangkokan organ manusia. Di masa Nabi SAW, negara Islam telah memperhatikan masalah kesehatan rakyat, bahkan senantiasa berupaya menjamin kesehatan dan pengobatan bagi seluruh rakyatnya secara cuma-cuma. Ada beberapa dokter ahli bedah di masa Nabi yang cukup terkenal seperti al Harth bin Kildah dan Abu Ramtah Rafa’ah.
Meskipun pencangkokan organ tubuh belum dikenal oleh dunia saat itu, namun operasi plastik yang menggunakan organ buatan atau palsu sudah dikenal di masa Nabi SAW, sebagaimana yang diriwayatkan Imam Abu Daud dan Tirmidzi dari Abdurrahman bin Tharfah (Sunan Abu Dawud, hadits. no.4232) “bahwa kakeknya ‘Arfajah bin As’ad pernah terpotong hidungnya pada perang Kulab, lalu ia memasang hidung (palsu) dari logam perak, namun hidung tersebut mulai membau (membusuk), maka Nabi SAW menyuruhnya untuk memasang hidung (palsu) dari logam emas”.
Pada periode Islam selanjutnya, mulai bertebaran karya-karya kedokteran yang banyak memuat berbagai praktek kedokteran termasuk transplantasi dan sekaligus mencuatkan banyak nama besar dari ilmuwan muslim dalam bidang kesehatan dan ilmu kedokteran, diantaranya adalah; Al-Rozy (251-311 H) yang telah menemukan dan membedakan pembuluh vena dan arteri disamping banyak membahas masalah kedokteran yang lain seperti, bedah tulang dan gips dalam bukunya Al-Athibba. Lebih jauh dari itu, mereka bahkan telah merintis proses spesialisasi berbagai kajian dari suatu bidang dan disiplin. Az-Zahrawi ahli kedokteran muslim yang meninggal di Andalusia sesudah tahun 400-an Hijriyah telah berhasil dan menjadi orang pertama yang memisahkan ilmu bedah dan menjadikannya subjek tersendiri dari bidang Ilmu Kedokteran. Beliau telah menulis sebuah buku besar yang monumental dalam bidang kedokteran khususnya ilmu bedah dan diberi judul “At-tashrif”.

D. Tujuan Transplantasi
1. Transplantasi pada dasarnya bertujuan:
a. Kesembuhan dari suatu penyakit, misalnya kebutaan, rusaknya jantung dan ginjal, dsb.
b. Pemulihan kembali fungsi suatu organ, jaringan atau sel yang telah rusak atau mengalami kelainan, tapi sama sekali tidak terjadi kesakitan biologis, ex. bibir sumbing
2. Ditinjau dari segi tingkatan tujuannya, ada “tingkat dihajatkan” dan ada “tingkat dharurat”.
a. Tingkat dihajatkan yaitu transplantasi semata-mata pengobatan dari sakit atau cacat yang kalau tidak dilakukan dengan pencangkokan tidak akan menimbulkan kematian, seperti transplantasi cornea mata dan bibir sumbing.
b. Tingkat dharurat yaitu transplantasi sebagai jalan terakhir yang kalau tidak dilakukan akan menimbulkan kematian, seperti transplantasi ginjal, hati dan jantung.

Pasal 33 Undang-undang No 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, menyatakan bahwa transplantasi merupakan salah satu pengobatan yang dapat dilakukan untuk penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan.
Secara legal transplantasi hanya boleh dilakukan untuk tujuan kemanusiaan dan tidak boleh dilakukan untuk tujuan komersial . Penjelasan pasal tersebut menyatakan bahwa organ atau jaringan tubuh merupaka anugerah Tuhan Yang Maha Esa sehingga dilarang untuk dijadikan obyek untuk mencari keuntungan atau komersial.

E. Proses Transplantasi
Calon donor harus mendapat informed consent serta penjelasan mengenai risiko transfusi. Pengujian yang dilakukan pada darah donor meliputi: penetapan golongan darah berdasarkan ABO dan Rhesus, uji antibodi (dilakukan pada donor yang pernah mendapat transfusi atau hamil), dan uji terhadap penyakit infeksi, yaitu HBsAg, anti HCV, tes serologi untuk sifilis, dan tes antibodi HIV.
Uji cocok silang (crossmatch) terdiri dari serangkaian prosedur yang dilakukan pra-transfusi untuk memastikan seleksi darah yang tepat untuk pasien serta mendeteksi antibodi ireguler dalam serum pasien. Terdapat 2 jenis uji cocok silang. Major Crossmatch Test menguji reaksi antara eritrosit donor dengan serum resipien, sedangkan Minor Crossmatch Test menguji reaksi antara serum donor dengan eristrosit resipien. Crossmatch mayor dilakukan pada tes pratransfusi, sedangkan minor dilakukan sebagai tes rutin pada darah donor setelah pengumpulan darah.
Reaksi transfusi yang tidak diharapkan ditemukan pada 6,6% pasien yang menjalani transfusi.
Demam. Dapat disebabkan oleh antibodi leukosit, antibodi trombosit, atau senyawa pirogen. Untuk menghindarinya dapat dilakukan uji pencocokan leukosit antara donor dan resipien.
Reaksi Alergi. Renjatan anafilaktik timbul pada 1 dari 20.000 transfusi. Reaksi alergi ringan yang menyerupai urtikaria timbul pada 3% transfusi. Reaksi anafilaktik yang berat terjadi akibat interaksi antara IgA pada darah donor dengan anti-IgA spesifik pada plasma resipien.
Reaksi hemolitik. Terjadi akibat destruksi eritrosit akibat inkompatibilitas darah. Reaksi hemolitik juga dapat terjadi karena transfusi eritrosit yang rusak, injeksi air ke dalam sirkulasi, transfusi darah yang lisis, pemanasan berlebihan, darah beku, darah yang terinfeksi, transfusi darah dengan tekanan tinggi. Jika seseorang ditransfusi dengan darah atau janin memiliki struktur antigen eritrosit yang berbeda dengan donor atau ibunya, maka dapat terbentuk antibodi pada tubuh resipien darah atau janin tersebut, sehingga antibodi menyerang dan merusak eritrosit.
Penularan penyakit. Virus, seperti HIV, hepatitis B, dan hepatitis C serta bakteri dapat mengkontaminasi eritrosit dan trombosit sehingga dapat menyebabkan infeksi dan sepsis setelah transfusi.
Kontaminasi. Risiko terjadinya kontaminasi berhubungan langsung dengan lamanya penyimpanan.
Cedera paru akut (TRALI). Berupa manifestasi hipoksemia akut dan cedera pulmoner bilateral yang terjadi 6 jam setelah transfusi. Manifestasi klinis yang ditemui adalah dispnea, takipnea, demam, takikardi, hipo-/hipertensi, dan leukemia akut sementara. Mekanisme yang mungkin menjadi penyebab salah satunya adalah reaksi antara neutrofil resipien dengan antibodi donor yang mempunyai HLA atau antigen neutrofil spesifik; akibatnya terjadi peningkatan permeabilitas kapiler pada sirkulasi mikro di paru (Djoerban, 2007).

F. Dampak Transplantasi
Pada transplantasi dari manusia ke manusia (alotransplantasi), penolakan sebagian besar telah dapat diatasi dengan tissue matching penyesuaian donor dan penerima dan dengan pemberian obat kepada penerima yang dapat menekan respons imun.
Risiko penolakan pada xenotransplantasi lebih berat karena perbedaan antara donor dan penerima jauh lebih besar. Xenotransplantasi juga dapat mentransmisikan infeksi (seperti virus) dari binatang ke manusia. Retrovirus menjadi perhatian utama karena banyak contoh virus pindah dari satu spesies ke spesies lain dan saling menginfeksi.
Retrovirus tidak selalu menimbulkan tanda atau gejala penyakit yang jelas pada awalnya. Kalau ada retrovirus saat xenotransplantasi dan menginfeksi penerima, ia dapat menyebar dan bisa menjadi pembawa infeksi pada populasi yang luas sebelum terjadi infeksi nyata.
Primata bukan manusia (kera dan monyet) tidak baik untuk sumber transplantasi binatang ke manusia karena hubungannya yang sangat erat ke manusia akan meningkatkan risiko virus bertransmisi antar spesies.
Virus yang paling perlu diperhatikan pada xenotransplantasi menggunakan babi adalah porcine endogenous retrovirus (PERV). PERV ada di dalam hampir semua strain babi dan tidak dapat dihilangkan dengan meningkatkan babi dalam kondisi steril. Meskipun PERV inaktif, dan karena itu tidak berbahaya di dalam babi, dikhawatirkan transplantasi ke manusia dapat mengaktifkan virus, menimbulkan penyakit baru, dan dapat menyebar luas pada orang yang dekat pada penerima transplantasi.
PERV dapat menginfeksi sel manusia dalam laboratorium, menandakan kemungkinan ia dapat menginfeksi manusia melalui xenotransplantasi. Akan tetapi, menurut NHMRC, penelitian dari sekitar 150 orang yang tersebar luas di dunia yang ditransplantasi dengan jaringan babi atau sel babi menunjukkan tidak terdapat kejadian infeksi virus atau infeksi lain yang berasal dari babi.

G. Wasiat
1. Pengertian
Washiat berasal dari washai tusy a uushiihi berarti aushaltuhu (saya menyambungkannya). Jadi, orang yang berwasiat adalah orang yang menyambung apa yang telah ditetapkan pada waktu hidupnya sampai dengan sesudah wafatnya.
Adapun menurut istilah syar’i ialah seseorang memberi barang, atau piutang, atau sesuatu yang bermanfa’at, dengan catatan bahwa pemberian termaksud akan menjadi hak milik si penerima wasiat setelah meninggalnya si pemberi wasiat.
Wasiat ini disyariatkan berdasarkan nash-nash Al Qur’an, hadits dan ijma para ulama. Didalam Al Qur’an disebutkan didalam firman Allah swt :
“Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak. jika isteri-isterimu itu mempunyai anak, Maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) seduah dibayar hutangnya. Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak, Maka Para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang-hutangmu.” (QS. An Nisaa : 12)
Adapun sunnah maka disebutkan didalam hadits Saad bin Abi Waqash berkata, ”Wahai Rasulullah aku memiliki harta dan tidaklah ada yang mewarisinya kecuali hanya seorang anak wanitaku. Apakah aku sedekahkan dua pertiga dari hartaku?” Beliau bersabda,”Jangan.” Aku berkata,”Apakah aku sedekahkan setengah darinya?” beliau bersabda,”Jangan, sepertiga aja. Sepertiga itu banyak. Sesungguhnya engkau tinggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya lebih baik daripada engkau tinggalkan mereka dalam keadaan miskin dan meminta-minta kepada manusia.” (HR. Muslim)
2. KADAR BANYAKNYA HARTA YANG DIANJURKAN DIWARISKAN
Dari Sa’ad bin Abi Waqqash ra, ia bertutur: Nabi saw pernah datang menjengukku waktu di Mekkah. Dan, saya tidak suka meninggal dunia di daerah yang saya pernah hijrah darinya. Sabda Beliau, “Mudah-mudahan Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Ibnu Afrak.” (Sa’ad) jawab, “Ya Rasulullah bolehkah saya mewasiatkan seluruh harta kekayaanku?” Jawab Beliau, “Tidak (boleh).” Tanya saya, “Separuh?” Jawab Beliau, “Tidak (juga).” Saya bertanya (lagi), “Sepertiga?” Dijawab, “Sepertiga, dan sepertiga itu sudah banyak. Sesungguhnya engkau meninggalkan ahli warismu dalam keadaan mampu itu jauh lebih baik daripada engkau meninggalkan mereka dalam keadaan miskin hingga meminta-minta kepada orang lain. Sesungguhnya, betapapun kecilnya belanja yang kau nafkahkan, maka sesungguhnya itu adalah shadaqah, sampai pun sepotong makanan yang kau suapkan ke mulut isterimu (itu adalah shadaqah), dan mudah-mudahan Allah mengangkat (derajat)mu, sehingga orang-orang (muslim) mendapat banyak manfa’at darimu dan orang-orang lain (kaum musyrikin) tertimpa bahaya.” Sedangkan pada waktu itu dia hanya memiliki seorang puteri. (Muttafaqun ’alaih: Fathul Bari V: 363 no: 2742 dan ini lafazh Imam Bukhari, Muslim III: 250 no: 1628, ’Aunul Ma’bud VIII: 64 no: 2847, dan Nasa’i VI: 242).
3. TAK ADA WASIAT BAGI AHLI WARIS
Dari Abu Umamah al-Bahili ra, ia menyatakan: Saya pernah mendengar Rasulullah saw menegaskan dalam khutbahnya pada waktu haji wada’, “Sesungguhnya Allah benar-benar telah memberi setiap orang yang mempunyai hak akan haknya. Oleh karena itu, tak ada wasiat bagi ahli waris.” (Shahih: Shahih Ibnu Majah no: 2194, Ibnu Majah II: 905 no: 2713, ‘Aunul Ma’bud VIII: 72 no” 2853 dan Tirmidzi III: 393 no: 2203.
Adapun hukum dari wasiat dengan harta maka telah terjadi perbedaan dikalangan para ulama :
Jumhur fuqaha dari kalangan ulama Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali berpendapat bahwa memberikan wasiat dari sebagian hartanya adalah bukan sebuah kewajiban bagi seseorang karena wasiat adalah sebuah pemberian yang tidak wajib saat hidup maka tidak pula wajib setelah dirinya meninggal dunia. Kemudian mereka berpendapat bahwa disunnahkan bagi seorang yang memiliki harta untuk meninggalkan wasiat, sebagaimana firman Allah swt :
“Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, Berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma’ruf.” (QS. Al Baqoroh : 180)

Lalu kewajiban tersebut dihapus dan menjadikannya (wasiat) sunnah untuk bukan ahli warisnya, berdasarkan hadits,”Tidak ada wasiat bagi ahli waris.” (HR. al Baihaqi)
Sedangkan sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa wasiat adalah sebuah kewajiban. Mereka berdalil dengan ayat yang sama dengan yang digunakan kelompok pertama, yaitu surat al baqoroh ayat 180.
Didalam kitab “Fiqh as Sunnah” dsebutkan bahwa rukun wasiat adalah adanya ijab dari orang yang mewasiatkannya baik dengan lafazh maupun dengan isyarat yang bisa difahami atau juga dengan tulisan apabila si pemberi wasiat tidak sanggup berbicara. Kemudian apabila wasiat tidak tertentu, seperti : untuk masjid, tempat pengungsian, sekolah, atau rumah sakit maka ia tidak memerlukan qabul akan tetapi cukup dengan dengan ijab saja sebab dalam keadaan demikian wasiat itu menjadi sedekah. Apabila wasiat ditujukan kepada orang tetentu maka ia memerlukan qabul dari orang yang diberi wasiat setelah si pemberi wasiat meninggal atau qabul dari walinya apabila orang yang dberi wasiat belum mempunyai kecerdasan. Apabila wasiat diterima maka terjadilah wasiat itu. Jika wasiat ditolak setelah pemberi wasiat meninggal maka batalah wasiat itu dan ia tetap menjadi milik dari ahli waris pemberi wasiat.
Adapun syarat-syarat wasiat adalah adanya pemberi wasiat, penerima wasiat dan sesuatu yang diwasiatkan. Si pemberi wasiat diharuskan telah memiliki kelayakan didalam melakukan kebaikan, seperti ia adalah seorang yang berakal, dewasa, merdeka, ikhtiyar dan tidak dibatasi karena kebodohan atau kelalaian. Jika pemberi wasat itu orang yang kurang kemampuannya, misalnya karena masih anak-anak, gila, hamba sahaya, dipaksa atau dibatasi maka wasiatnya tidak sah.
Sedangkan syarat-syarat dari si penerima wasiat adalah ia bukan termasuk ahli waris pemberi wasiat sebagaimana disebutkan didalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Daud dan at Tirmidzi bahwa dari al Maghazi bahwa Rasulullah saw bersabda pada waktu penaklukan kota Mekah, ”Tidak ada wasiat bagi ahl waris,” Kemudian persyaratan lainnya dari si penerima wasiat menurut para ulama Hanafi bahwa si penerima wasiat apabila telah tertentu maka disyaratkan dalam keabsahan wasiat agar orang tersebut hadir pada saat wasiat dilaksanakan baik keberadaannya secara hakikat maupun perkiraan, misalnya apabla dia mewasiatkan kepada janin kandungan si fulanah maka jenis kandungan harus ada pada saat penerimaan wasiat.
Adapun apabila penerima wasiat tidak tertentu maka orang itu harus ada di waktu pemberi wasiat wafat baik secara benar-benar atau perkiraan. Apabila si pemberi wasiat berkata, ”Aku wasiatkan rumahku kepada anak-anak si fulan.” Tanpa menentukan siapa anak-anak itu kemudian dia mati dan tidak mencabut wasiatnya maka rumah itu dimiliki oleh anak-anak yang ada saat pemberi wasiat meninggal dunia baik benar-benar ada maupun dalam perkiraan.
Syarat lainnya dari penerma wasiat adalah bahwa si penerima wasiat tidak membunuh pemberi wasiat dengan pembunuhan yang diharamkan secara langsung.
Adapun syarat dari barang yang diwasiatkan adalah bahwa barang tersebut dimiliki dengan salah satu bentuk kepemilikan setelah pemberi wasiat meninggal dunia. Dengan demikian wasiat menjadi sah atas semua harta yang bernilai baik berupa barang ataupun manfaat, demikian disebutkan oleh Sayyid Sabiq.

BAB III
MANHAJ WASIAT ORGAN TUBUH

A. Pengertian Qiyas
Qiyas secara bahasa : Pengukuran (التقدير) dan Penyamaan (المساواة). Sedangkan menurut istilah adalah
إلحاق واقعة لا نص على حكم بواقعة ورد نص بحكمها، في الحكم الذي ورد به النص، لتساوي الواقعتين في علة هذا الحكم .
Qiyas menurut ulama ushul adalah menerangkan sesuatu yang tidak ada nashnya dalam Al Qur’an dan hadits dengan cara membandingkan dengan sesuatu yang ditetapkan hukumnya berdasarkan nash. Mereka juga membuat definisi lain, Qiyas adalah menyamakan sesuatu yang tidak ada nash hukumnya dengan sesuatu yang ada nash hukumnya karena adanya persamaan illat hukum.
Dengan demikian qiyas itu penerapan hukum analogi terhadap hukum sesuatu yang serupa karena prinsip persamaan illat akan melahirkan hukum yang sama pula. Umpamanya hukum meminum khamar, nash hukumnya telah dijelaskan dalam Al Qur’an yaitu hukumnya haram. Sebagaimana firman Allah Swt:

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãYtB#uä $yJ¯RÎ) ãôJsƒø:$# çŽÅ£øŠyJø9$#ur Ü>$|ÁRF{$#ur ãN»s9ø—F{$#ur Ó§ô_Í‘ ô`ÏiB È@yJtã Ç`»sÜø‹¤±9$# çnqç7Ï^tGô_$$sù öNä3ª=yès9 tbqßsÎ=øÿè? ÇÒÉÈ
Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah Termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (Qs.5:90)

Haramnya meminum khamr berdasar illat hukumnya adalah memabukan. Maka setiap minuman yang terdapat di dalamnya illat sama dengan khamar dalam hukumnya maka minuman tersebut adalah haram.
1. Kelompok jumhur, mereka menggunakan qiyas sebagai dasar hukum pada hal-hal yang tidak jelas nashnya baik dalam Al Qur’an, hadits, pendapat shahabt maupun ijma ulama.
2. Mazhab Zhahiriyah dan Syiah Imamiyah, mereka sama sekali tidak menggunakan qiyas. Mazhab Zhahiri tidak mengakui adalanya illat nash dan tidak berusaha mengetahui sasaran dan tujuan nash termasuk menyingkap alasan-alasannya guna menetapkan suatu kepastian hukum yang sesuai dengan illat. Sebaliknya, mereka menetapkan hukum hanya dari teks nash semata.
3. Kelompok yang lebih memperluas pemakaian qiyas, yang berusaha berbagai hal karena persamaan illat. Bahkan dalam kondisi dan masalah tertentu, kelompok ini menerapkan qiyas sebagai pentakhsih dari keumuman dalil Al Qur’an dan hadits.

B. Rukun dan Syarat Qiyas
1. Rukun Qiyas
Adapun rukun qiyas atau sesuatu yang harus ada dalam qiyas yaitu :
1) Cabang (الفرع) : yang diqiyaskan (المقيس).
2) Pokok/ashl (الأصل) : yang diqiyaskan kepadanya (المقيس عليه)
3) Hukum (الحكم) :
ماإقتضاه الدليل الشرعي من وجوب،أوتحريم،أوصحة،أوفساد،أوغيرها
“Apa yang menjadi konsekuensi dalil syar’i dari yang wajib atau harom, sah atau rusak, atau yang selainnya.”
4) Sebab/’illah (العلة)
المعنى الذي ثثبت بسببه حكم الآصل
“Sebuah makna dimana hukum ashl ditetapkan dengan sebab tersebut.”

2. Syarat-syarat Qiyas :
a. Tidak bertentangan dengan dalil yang lebih kuat darinya, maka tidak dianggap qiyas yang bertentangan dengan nash atau ijma’ atau perkataan shohabat jika kita mengatakan bahwa perkataan shohabat adalah hujjah. Dan qiyas yang bertentangan dengan apa yang telah disebutkan dinamakan sebagai anggapan yang rusak (فاسد الاعتبار). Contohnya : dikatakan : bahwa wanita rosyidah (baligh, berakal, dan bisa mengurus diri sendiri) sah untuk menikahkan dirinya sendiri tanpa wali, diqiyaskan kepada sahnya ia berjual-beli tanpa wali. Ini adalah qiyas yang rusak karena menyelisihi nash, yaitu sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam:
لاَ نِكَاح إِلاَّ بِولِي
“Tidak ada nikah kecuali dengan wali.”

b. Hukum ashl-nya tsabit (tetap) dengan nash atau ijma’. Jika hukum ashl-nya itu tetap dengan qiyas maka tidak sah mengqiyaskan dengannya, akan tetapi diqiyaskan dengan ashl yang pertama, karena kembali kepada ashl tersebut adalah lebih utama dan juga karena mengqiyaskan cabang kepada cabang lainnya yang dijadikan ashl kadang-kadang tidak shohih. Dan karena mengqiyaskan kepada cabang, kemudian mengqiyaskan cabang kepada ashl; menjadi panjang tanpa ada faidah.
Contohnya : dikatakan riba berlaku pada jagung diqiyaskan dengan beras, dan berlaku pada beras diqiyaskan dengan gandum, qiyas yang seperti ini tidak benar, akan tetapi dikatakan berlaku riba pada jagung diqiyaskan dengan gandum, agar diqiyaskan kepada ashl yang tetap dengan nash.

c. Pada hukum ashl terdapat ‘illah (sebab) yang diketahui, agar memungkinkan untuk dijama’ antara ashl dan cabang padanya. Jika hukum ashl-nya adalah perkara yang murni ta’abbudi (peribadatan yang tidak diketahui ‘illah-nya), maka tidak sah mengqiyaskan kepadanya.
Contohnya : dikatakan daging burung unta dapat membatalkan wudhu diqiyaskan dengan daging unta karena kesamaan burung unta dengan unta, maka dikatakan qiyas seperti ini adalah tidak benar karena hukum ashl-nya tidak memiliki ‘illah yang diketahui, akan tetapi perkara ini adalah murni ta’abbudi berdasarkan pendapat yang masyhur (yakni dalam madzhab al-Imam Ahmad rohimahulloh).

d. ‘Illah-nya mencakup makna yang sesuai dengan hukumnya, yang penetapan ‘illah tersebut diketahui dengan kaidah-kaidah syar’i, seperti ‘illah memabukkan pada khomer. Jika maknanya merupakan sifat yang paten (tetap) yang tidak ada kesesuaian/hubungan dengan hukumnya, maka tidak sah menentukan ‘illah dengannya, seperti hitam dan putih.
Contohnya : Hadits Ibnu Abbas rodhiyallohu anhuma : bahwa Bariroh diberi pilihan tentang suaminya ketika ia dimerdekakan, Ibnu Abbas berkata : “suaminya ketika itu adalah seorang budak berkulit hitam”.
Perkataan beliau “hitam” merupakan sifat yang tetap yang tidak ada hubungannya dengan hukum, oleh karena itu berlaku hukum memilih bagi seorang budak wanita jika ia dimerdekakan dalam keadaan memiliki suami seorang budak walaupun suaminya itu berkulit putih, dan hukum tersebut tidak berlaku jika ia dimerdekakan dalam keadaan memiliki suami seorang yang merdeka walaupun suaminya itu berkulit hitam.

e. ‘Illah tersebut ada pada cabang sebagaimana ‘illah tersebut juga ada dalam ashl, seperti menyakiti orang tua dengan memukul diqiyaskan dengan mengatakan “uf”/”ah”. Jika ‘illah (pada ashl, pent) tidak terdapat pada cabangnya maka qiyas tersebut tidak sah.
Contohnya : dikatakan ‘illah dalam pengharoman riba pada gandum adalah karena ia ditakar, kemudian dikatakan berlaku riba pada apel dengan diqiyaskan pada gandum, maka qiyas seperti ini tidak benar, karena ‘illah (pada ashl-nya) tidak terdapat pada cabangnya, yakni apel tidak ditakar.

C. JENIS-JENIS QIYAS
Qiyas terbagi menjadi Qiyas Jali ( جلي ) dan Qiyas Khofi (خفي)
1. Qiyas jali (jelas) adalah : yang tetap ‘illahnya dengan nash atau ijma’ atau dipastikan dengan menafikan perbedaan antara ashl dan cabangnya. Contoh yang ‘illah-nya tetap dengan nash : Mengqiyaskan larangan istijmar (bersuci dengan batu atau yang semisalnya, pent) dengan darah najis yang beku dengan larangan istijmar dengan kotoran hewan, maka ‘illah dari hukum ashl-nya tetap dengan nash ketika Ibnu Mas’ud rodhiyallohu anhu datang kepada Nabi shollallohu alaihi wa sallam dengan dua batu dan sebuah kotoran hewan agar beliau beristinja’ dengannya, kemudian beliau mengambil dua batu tersebut dan melempar kotoran hewan tersebut dan mengatakan : “Ini kotor ( هذا ركس )”, dan ( الركس ) adalah najis (النجس) Contoh yang ‘illah-nya tetap dengan ijma’ : Nabi shollallohu alaihi wa sallam melarang seorang qodhi (hakim) memutuskan perkara dalam keadaan marah. Maka qiyas dilarangnya qodhi yang menahan kencing dari memutuskan perkara, terhadap larangan qodhi yang sedang marah dari memutuskan perkara merupakan qiyas jali karena ‘illah ashl-nya tetap dengan ijma’ yaitu adanya gangguan pikiran dan sibuknya hati. Contoh yang dipastikan ‘illah-nya dengan menafikan perbedaan antara ashl dan cabangnya : Qiyas diharamkannya menghabiskan harta anak yatim dengan membeli pakaian, terhadap pengharoman menghabiskannya dengan membeli makanan karena kepastian tidak adanya perbedaan antara keduanya.
2. Qiyas khofi (samar) adalah : yang ‘illah-nya tetap dengan istimbath (penggalian hukum) dan tidak dipastikan dengan menafikan perbedaan antara ashl dengan cabang. Contohnya : mengqiyaskan tumbuh-tumbuhan dengan gandum dalam pengharaman riba dengan ‘illah sama-sama ditakar, maka penetapan ‘illah dengan takaran tidak tetap dengan nash, tidak pula dengan ijma’ dan tidak dipastikan dengan menafikan perbedaan antara ashl dan cabangnya. Bahkan memungkinkan untuk dibedakan antara keduanya, yaitu bahwa gandum dimakan berbeda dengan tumbuh-tumbuhan.

BAB IV
ISTINBATH HUKUM

A. Istibatth dengan Qiyas
Pada umumnya wasiat adalah peninngalan harta dengan maksimal pemberian 1/3 dari seluruh harta yang mewasiatkan. Untuk menggunakan Istishan sebenarnya hampir sama dengan penggunaan Qiyas, diperlukan empat rukun, yaitu Far’u, Ashl, Hukum Ashl dan persamaan Illah.

1. Far’u atau Maqis dalam masalah ini adalah wasiat menggunakan organ tubuh.
2. Al-Ashl, atau Maqis Alaih dalam masalah ini adalah berwasiat dengan harta, dalam ayat al-Quran, yaitu dalam surat Al-Baqarah ayat 180,
“Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma’ruf, (ini adalah) kewajiban kewajiban atas orang yang bertaqwa.” (Al-Baqarah:180)
3. Hukum ashalnya adalah Ibahah (boleh)
4. Illatnya, penentuan illat hukum dalam masalah ini menggunakan proses ta’lilul hukmi yang mempunyai emapat proses, yaitu :
a. السبر
 bermanfaat, berharga, benda,
b. التقسىم
 Mundhobit : Benda
 Ghaoru Mundhobit : Berharga, bermanfaat
c. تنفيخ المناط
 Benda
d. تحقيق المناط
Jadi untuk persamaan illat antara harta dan organ tubuh adalah benda. Sehingga untuk hukum mewasiatkan organ tubuh adalah boleh.

BAB V
PENUTUP

A. Ringkasan dan Kesimpulan
Agama Islam membolehkan untuk meninggalkan wasiat, yang pada intinya agar bisa menguatkan keturunannya (anak cucu). Pada permasalah ini, mewasiatkan organ tubuh, adalah demi rangka untuk membantu keturannanya maupun sanak saudaranya agar bisa menjadi manusia secara normal secara fisik. Sehingga bisa untuk terjun ke masyarakat dengan maksimal dan mental yang berani.
Sehubungan dengan hal itu dan sesuai dengan hasil qiyas antara organ tubuh dan harta sebagai obyek yang diwasiatkan, maka hukum mewasiatkan organ tubuh adalah Ibahah (boleh).

Daftar Pustaka
Khalaf, Abd. Wahab. 2004. Khalaf. Ilmu Ushul Fiqh. Al Haramain.
Wahba Zuhaili,ilmu ushl al fiqh., juz II.
Dr M.ibn ahmad taqiyah.1999.”masadiru al tasyri’ al islamy”.Lebanon. muasisu al kitab al tsaqofiyah.
Wahbah zuhaily.1990.”Ushul Fiqh”.kuliyat da’wah al islami.
Al ghozali .1997. “al mustasfa,Juz 1” Bairut.daar al ihya’ al turats al ‘araby.
Wahbah zuhaily.1990.”Ushul Fiqh”.kuliyat da’wah al islami. Hlm 89
Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid: 1/ 384
Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah: 1/ 492, Wahbah Az-Zuhaili, Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu: 9/ 662, Imam Asy-Syaukani, Nailul Authar: 13/ 166
Izzuddin bin Abdis Salam, Qawa’idul Ahkam fi Mashalih Al-Ahkam: 2/ 6, Imam Ash-Shan’ani, Subulus Salam:6/100
Taqiyuddin An-Nabhani, Asy-Syakhshiyah Al-Islamiyah: 3/ 116
Undang-undang No. 23 tahun 1992 ttentang Kesehatan
Peraturan Pemerintah No 18 tahun 1981 tentang Otopsi Anatomi, Otopsi Klinik dan Transplantasi Alat dan Jaringan Tubuh Manusia
Peraturan Menteri Kesehatan No. 585 tahun 1989 tentang Persetujuan Tindakan Medis
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 269 tahun 2008 tentang Rekam Medis
DR. Abdul Karim Zaidan dalam bukunya Al-Wajîz Fî Ushûl Fiqhi, Beirut, 2002, Penerbit Muassasah Risalah,

2 thoughts on “Wasiat Organ Tubuh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s