Asghar Ali


BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Ketika Karl Marx berteriak dengan keras bahwa agama itu adalah candu, segenap orang tersentak dan merasa terganggu dari tidur nyenyaknya. Mereka merasa terusik dengan suara-suara berisik demikian, dan mulai memberikan reaksi yang beragam. Wajar saja, karena selama ini mereka menganggap bahwa agama adalah sumber dan tempatnya kedamaian. Orang yang berpegang padanya akan mendapatkan ketentraman hidup dan kedamaian batin. Namun sebenarnya, ketika kita melihat dengan objektif kaca mata atau sudut pandangnya Karl Marx, maka akan kita dapati bahwa dia mengatakan demikian karena dia melihat bahwa agama tidak membawa perubahan bagi kehidupan masyarakat, agama justru digunakan untuk melanggengkan kemapanan, ia adalah candu yang bisa melumpuhkan. Seperti yang dikumandangkan Nietzsche bahwa Tuhan sudah mati. Dan hal ini tentunya tidak bisa dilepaskan dari bagaimana dia memandang agama itu sendiri. Bagi Nietzsche, ide Tuhan dalam agama Kristen telah memusuhi dan memerangi kehidupan dan alam, serta telah juga mengebiri daya-daya vital manusia. Agama Kristen dianggapnya sebagai vampirisme yang mesti dienyahkan. Dan dengan kematian Tuhan, maka manusia tidak lagi dibatasi atau diarahkan oleh dunia transenden, juga tidak lagi berlindung di bawah Tuhan karena sikap pengecut dan penolakannya terhadap dunia.
Berbeda dari kedua tokoh ateis di atas, Asghar Ali Engineer malah memandang sebaliknya. Baginya agama -dalam hal ini Islam – tidak seperti apa yang dianggapkan oleh Karl Marx dan Nietzsche di atas, agama menurutnya bisa dijadikan senjata ideologis yang sangat revolusioner untuk merombak sistem kemapanan yang tidak berprikeadilan, ia dapat mewujudkan cita-cita kehidupan sosial dengan cukup sempurna. Nah, di sini dapat kita lihat bahwa meski dalam kasus yang sama, yaitu dengan adanya ketimpangan sistem sosial dan adanya keinginan untuk melakukan perubahan, mereka pada akhirnya menempuh jalan yang berbeda. Karl Marx dan Nietzsche berusaha melemparkan agama, sedang Asghar tetap mengadopsinya dengan pemahaman yang berbeda.
Ketika mendialektikakan fenomena sosial dengan al-Qur’an, Asghar memusatkan perhatiannya pada ketidakadilan yang berkembang di masyarakat. Baginya, ketidakadilan adalah akar permasalahan tertinggi dalam suatu masyarakat, karena itu ia harus diminimalisir, dan kalau perlu sebisa mungkin dieliminasi. Permasalahan semacam ini menurut Asghar sebenarnya sudah menggejala pasca meninggalnya Nabi. Islam yang dulunya bersifat revolusioner itu segera saja menjadi agama yang kental dengan status qou. Pada abad pertengahan misalnya, praksis feodalistik yang mendapat dukungan para ulama semakin menjadi-jadi. Mereka -para ulama,- lebih banyak menulis buku-buku tentang ibadah-ibadah ritual dan menghabiskan energi untuk mengupas masalah-masalah furu’iyah dalam syari’at, dan sama sekali mengecilkan arti elan vital Islam dalam menciptakan keadilan sosial dan kepedulian yang aktif terhadap kelompok yang lemah dan tertindas (mustad’afin). Dengan kondisi yang begini ini, maka adalah wajar kalau Islam yang diterima masyarakat sekarang adalah Islam yang sarat dengan status qou. Selanjutnya kata Asghar, sekiranya semangat Islam masih menjadi ruh bagi masyarakat, maka seharusnya sistem kapitalisme yang didasarkan atas eksploitasi terhadap sesama manusia harus dihapuskan.
Itulah sekelumit masalah yang ditunjukkan oleh Asghar dalam bukunya Islam dan Teologi Pembebasan. Dan pada kesempatan kali ini, penulis mencoba menelusuri kontinuum pemikirannya dengan mengawali kajian dari pelacakan akan asumsi yang dia bangun, dan kemudian metodologi yang digunakan, serta merujuk pada contoh aplikatif penafsiran dalam kasus tertentu. Adapun dalam penulisan makalah ini, penulis menjadikan buku yang telah disebutkan sebagai rujukan utama. Sedang sebagai tambahan, penulis merujuk pada buku-buku lain yang dikarang oleh Asghar.

1.2. Rumusan Masalah
Dari paparan dalam latar belakang masalah tersebut diatas, dapat dirumuskan pokok masalahnya yakni sebagai berikut :
1) Bagaimanakah Biografi dan Aktivitas Keilmuan Ashgar Ali Engineer ?
2) Apa Faktor Yang Mempengaruhi Pemikiran Asghar Ali Engineer ?
3) Bagaimanakah Pemikiran dan Gagasan Yang Ditawarkan Asghar Ali Engineer ?
1.3. Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1) Mengetahui Biografi dan Aktivitas Keilmuan Ashgar Ali Engineer ?
2) Mengetahui Faktor Yang Mempengaruhi Pemikiran Asghar Ali Engineer ?
3) Mengetahui Pemikiran dan Gagasan Yang Ditawarkan Asghar Ali Engineer ?

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Biografi dan Aktivitas Keilmuan Ashgar Ali Engineer
Ashgar Ali Engineer dilahirkan di Rajastan, dekat Udaipur, India, pada tanggal 10 Maret 1940 dalam keluarga yang berafiliasi ke Syi’ah Isma’iliyah. Adapun ayahnya bernama Sheikh Qurban Husain, dan ibunya bernama Maryam. Dalam hal ini, ayahnya merupakan seorang pemuka agama yang mengabdi kepada pemimpin keagamaan Bohra. Melalui ayahnya, Asghar Ali Engineer mempelajari ilmu-ilmu keislaman seperti teologi, tafsir, hadis dan fiqh. Bahkan ia juga pernah menempuh pendidikan formal dari tingkat dasar dan lanjutan pada sekolah yang berbeda-beda, seperti Hoshangabad, Wardha, Dewas dan Indore. Adapun pendidikan tingginya dimulai pada tahun 1956. Enam tahun kemudian, yaitu tahun 1962, ia berhasil menyelesaikannya dan akhirnya memperoleh gelar Doktor dalam bidang teknik sipil dari Vikram University, Ujjain (India).
Di samping itu, Asghar Ali Engineer juga menguasai berbagai bahasa, seperti Inggris, Arab, Urdu, Persia, Gujarat, Hindi dan Marathi. Dengan menguasai berbagai bahasa tersebut Asghar Ali Engineer mempelajari dan menekuni masalah-masalah agama. Ia mempelajari fiqh perbandingan yang meliputi empat mazhab sunni dan juga mazhab Syi’ah Isma’iliyah. Dia sangat membela pada hak-hak wanita dalam Islam dan mempelajari berbagai mazhab hukum serta berusaha mengambil putusan yang paling baik tentang wanita dari mazhab-mazhab tersebut dengan jalan talfiq. Bahkan dengan serius ia membaca tentang rasionalisme, baik yang berbahasa Urdu, Arab ataupun Inggris. Asghar Ali Engineer juga membaca tulisantulisan Niyaz Fatehpuri (seorang penulis berbahasa Urdu yang terkenal dan pengkritik ortodoksi), Bertrand Russel (seorang filosof rasional asal Inggris), dan juga karya monumental Karl Marx, Das Capital.
Asghar mengakui bahwa pemikirannya banyak dipengaruhi oleh para pemikir ini. Sedangkan untuk tafsir al-Qur’an, dia membaca karya tokoh-tokoh Islam seperti Sir Sayyid Ahmad Khan (meninggal 1898) dan Maulana Abu al-Kalam (meninggal 1958). Engineer juga telah membaca hampir semua karya besar tentang Dakwah Fatimi yang ditulis oleh, antara lain, Sayedna Hatim, Sayedna Qadi Nu‘man, Sayedna Muayyad Sirazi, Sayedna Haminuddin Kirmani, Sayedna Hatim ar-Razi dan Sayedna Ja’far Mansur al-Yaman. Tak ketinggalan juga, Rasa’il Ikhwanus Safa, sebuah sintesis antara akal dan wahyu, turut serta membentuk wacana intelektual Asghar.
Di samping sebagai pemikir, Asghar Ali Engineer juga adalah seorang aktifis sekaligus seorang Da‘i yang memimpin sekte Syi‘ah Isma‘iliyah, Daudi Bohras yang berpusat di Bombay India. Untuk diakui sebagai Da‘i tidaklah mudah. Ia harus memenuhi 94 kualifikasi yang secara ringkasnya dibagi dalam empat kelompok. Pertama, kualifikasi-kualifikasi pendidikan. Kedua, kualifikasi-kualifikasi administratif. Ketiga, kualifikasi-kualifikasi moral. Keempat, kualifikasi-kualifikasi keluarga dan kepribadian. Bahkan yang lebih menarik lagi, di antara kualifikasi tersebut, seorang Da‘i harus tampil sebagai pembela umat yang tertindas dan berjuang melawan kezaliman. Baginya, harus ada keseimbangan antara refleksi dan aksi.
Dengan memahami posisi Asghar Ali Engineer di atas, maka tidaklah mengherankan mangapa ia sangat vokal sekali dalam memperjuangkan dan menyuarakan pembebasan. Suatu tema yang menjadi ruh pada setiap karyanya, seperti hak asasi manusia, hak-hak wanita, pembelaan rakyat tertindas, perdamaian etnis, agama, dan lain-lainnya. Itulah sebabnya, ia banyak terlibat bahkan memimpin organisasi yang memberikan banyak perhatian kepada upaya advokasi sosial. Meskipun harus bertentangan dengan generasi tua yang cenderung bersikap konservatif, dan pro status qou. Hal ini terjadi ketika sekte Daudi Bohra dipimpin oleh Sayyidina Muhammad Burhanuddin yang dikenal sebagai Da‘i mutlak (absolute preacher).
Sebagai seorang Da‘i mutlak, Burhanuddin mempunyai otoritas absolut dan bahkan ia beranggapan bahwa kekuatan yang tersembunyi dari seorang Imam berasal dari Nabi dan Allah sehingga semua pengikut Bohra diharuskan tunduk kepadanya, kecuali jika ingin menghadapi penyiksaan. Melihat realita di atas, maka pada tahun 1972 ketika terjadi gerakan revolusi di Udaipur, Asghar Ali Engineer mulai terjun ke arena gerakan pembaharuan Bohra untuk menetang eksploitasi atas nama agama. Dia memimpin gerakan kaum reformis menentang apa yang mereka sebut sebagai otoritarianisme dan rigiditas pemimpin Bohra. Asghar Ali Engineer menyerukan perlunya tafsir liberal terhadap Islam yang dapat mengakomodasi hak-hak individu, martabat manusia dan nilai-nilai kemanusiaan. Penentangan terhadap pemimpin Bohra tersebut bukan hanya mendapat reaksi keras, tetapi juga berakibat terjadinya beberapa kali usaha pembuhuhan. Di antaranya terjadi pada tanggal 8 Nopember 1977 di Calcutta dan di Heiderabad pada tanggal 26 Desember 1977.
Di samping aktifis, Asghar Ali Engineer juga mendirikan sebuah institut pada tahun 1980 yang terutama sekali memfokuskan pada dua bidang, yaitu : (1), kerukunan antar umat agama, (2), studi-studi wanita dari persfektif Islam. Karena kegigihan dan kesungguhan usahanya tersebut, Asghar Ali Engineer di anugerahi gelar kehormatan D. Lit. (Doctor of Literature) oleh Universitas Calcuta pada tahun 1993 atas jasa dan publikasinya di Communal Harmony and Interreligious Understanding yaitu di bidang kerukunan dan pemahaman antar agama. Bahkan, Asghar Ali Engineer juga memperoleh National Communal Harmony Award atas kerja kerasnya di Communal Harmony oleh National Foundation for Communal Harmony, pada tahun 1997 berkat perhatian yang besar dan partisipasinya dalam upaya pemecahan konflik yang diakibatkan oleh adanya pluralisme agama dan kelompok yang berbeda di India dalam mewujudkan kehidupan yang harmonis dan berbagai penghargaanlainnya seperti Hakim Khan Sur Award oleh Maharana Mewar Foundation, Udaipur, Rajasthan.
Adapun jabatan yang pernah ia pegang adalah Wakil Presiden pada People’s Union for Civil Liberties, Pemimpin Rikas Adhyayan Kendra (Centre for Development Studies), Pimpinan EKTA (Committee for Communal Harmonyi), Ketua Pendiri pada Centre for Study of Society and Secularism, Mantan Dewan Eksekutif Universitas Jawaharlal Nehru, Delhi, Sekretaris Umum pada Board of Dawoodi Bohra Community dan Convenor Asian Muslims’ Action Network (AMAN). Di samping aktif dalam organisasi, Asghar juga aktif dalam akademik pendidikan. Ia pernah memberikan kuliah di universitas diberbagai negara seperti, Amerika, Kanada, Inggris, Swiss, Thailand, Malaysia, Indonesia, Sri Langka, Pakistan, Yaman, Mesir, Hongkong dan lain-lainnya.
Sebagai seorang pemikir-reformis, lebih-lebih kapasitasnya sebagai Directur of Islamic Studies di Bombay, dan mantan anggota Dewan Eksekutif Universitas Jawaharlal Nehru, di India, Asghar sangat rajin dalam menuangkan ide-ide pemikirannya di berbagai forum ilmiah baik dalam seminar, perkuliahan, lokakarya, maupun simposium di berbagai negara. Bahkan dalam mensosialisasikan pemikirannya, Asghar Ali Engineer aktif menulis maupun sebagai penyunting di berbagai penerbitan. Sehingga tidak lebih dari 38 buku yang telah ia terbitkan.
2.2. Faktor Yang Mempengaruhi Pemikiran Asghar Ali Engineer
Perbincangan tentang agama (religion) tidak akan pernah terputus, bahkan terus berkembang seiring dengan situasi dan kondisi manusia yang menjadikannya sebagai pedoman (way of life) dan bahan studi di berbagai kalangan. Perbincangan selama ini adalah cara pandang manusia terhadap agama itu sendiri dan mengamlkannya dalam kehidupan bermasyarakat. Wacana klasik sering menempatkan agama sebagai suatu yang absolute tentang kebenaran hidup dan kehidupan dan menempatkannya suatu yang sakral, untouchable dengan berbagai alasan, dan cara memahaminya secara doktriner, sehingga terkesan kaku tidak menciptakan ruang atas ranah kritis manusia.
Agama juga disikapi sebagai suatu yang given dan lebih menonjolkan sisi hubungan manusia dengan Tuhan (worship), dari pada ranah sosial. Kehadiran pemikir kontemporer seperti Asghar Ali Engineer melihat bahwa pendekatan kepada Agama pada masa klasik telah mengakibatkan kejumudan berfikir kaum muslim yang sudah jauh tertinggal dengan non muslim dalam ilmu pengetahuan dan kebudayaan.
Pada saat ini muncul lontaran pemikiran bahwa diperlukan metodologi dalam memahami dan memahamkan agama, yaitu harus ada perimbangan terhadap sisi normativitas agama dengan tidak melupakan sisi historisitas agama. Cara pandang normativitas adalah pemahaman agama yang lebih berorietasi pada hubungan manusia dengan Tuhan dan terfokus pada kajian teks dengan tidak mengedepankan sisi rasionalitas. Sedangkan historisitas, adalah bagaimana memahami agama dan teks yang ada dengan melihat sisi-sisi historis yang melatarbelakanginya, atau gejala-gejala sosial kultural yang melingkupinya.
Pembaharuan pemikiran ini muncul sebagai kegelisahan pemikir kontemporer yang melihat realitas keberagamaan umat Islam yang telah lama terkungkung dalam kejumudan, maka lontaran pemikiran di atas menjadi sebuah revolusi teologis menuju teologi transformative untuk menjawab realitas kekinian. Pemikiran inilah yang menjadi concern Asghar Ali Engineer, seorang pemikir dari India untuk melakukan perubahan fenomenal dari carapandang dan sikap kaum muslim dalam beragama. Gerakan ini dimulai bukan saja dengan tulisan-tulisan tentang perlunya pembebasan teologi, tapi juga Asghar Ali lakukan dengan membentuk lembaga yang secara aktif mengkampanyekan perlunya perubahan pemikiran dikalangan muslim yang lebih adaptif dan transformatif.
Bagi Asghar Ali Ada beberapa alasan mengapa diperlukan pembenahan terhadap teologi menuju pembebasan, diantaranya: pertama, bahwa dalam kurun waktu yang cukup lama teologi menjadi suatu yang status quo, stagnan, dan tidak memberikan kontribusi terhadap kemajuan berfikir kaum muslimin, kedua, sekian lama juga teologi dijadikan alat bagi penguasa dalam melanggengkan kekuasaan dengan atas nama agama, ketiga, teologi sering dijalankan hanya pada ranah metafisik dan tidak menyentuh sisi subtansi keadilan, kedamaian, kemakmuran bagi kaum muslimin, bahkan justru menjadi jalan bagi halalnya radikalisme dan penindasan.
Lontaran pemikiran Asghar Ali ini tidak serta merta muncul begitu saja, melainkan adanya pengamatan terhadap realitas yang terjadi, khususnya di India, Negara dimana ia tinggal, terdapat gejolak sosial yang luar biasa dimana agama-agama tersebar, dan secara teologis mengusung semangat ketuhanan, tetapi pada kenyataannya bertolak belakang dengan esensi kedamaian dan kesejahteraan umat manusia. Dia melihat begitu hebat pergesekan (konflik) kelompok masyarakat yang mengatasnamakan agama dan banyak menelan korban. Selain itu juga realitas adanya struktur sosial yang mengenal kelas di India sangat menghambat bagi hak-hak warga Negara untuk mendapatkan hidup yang layak. Sehingga menurut hemat penulis, lontaran gagasan tentang teologi pembebasan merupakan suatu yang fenomenal dan mendekontruksi pemikiran traditional-teologic dengan melakukan upaya aktif melalui berbagai gerakan-gerakan perspektif Teologi Pembebasan yang menuntut perubahan struktur sosial yang tidak adil dan menindas.
2.3. Karakteristik Pemikiran Asghar Ali Engineer
Sebelum melangkah lebih jauh mengenai metodologi pemikiran seorang tokoh, terlebih dulu kita harus mengetahui karakteristik yang menjadi landasan pemikiran Asghar. Adapun landasan pemikiran Asghar di antaranya adalah :
1) Mengenai hubungan akal dan wahyu.
Asghar berpendapat bahwa akal merupakan instrumen penting bagi manusia. Akan tetapi, akal sendiri tidak akan sanggup dalam memperoleh kebenaran dan menjelaskan secara memuaskan tentang dunia, realitas, arti dan makna kehidupan manusia. Oleh karena itu, manusia membutuhkan wahyu sebagai komplementer dari akal. Asghar mengungkapkan bahwa kebenaran bukanlah semata-mata kesesuaian dengan kenyataan, bukan pula sesuatu yang bersifat transendental semata, namun ia harus keduanya sekaligus. Dengan demikian, akal dan wahyu dalam proses pemahaman kebenaran harus saling menunjang satu sama lain.17 Artinya, wahyu dan akal berfungsi komplementer, yang satu tidak akan komplit tanpa yang lain. Wahyu berfungsi sebagai alat untuk memahami tujuan hidup dan memperkaya aspek spiritualitas. Sementara akal berfungsi sebagai alat dalam memahami realitas fisik dari alam dan juga memperkaya kahidupan material manusia.
2) Mengenai pluralitas agama.
Asghar berpendapat bahwa pluralitas dan diversitas agama sangat positif. Namun sebaliknya, sektarianisme keagamaan sebagai hal yang merusak. Fanatisme keagamaan dapat menggiring manusia ke arah ekslusivisme agama yang hanya memandang bahwa agamanyalah yang paling benar (truth claim), sedangkan yang lain adalah salah. Kondisi demikian menurut Asghar, merupakan akar masalah munculnya konflik agama. Untuk menghindari konfilk tersebut, diperlukan adanya sikap inklusif, toleran dan menghormati keyakinan orang lain. Sebab menurut Asghar, pluralisme agama akan memperkaya kehidupan spiritual dan meningkatkan kreativitas manusia. Dalam pandangannya, ada kesatuan transendental yang menghubungkan semua agama. Perbedaan tersebut hanya pada tingkat permukaannya saja daripada esensi atau substansi agama itu sendiri. Karena pada dasarnya beragamnya keyakinan manusia itu hanyalah “jalan yang berbeda” untuk mencapai tujuan yang sama. Oleh karenanya menurut Asghar, seseorang yang tidak dapat menghormati keyakinan orang lain berarti tidak dapat menghormati keyakinannya sendiri yang genuine(asli). Bahkan untuk memperkuat paham pluralisme ungkap Asghar, kita harus menanamkan dan mengembangkan sikap menghargai semua agama dan budaya secara adil tanpa ada perasaan saling curiga di antara semua agama.18
3) Mengenai keberagamaan seseorang.
Asghar berpendapat bahwa seseorang dikatakan beragama jika ia memiliki sensitifitas dan empati terhadap penderiataan kelompok masyarakat yang lemah dan terindas. Sensitifitas inilah yang membuat ia baru diakui dan sebagai tanda akan keberagamaannya. Di samping itu, Asghar mengatakan bahwa seseorang yang mendukung dan atau fasif terhadap ketidakadilan sosial bukanlah orang yang taat beragama. Apalagi jika seseorang tersebut hanya diam saja dan tidak peduli terhadap adanya eksploitasi dan ketidakadilan, maka sama saja seseorang tersebut telah turut serta dalam proses pelanggengan eksploitasi dan ketidakadilan tersebut.19 Padahal al-Qur’an secara tegas mengutuk penindasan dan ketidakadilan. Oleh karenanya, dia berpendapat bahwa untuk menjadi Muslim sejati, seseorang harus turut serta memberi andil terhadap pembentukan masyarakat yang adil dengan jalan memelihara anak yatim, orang yang membutuhkan serta orang yang tertindas dan terzalimi. Bahkan secara tegas dia mengatakan bahwa orang kafir adalah orang yang tidak percaya pada Allah dan secara aktif menentang usaha-usaha yang jujur untuk membentuk kembali masyarakat, penghapusan penumpukan kekayaan, penindasan, eksploitasi dan segala bentuk ketidakadilan lainnya.20 Dengan kata lain, kesejatian keberagamaan seseorang salah satu tolak ukurnya adalah sejauh mana ia berjuang melawan segala bentuk ketidakadilan dan eksploitasi, termasuk di dalamnya eksploitasi atas nama agama
2.4. Metodologi Pemikiran Asghar Ali Engineer.
1. Hermeneutik
Hermeneutik sebagai sebuah metode penafsiran selalu berusaha memahami suatu teks agar diperoleh suatu pemahaman yang benar. Adapun kaitannya dengan dengan teks suci, hermenutik selalu bermaksud menghidupkan atau merekonstruksi makna teks suci tersebut. Karena adanya suatu teks tidak bisa lepas dari ruang dan waktu. Sedangkan upaya ini berada dalam jaringan antara pengarang (the author), dan pembaca (the reader), tanpa terlepas dari konteks psiko-sosial ketika teks itu terbentuk. Begitu juga halnya dengan al-Qur’an, sebagai teks kitab suci yang muncul dalam realitas sejarah harus selalu diperlakukan demikian. Sebagai pemikir dan mufassir liberal terhadap suatu teks yang dianggap bias gender yang hidup dalam konteks tertentu, Asghar selalu berusaha meleburkan teks ke dalam konteks dengan maksud untuk mengetahui apa sesungguhnya makna yang terkandung di dalamnya. Hal itu bisa dilihat pada bagaimana ia selalu memulai pembahasan dengan konteks sosio-historis kemunculan konsep-konsep keagamaan dan konteks sekarang dalam memahami berbagai ajaran agama.
Dengan kerangka berpikir demikian, dapat dilihat bahwa Asghar dalam memahami berbagai teks dalam al-Qur’an juga menggunakan metode hermeneutik. Namun sebelum melangkah lebih mendalam mengenai metode hermeneutik menurut Asghar, terlebih dulu penyusun menjelaskan apa itu metode hermenutik.
Secara etimologi, hermeneutik berasal dari bahasa Yunani, hermeneuein, yang berarti menafsirkan. Adapun kata bendanya adalah hermeneia yang secara harfiah diartikan sebagai penafsiran atau interpretasi.21 Oleh karena itu, secara terminologis hermeneutik adalah sebuah ilmu dan seni dalam menginterpretasikan sebuah teks.22 Kata hermeneutik pada mulanya merujuk pada nama dewa Yunani Kuno, Hermes, yang tugasnya menyampaikan berita dari Sang Maha Dewa yang dialamatkan kepada manusia. Oleh karena itu, fungsi Hermes sangat penting sebab bila terjadi kesalahpahaman tentang pesan tersebut berakibat fatal bagi seluruh umat manusia. Hermes harus mampu menginterpretasikan sebuah pesan ke dalam bahasa yang dipergunakan oleh pendengarnya. Sejak saat itu Hermes menjadi simbol seorang duta yang dibebani dengan misi tertentu. Berhasil atau tidak misi itu, sepenuhnya tergantung pada cara bagaimana pesan itu disampaikan.23
Sebagai metode penafsiran, hermeneutik selalu hadir dalam usaha memahami teks sejarah dan teks kitab suci sedangkan teks itu sendiri mengalami perkembangan makna, maka untuk memperoleh pemahaman yang benar yang hendak dicapai oleh pembaca, hermeneutik tidak cukup hanya mendasarkan pada teks atau pun pemahaman semantikal, melainkan perlu melibatkan faktor psikologis dan sosiologis agar tidak terkecoh oleh teks semata. Oleh karena itu, seluruh detail sebuah teks hanya bisa dipahami dari konteks dan cakupan maknanya.24 Demikian juga halnya dengan metode hermeneutik yang digunakan Asghar. Menurut Asghar, pemakaian metode ini didasarkan pada adanya suatu keyakinan bahwa al-Qur’an tidak bisa dipahami secara teologis dengan terlepas dari kerangka sosiologisnya.
Dalam menginterpretasikan kitab suci, Asghar lebih mengedepankan nilai-nilai dasar atau substansi yang terkandung di dalamnya dari pada mengedepankan hal-hal yang bersifat legal-formalnya. Oleh karenanya, ada beberapa hal yang mesti digaris-bawahi oleh Asghar ketika memahami al-Qur’an, khususnya yang berkaitan dengan ayat-ayat al-Qur’an yang dianggap bias gender. Pertama, al-Qur’an itu mempunyai dua aspek, yaitu normatif dan kontekstual.25 Apa yang dimaksud dengan aspek normatif merujuk kepada sistem nilai dan prinsip-prinsip dasar dalam al-Qur’an, seperti prinsip persamaan, kesetaraan dan keadilan. Prinsip-prinsip ini bersifat eternal dan dapat diaplikasikan dalam berbagai konteks ruang dan waktu. Sedangkan aspek kontekstual dalam al-Qur’an berkaitan dengan ayat-ayat yang diturunkan untuk merespon problem-problem sosial tertentu pada masa itu. Oleh karenanya, seiring perkembangan zaman pemahaman terhadap ayat-ayat tersebut ikut berubah sesuai dengan konteks ruang ruang dan waktu agar tetap relevan dengan zamannya.
Adapun tujuan pembedaan di atas adalah untuk mengetahui perbedaan antara apa yang sebenarnya diinginkan Allah dan apa yang dibentuk oleh realitas empiris masyarakat pada waktu itu. Keduanya merupakan kekayaan al-Qur’an. Karena kitab suci ini tidak hanya concern terhadap masyarakat ideal, atau “apa yang seharusnya”, akan tetapi juga mempertimbangkan realitas empiris, atau ”apa yang terjadi”. Dialektika antara das sollen dan das sein membuat al-Qur’an dapat diterima oleh masyarakat dalam konteks sosial tertentu di mana ayat-ayat tersebut diturunkan dan dapat pula dijadikan rujukan sebagai norma-norma dan prinsip-prinsip universal yang dapat diberlakukan di masa depan ketika realitas masyarakat lebih kondusif dalam menerima suatu perubahan.26
Kedua, penafsiran ayat-ayat al-Qur’an sangatlah tergantung persepsi, pandangan dunia, pengalaman dan latar belakang sosio-kultural di mana si penafsir itu berada. Oleh karenanya, penafsiran terhadap fakta empiris atau teks dari sebuah kitab suci senantiasa tergantung kepada posisi apriori seseorang, karena setiap orang memiliki semacam weltanschauung(apriori).27 Dengan demikian, penafsiran terhadap al-Qur’an selalu dipengaruhi oleh kondisi sosio-kultural, tak seorang pun yang bisa lepas dari pengaruh seperti itu. Tidaklah mengherankan seandainya satu ayat dapat memberi inspirasi bagi beragam tafsir dan terdapat perbedaan antara mufassir yang satu dengan mufassir lainnya.
Ketiga, makna ayat-ayat al-Qur’an itu terbuka untuk sepanjang waktu. Oleh karena itu, interpretasi ulama abad pertengahan bisa jadi sangat berbeda dari pemahaman yang diterima oleh seorang ulama yang hidup di dunia modern. Hal ini disebabkan karena al-Qur’an itu seringkali memakai bahasa simbolik atau metaforis yang mempunyai makna ambigu. Ambiguitas ini dimaksudkan untuk membuka peluang fleksebilitas dalam melakukan perubahan yang kreatif dan konstruktif. Asghar mengajak untuk menafsirkan bahasa simbolik al-Qur’an ini dari sudut pengalaman pribadi.28
Dengan demikian, Asghar dalam menginterpretasi suatu teks selalu mengacu kepada konteks sosio-historis dengan maksud untuk mengetahui apa sesungguhnya makna yang terkandung dalam teks tersebut. Oleh karenanya, al-Qur’an tidak bisa hanya dipahami secara teologis semata, namun juga harus dipahami berdasarkan sosiologisnya.
2. Filsafat Praksis.
Di samping menggunakan metode hermeneutik dalam kerangka pemikirannya, Asghar juga menggunakan filsafat praksis.29 Hal ini dapat dilhat dalam berbagai tulisannya yang lebih menitikberatkan pada praksis ketimbang teoritisasi metafisik. Di antaranya Asghar mengatakan : “Perlu dicatat bahwa teologi pembebasan itu lebih menitikberatkan pada praksis daripada teoritisasi metafisis yang mencakup hal-hal yang abstrak dan konsep-konsep yang ambigu. Praksis yang dimaksud adalah sifat liberatif dan menyangkut interaksi dialektis antara “apa yang ada” (is) dan “apa yang seharusnya” (ought)”.30
Dalam hal ini, filsafat praksis merupakan sebuah pemikiran yang lebih menekankan kepada kesatuan dialektis antara teori dan aksi, teori dan praksis, iman dan amal. Praksis bukan hanya sekedar aksi, tingkah laku, ataupun praktek sebagaimana lazim dipahami orang. Praksis memiliki makna yang bertujuan memperoleh kebenaran secara mendalam bahwa arah sejarah bukanlah ditentukan oleh takdir Tuhan semata, melainkan juga ditentukan oleh usaha manusia. Di samping itu, praksis dimaknai sebagai suatu tindakan partisipatif manusia dalam sejarah dan berperan aktif dalam memperjuangkan emansipasi manusia dari relasi-relasi kemasyarakatan yang memperbudak.31
Adapun filsafat ini banyak dipegangi oleh para ilmuwan sosial yang menghendaki adanya perubahan secara radikal. Karl Marx dan Mazhab Frankfurt32 dapat dikatakan merupakan representasi dari peletak dasar filsafat ini. Misalnya Marx memandang masyarakat tidak bersifat statis, melainkan secara dinamik. Masyarakat mengalami perkembangan melalui dialektika materialisme. Maksud materialisme Marx di sini adalah bahwa kebudayaan didasarkan atas pertimbangan material, yaitu ekonomi. Materialisme yang diajarkannya bersifat kesejarahan dan dialektik. Mengapa dikatakan bersifat kesejarahan karena ikut berubah dengan berubahnya sejarah dan mempengaruhi sejarah. Sedangkan dikatakan bersifat dialektik karena sejarah senantiasa berada dalam suatu proses dialektik, yaitu terjadi ketegangan antara alam dengan budaya, antara modal dengan kaum proletar dalam menentukan gerak proses sejarah.33 Agar dapat tercipta masyarakat yang bersifat sosial, utuh dan terbuka, di mana manusia menarik kembali kekuatan-kekuatan hakikatnya yang terasing ke dalam dirinya sendiri. Oleh karena itu, masyarakat tidak lagi berdasarkan akomodasi lahiriyah egoisme-egoisme yang hanya berdasarkan paksaan negara atau pertimbangan untung-rugi, melainkan berdasarkan kerja sama dan komunikasi bebas dan spontan.34
Selain Karl Marx, Mazhab Frankfurt merupakan suatu kelompok yang mesti disebut jika hendak menjelaskan kecenderungan filsafat praksis. Cara berpikir mereka disebut sebagai teori kritis yang bertujuan membebaskan manusia dari pemanipulasian para teknokrat modern. Adapun teori ini bertitik tolak dari pemikiran Marx, namun sekaligus melampaui dan meninggalkan dia disebabkan masalah yang dihadapi makin kompleks yaitu masyarakat industri maju secara lebih kreatif dan inovatif.
Dalam pandangan Mazhab Frankfurt bahwa teori tidak bisa dilepaskan dari praksis dan tidak ada ilmu pengetahuan yang bebas nilai atau dalam istilah Jurgen Habermas bahwa sikap teoretis selalu diresapi dan dijuruskan oleh kepentingan manusiawi tertentu.35 Mereka menggugat aliran positivisme yang menganggap bahwa ilmu-ilmu sosial membebaskan nilai (free value), yang mana ilmu terlepas dari praktik sosial dan moralitas dan dapat dipakai untuk prediksi, bersifat objektif dan sebagainya. Anggapan semacam itu oleh Mazhab Frankfurt hanya menunjang terjadinya status quo dibalik kedok obyektivitas. Oleh karena itu, teori kritis tidak hanya bersifat komtemplatif saja, melainkan memandang diri sebagai pewaris cita-cita Karl Marx sebagai teori yang menjadi emansipatoris yang tujuannya berusaha mengembalikan kemerdekaan dan masa depan manusia serta membebaskan mereka dari segala belenggu penghisapan dan penindasan manusia oleh manusia.37
2.3. Asumsi dan Metodologi dalam Teologi Pembebasan
Kata teologi sebagaimana dijelaskan dalam Encyclopaedia of Religion and Religions berarti “ilmu yang membicarakan tentang Tuhan dan hubungan-Nya dengan alam semesta, namun seringkali diperluas mencakup keseluruhan bidang agama.” Dalam pengertian ini agaknya perkataan teologi lebih tepat dipadankan dengan istilah fiqih, dan bukan hanya dengan ilmu kalam atau ilmu tauhid. Istilah fiqih di sini bukan dimaksudkan ilmu fiqih sebagaimana kita pahami selama ini, melainkan istilah fiqih seperti yang pernah digunakan sebelum ilmu fiqih lahir. Imam Abu Hanifah, bapak ilmu fiqih, menulis buku al-fiqh-u ‘l-akbar yang isinya bukan tentang ilmu fiqih, tapi justru tentang aqidah yang menjadi obyek bahasan ilmu kalam atau tauhid. Boleh jadi, ilmu fiqih seperti yang berkembang sekarang ini dalam kerangka pemikiran Imam Abu Hanifah adalah al-fiqh-u ‘l-ashghar. Sebab, keduanya baik ilmu kalam atau ilmu tauhid maupun ilmu fiqih pada dasarnya adalah fiqih atau pemahaman yang tersistematisasikan. Yang pertama, menyangkut bidang ushuliyah (tentang yang prinsip atau yang pokok), sedangkan yang kedua meyangkut bidang furu’iyah (detail atau cabang). Akan tetapi perjalanan sejarah dan tradisi keilmuan Islam telah menyingkirkan pengertian fiqih sebagaimana dipergunakan Imam Abu Hanifah. Dengan menyinggung masalah ini, hanya ingin dikatakan bahwa pemakaian istilah teologi oleh Asghar mempunyai alasan cukup kuat, sebab ia membantu kita memahami Islam secara lebih utuh dan lebih terpadu.
Berangkat dari penjelasan di atas, maka dapat kita pahami, bahwa asumsi teologi pembebasan Asghar adalah: pertama, dimulai dengan melihat kehidupan manusia di dunia dan akhirat. Kedua, teologi ini tidak menginginkan status quo yang melindungi golongan kaya yang berhadapan dengan golongan miskin, atau dengan kata lain teologi pembebasan ini anti kemapanan (establishment), apakah ia kemapanan religius maupun politik. Ketiga, teologi pembebasan memainkan peranan dalam membela kelompok yang tertindas dan tercabut hak miliknya, serta memperjuangkan kepentingan kelompok ini dan membekalinya dengan senjata ideologis yang kuat untuk melawan golongan yang menindasnya. Keempat, teologi pembebasan tidak hanya mengakui satu konsep metafisika tentang takdir dalam rentang sejarah umat Islam, namun juga mengakui konsep bahwa manusia itu bebas menentukan nasibnya sendiri. Dan pada hakikatnya teologi ini mendorong pengembangan praksis Islam sebagai hasil tawar-menawar antara kebebasan manusia dan takdir. Ia lebih menganggap keduanya sebagai pelengkap daripada sebagai konsep yang berlawanan.
Selanjutnya mengenai sumber, penulis melihat bahwa Asghar menjadikan sejarah nabi dan sahabat sebagai sumber utama tulisannya. Namun itu semua tidaklah berarti Asghar menjadi apriori, karena sebagaimana yang penulis ketahui, sejarah nabi itu digunakan oleh Asghar sebagai teman berdialektika dengan fenomena yang terjadi di berbagai belahan dunia ketiga, dan bukan dibaca secara teksual.
Penulis membaca, bahwa metodologi yang digunakan oleh Asghar dalam merumuskan teologi pembebasannya adalah sebagaimana yang terlihat pada asumsi dasar di atas, bahwa Asghar berusaha terlebih dahulu melihat kehidupan di dunia dan di akhirat, dengan berkeyakinan bahwa konsep takdir itu tidak hanya terletak pada konsep metafisika tentang takdir dalam rentang sejarah umat Islam, namun juga mengakui konsep bahwa manusia itu bebas menentukan nasibnya sendiri. Dan ini berarti, bahwa di samping Tuhan ada manusia yang membuat sejarah hidupnya sendiri. Nah, untuk memperoleh pengetahuan mengenai kebebasan manusia itu, Asghar melakukan penelitian tentang sejarah panjang kehidupan manusia, terutama mengenai relasi antara mustakbirin (orang-orang yang kuat dan sombong) dan mustadh’afin (orang-orang yang lemah dan tertindas). Dalam penelitiannya, Asghar mendapati bahwa dalam hubungan itu, kaum mustadh’afin selalu saja menempati posisi yang dirugikan. Dan dalam rentang itu pula, dia melihat bahwa dalam spasio temporal yang berbeda-beda, ada saja orang-orang dalam agama-agama tertentu yang menyuarakan pembebasan dari belenggu relasi yang tidak seimbang itu. Intinya, manusialah yang menentukan penindasan terhadap manusia yang lain, dan untuk itu manusia jugalah yang seharusnya membebaskan belenggu penindasan tersebut.
Menurut Asghar ada beberapa contoh untuk hal itu. Di antara sekian agama yang ada, agama Budha, Kristen dan Islam adalah agama yang menentang status qou. Tiga agama ini mendorong terciptanya tatanan baru revolusioner. Bahkan agama Yahudi ketika nabi Musa masih hidup, mengecam dan menantang raja Fir’aun sebagai seorang raja yang kejam. Demikian pula yang terjadi di Iran dan Philipina membuktikan bahwa agama merupakan pendorong untuk menyingkirkan status quo. Islam di Iran menggulingkan Syah, dan Kristen di Philipina merobohkan Marcos. Dari pengetahuan empiris inilah Asghar berupaya mencari jawabannya melalui sejarah nabi Muhammad, dan kemudian merumuskan suatu teologi yang dikenal dengan teologi pembebasan.
Bila kita lihat kontinuum pemikiran Asghar yang demikian, maka dapatlah kita simpulkan bahwa metodologi yang dilakukan oleh Asghar untuk memahami sejarah dan menetapkan formulasinya itu adalah metode hermeneutik. Di sini konteks dipahami secara seksama, kemudian ia didialogkan dengan teks, dan pada gilirannya diambillah suatu pemahaman atau rumusan yang juga pada urutannya dipergunakan untuk menangani masalah tertentu. Dan formulasi yang diangkat dari dialektika antara konteks dan teks, yang kemudian dipergunakan sebagai senjata untuk membebaskan kaum mustadh’afin ini juga disebut dengan metode filsafat praksis.
Dalam menafsirkan al-Qur’an, menurut Asghar yang perlu diperhatikan antara lain: pertama, bahwa al-Qur’an itu mengandung dua unsur yang tidak bisa dipisahkan, yaitu unsur normative dan kontekstual. Perbedaan ini penting untuk diperhatikan, kalau tidak, maka akan berakibat fatal bagi pemahaman. Yang normatif menurut Asghar adalah ajaran-ajaran yang mengandung nilai-nilai fundamental, seperti kesetaraan dan keadilan. Prinsip ini bersifat eternal (berlaku kapan saja) dan universal (di mana saja). Sedangkan yang kontekstual menurutnya adalah ayat-ayat yang pada masa turunnya berlekatan dengan kasus tertentu, dan pada saat tertentu konteknya bisa dihilangkan. Kedua, bahwa penafsiran ayat al-Qur’an sangat tergantung persepsi penafsirnya, pandangan dunianya, pengalaman dan latarbelakang sosial yang menyertainya. Jadi sangat mustahil dihasilkan suatu tafsir murni yang lepas dari ketergantungan di atas, karena setiap penafsir pasti tidak lepas dari pengaruh lingkungan sosial di mana dia tumbuh berkembang. Ketiga, makna ayat-ayat al-Qur’an itu senantiasa terbuka untuk setiap saat. Oleh karena itu penafsiran ulama klasik boleh jadi sangat berseberangan dengan penafsiran ulama modern. Yang demikian ini karena ayat-ayat al-Qur’an menggunakan simbol-simbol yang terbuka atau bahasa metafor yang maknanya bersifat ambigu. Sehingga keadaan ayat demikian mendorong fleksibilitas dan perubahan yang bersifat kreatif.
Begitulah kiranya metodologi yang digunakan oleh Asghar dalam merumuskan teologi pembebasannya, dan untuk lebih jelasnya berikut ini marilah kita perhatikan beberapa konsep kunci yang didefinisikan ulang oleh Asghar berdasarkan hasil pengamatannya terhadap kehidupan sosial ekonomi yang ada di masyarakat.

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Demikianlah penjelasan singkat mengenai teologi pembebasan yang digagas oleh Asghar. Jelas sekali terlihat bahwa Asghar dalam pemikirannya menginginkan terjadinya suatu transformasi ke arah kehidupan yang ideal di dalam masyarakat. Dengan semangat transformatif inilah Asghar mengerahkan segala kemampuannya untuk memilih ajaran-ajaran al-Qur’an yang “dilemahkan” oleh ulama tafsir sebelumnya untuk dikuatkan kembali, dan memilih ayat-ayat yang terkesan berbau metafisis untuk diturunkan ke bumi kembali, yaitu dengan dibalut dengan makna kontekstual berlandasrkan pada kehidupan real ekonomi-sosial-politik masyarakat, yang pada gilirannya menjadi senjata ideologis yang ampuh untuk menentang segala ketidakadilan yang berkembang di masyarakat. Memang pada akhirnya ayat al-Qur’an menjadi tereduksi berdasarkan kepentingan penafsirnya, akan tetapi dengan melihat asumsi umum yang dibangun oleh Asghar, yaitu sejarah nabi bersifat liberatif, maka reduksi tersebut akhirnya bisa dimaklumi. Apalagi kalau kita meneliti secara seksama, bahwasanya ayat-ayat al-Qur’an memang mengandung makna yang ambigu, sehingga penafsiran yang menyempal dari tafsiran-tasiran yang ada sebelumnya menjadi sah-sah saja. Wallahu a’lam.

DAFTAR PUSTAKA
Ali Engineer, Asghar, Hak-hak Perempuan dalam Islam, terj. Farid Wajidi dan Assegaf, Cici Farkha, Yogyakarta: LSPPA & CUSO, 1994.
Effendi, Djohan, Memikirkan Kembali Asumsi Pemikiran Kita, dalam kata pengatar bukunya Asghar Ali Engineer, Islam dan Pembebasan, alih bahasa Hairus Salim dan Imam Baehaqy, Cet. I, Yogyakarta: Lkis, 1993.
Nuryatno, M. Agus, Islam, Teologi Pembebasan dan Kesetaraan Gender, Cet.I, Yogyakarta: UII Press, 2001.
Delfgaauw, Bernard, Filsafat Abad 20, alih bahasa Soejono Soemargono, Cet. 1 (Yogyakarta: PT Tiara Wacana Yogya, 1988)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s