Tag Archives: filsafat adalah

Filsafat


1. * Pengertian filsafat Secara etimologis filsafat berasal dari bahasa Yunani philosophia (dari philein, mencintai, atau phlia, cinta, dan sophia, kearifan) yang melahirkan kata
bahasa Inggris “philosophy”, yang biasanya diartikan dengan “cinta kearifan”.
Secara terminologis menurut pendapat para ahli filsafat adalah:
1) Segala yang ada (plato)
2) Penjelasan yang rasional dari segala yang ada; penjajagan (upaya) terhadap realitas yang terakhir (James K. Feibleman)
3) Usaha untuk mendapatkan gambaran keseluruhan (Harlod H. Titus)
4) Sistem kebenaran tentang segala sesuatu yang dipersoalkan secara radikal, sistematik, dan universal (Sidi Gazalba)
5) Refleksi menyeluruh tentang segala sesuatu yang disusun secara sistematis, diuji kritis, demi hakikat kebenarannya yang terdalam serta demi makna kehidupan manusia ditengah-tengah alam semesta (Darmadji Supadjar).
Para filosof Islam berpendapat bahwa antara alam understanding (dzihni) dan alam external (khariji) memiliki hubungan yang erat. Gambaran yang dimiliki oleh ilmu lam understanding (zihn)- tidak sekedar gambaran yang tidak memiliki kenyataan. Apa saja dari gambaran yang ia tampung itu memiliki kenyataan (realitas).Akan tetapi, para filosof yang lainnya memiliki pendapat berbeda. Bagi mereka, hubungan antara alam understanding dan external bukanlah hubungan gambar dengan objeknya. Untuk memudahkan kita memahami pendapat ini ada satu pendekatan yang sangat mudah untuk kita cerna bersama. Ketika kita menggambar kuda di atas kanvas, apa yang ada di atas kanvas tersebut ingin memberikan pesan kepada kita bahwa gambar tersebut memiliki objek dan ia adalah kuda yang ada di alam realitas: bernafas, makan, minum, berjalan, dll.
Hukum islam adalah suatu istilah untuk menyebut hukum-hukum yang telah ditetapkan oleh Allah untuk para manusia melalui perantara rosul agar npara hamba melaksanakanya dengan dasar iman, baik yang mengatur amaliah lahiriah, ahklak, aqidah, maupun kepercayaan bathiniah, sementara itu kesempurnaan dari hukum itu sendiri tidak bias terlepas dari pada sumber-sumber hukum oleh karena itu struktur hukum dibangun atas 4 dasr yaitu al-quran, sunah, ijma’, dan qiyas secara essentialnya syariah adalah berdasakan atas wahyu Allah yang dipercaya kebenaranya serta mengarahkan manusia untuk mengembangkan kehidupan ideal didunia maupun diakhirat. Jadi filsafat hukum islam adalah berfikir secara mendalam untuk menemukan nilai-nilai hukum itu sendiri berdasakan atas wahyu Allah yang dipercaya kebenaranya serta mengarahkan manusia untuk mengembangkan kehidupan ideal didunia maupun diakhirat
Ulama fiqh membagi filsafat hukum islam menjadi 2 bagian :
– filsafat tasrik (sebagai sumber pembentukan hukum):
< sumber hukum islam (Al-Qur’an, sunnah, ijma’, qiyas)
< prinsip hukum islam
< Qaidah-Qaidah hukum islam
– filsafat syriah (sebagai materi hukum)

Azas filsafat hukum islam :
+ secara umum : – keadilan
– kepastian hukum
– kemanfaatan
+ azas hukum pidana : – legalitas
– larangan memindahkan kesalahan pada orang lain
– praduga tidak bersalah
+ azas hukum perdata : – mubah
– kemaslahatan hidup
– kebebasan dalam kesusilaan
– menolak mudhorot
– adil berimbang
* Filsafat hukum Barat adalah ilmu yang biasa mempelajari tentang hukum-hukum di Eropa dan daerah-daerah jajahan mereka. Filsafat ini berkembang dari tradisi falsafi orang Yunani kuno.
Tokoh utama filsafat Barat antara lain Plato, Thomas Aquinas, Réne Descartes, Immanuel Kant, Georg Hegel, Arthur Schopenhauer, Karl Heinrich Marx, Friedrich Nietzsche, dan Jean-Paul Sartre

Beberapa macam sistem hukum barat adalah sebagai berikut :
Sistem hukum Eropa Kontinental adalah suatu sistem hukum dengan ciri-ciri adanya berbagai ketentuan-ketentuan hukum dikodifikasi (dihimpun) secara sistematis yang akan ditafsirkan lebih lanjut oleh hakim dalam penerapannya. Hampir 60% dari populasi dunia tinggal di negara yang menganut sistem hukum ini.Sistem hukum Eropa Kontinental
Sistem hukum Eropa Kontinental adalah suatu sistem hukum dengan ciri-ciri adanya berbagai ketentuan-ketentuan hukum dikodifikasi (dihimpun) secara sistematis yang akan ditafsirkan lebih lanjut oleh hakim dalam penerapannya. Hampir 60% dari populasi dunia tinggal di negara yang menganut sistem hukum ini.

Sistem hukum Anglo-Saxon

Sistem Anglo-Saxon adalah suatu sistem hukum yang didasarkan pada yurisprudensi, yaitu keputusan-keputusan hakim terdahulu yang kemudian menjadi dasar putusan hakim-hakim selanjutnya. Sistem hukum ini diterapkan di Irlandia, Inggris, Australia, Selandia Baru, Afrika Selatan, Kanada (kecuali Provinsi Quebec) dan Amerika Serikat (walaupun negara bagian Louisiana mempergunakan sistem hukum ini bersamaan dengan sistim hukum Eropa Kontinental Napoleon). Selain negara-negara tersebut, beberapa negara lain juga menerapkan sistem hukum Anglo-Saxon campuran, misalnya Pakistan, India dan Nigeria yang menerapkan sebagian besar sistem hukum Anglo-Saxon, namun juga memberlakukan hukum adat dan hukum agama.

Sistem hukum anglo saxon, sebenarnya penerapannya lebih mudah terutama pada masyarakat pada negara-negara berkembang karena sesuai dengan perkembangan zaman.Pendapat para ahli dan prakitisi hukum lebih menonjol digunakan oleh hakim, dalam memutus perkara.

* filsafat pancasila
Pancasila terdiri atas lima sila merupakan satu kesatuan yang saling berkaitan, yang masing-masing sila dapat berdiri sendiri. Namun dalam hal ini, masing-masing bagian tidak saling bertentangan dan merupakan satu kesatuan. Kesatuan sila-sila dalam Pancasila menurut Notonagoro disebut sebagai suatu kesatuan yang “Majemuk Tunggal”
Pancasila secara filosofis menurut Notonagoro, bersubjek dan berobjek manusia. Dalam hal ini dapat diidentifikasi bahwa, Pancasila dibuat atau diciptakan oleh manusia Indonesia (founding fathers) tentunya, serta dibuat bertujuan untuk kepentingan manusia itu sendiri (pemerintah dan rakyatnya). Sehingga Pancasila sebagai sumber tertib hukum di Indonesia memuat hal pokok untuk mengatur kehidupan masyarakat Indonesia dalam berbangsa dan bernegara
a. Hubungan antara Pancasila dengan Pembukaan UUD 1945
Pancasila adalah dasar filsafat Negara (Philosofische Gronslag) yang juga disebut sebagai asas kerokhanian Negara, dari Negara mengandung konsekuensi bahwa dalam setiap aspek penyelenggaraan Negara harus sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, selain itu juga menjadi pandangan hidup dan filsafat hidup. Jadi hubungan Pancasila dan Pembukaan UUD 1945 adalah:
 Hubungan secara formal
1. Bahwa rumusan Pancasila sebagai Dasar Negara RI adalah seperti tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 alenia IV
2. Pembukaan UUD 1945 berintikan Pancasila
3. Pancasila sebagai inti Pembukaan UUD 1945 mempunyai kedudukan yang kuat tetap, dan tidak dapat diubah dan terlekat kepada kelangsungan hidup Negara Republik Indonesia
Dengan demikian Pancasila sebagai substansi esensial dari Pembukaan dan mendapatkan keduduakn formal yuridis dalam Pembukaan, sehingga baik rumusan maupun yurisdiksinya sebagai dasar negara adalah sebagaimana terdapat dalam Pembukaan UUD 1945
 Hubungan secara material
Proses perumusan Pancasila dan Pembukaan UUD 1945 secara kronologis, materi yang dibahas oleh BPUPKI yang pertama-tama adalah dasar filsafsat Pancasila baru kemudian Pembukaan UUD 1945. Jadi urutan tertib hukum Indonesia Pembukaan UUD 1945 adalah sebagai tertib hukum yang tertinggi, adapun tertib Indonesia bersumberkan pada Pancasila. Hal ini berarti secara material tertib hukum Indonesia dijabarkan dari nilai-nilai Pancasila. Hubungannya dengan hakikat dan kedudukan Pembukaan UUD 1945 sebagai Pokok Kaidah negara yang fundamental, maka secara material yang merupakan esensi atau inti sari dari Pokok Kaidah negara fundamental tersebut adalah Pancasila.
b. Hubungan Pancasila dengan Pasal-Pasal dalam UUD 1945
 Pancasila menjiwai Pasal-Pasal dalam UUD 1945, dan antara keduanya saling melengkapi dan berkaitan
 Pancasila berkedudukan sebagai sumber dari segala sumber hukum di Indonesia, yang pada hakikatnya perlu dikonkritisasikan dalam Pasal-Pasal dalam UUD 1945.
 Jika dirinci secara sistematis kedudukan Pancasila sebagai asas kerokhanian Negara dapat disusun secara bertingkat seluruh kehidupan Negara sebagai penjelmaan Pancasila, dan unsur-unsur ini terkandung di dalam Pasal-Pasal UUD 1945
 Pada hakikatnya Pancasila adalah sumber dari segala sumber hukum di Indonesia namun Pasal-Pasal UUD 1945 tetap dibutuhkan sebagai pelengakap sumber tertib hukum di Indonesia.
Persamaan dari ketiga macam filsafat tersebut adalah ketiga sama-sama memiliki aliran-aliran berfikir yang sama, filsafat perangkat metode-metode filsafatynag sama, sifat-sifat dasar filsafat, ciri-ciri berfikir kefilsafatan, objek filsafat yang sama.
Perbedaan nya adalah dari perumusan setiap hukum yang mereka anut contoh hukum islam munculnya berasal dari perumusan hukum dasar yang tidak diketemuka dalam al-qur’an dan hadis maka dicarikan dari pada qiyas apabila tidak terdapat didalam nya maka diadakan ijtihad dari para ulama. Filsafat pancasla dengan menggunakn sila-sila dari pancasila itu sendiri kemudian mengebangkan menjadi UUD45.
2. pengertian keadilan adalah kondisi kebenaran ideal secara moral mengenai sesuatu hal, baik menyangkut benda atau orang. Menurut sebagian besar teori, keadilan memiliki tingkat kepentingan yang besar. Al-Qur'an menggunakan pengertian yang berbeda-beda bagi kata atau istilah yang bersangkut-paut dengan keadilan. Bahkan kata yang digunakan untuk menampilkan sisi atau wawasan keadilan juga tidak selalu berasal dari akar kata 'adl. Kata-kata sinonim seperti qisth, hukm dan sebagainya digunakan oleh al-Qur'an dalam pengertian keadilan. Sedangkan kata 'adl dalam berbagai bentuk konjugatifnya bisa saja kehilangan kaitannya yang langsung dengan sisi keadilan itu (ta'dilu, dalam arti mempersekutukan Tuhan dan 'adl dalam arti tebusan). Secara keseluruhan, pengertian-pengertian di atas terkait langsung dengan sisi keadilan, yaitu sebagai penjabaran bentuk-bentuk keadilan dalam kehidupan. Al-Qur'an mendorong manusia memenuhi janji, tugas dan amanat yang dipikulnya, melindungi yang menderita, lemah dan kekurangan, merasakan solidaritas secara konkrit dengan sesama warga masyarakat, jujur dalam bersikap, dan seterusnya. Menurut Sofyan Djalil indikator keadilan adalah dihilangkannya diskriminasi penegakan hukum, pemberantasan KKN dan penghormatan terhadap hak asasi manusia.
A. IDEALISME
a. Pengertian Pokok.
Idealisme adalah suatu ajaran/faham atau aliran yang menganggap bahwa
realitas ini terdiri atas roh-roh (sukma) atau jiwa. ide-ide dan pikiran atau yang
sejenis dengan itu.
b. Perkembangan Idealisme.
Aliran ini merupakan aliran yang sangat penting dalam perkembangan
sejarah pikiran manusia. Mula-mula dalam filsafat Barat kita temui dalam bentuk
ajaran yang murni dari Plato. yang menyatakan bahwa alam, cita-cita itu adalah yang merupakan kenyataan sebenarnya. Adapun alam nyata yang menempati ruang ini hanyalah berupa bayangan saja dari alam idea itu.
Aristoteles memberikan sifat kerohanian dengan ajarannya yang menggambarkan alam ide sebagai sesuatu tenaga (entelechie) yang berada dalam benda-benda dan menjalankan pengaruhnya dari benda itu. Sebenarnya dapat dikatakan sepanjang masa tidak pernah faham idealisme hilang sarna sekali. Dimasa abad pertengahan malahan satu-satunya pendapat yang disepakati oleh semua ahli pikir adalah dasar idealisme ini.
Pada jaman Aufklarung ulama-ulama filsafat yang mengakui aliran serba dua seperti Descartes dan Spinoza yang mengenal dua pokok yang bersifat kerohanian dan kebendaan maupun keduanya mengakui bahwa unsur kerohanian lebih pentingdaripada kebendaan. Selain itu, segenap kaum agama sekaligus dapat digolongkan kepada penganut Idealisme yang paling setia sepanjang masa, walaupun mereka tidak memiliki dalil-dalil filsafat yang mendalam. Puncak jaman Idealiasme pada masa abad ke-18 dan 19 ketika periode Idealisme. Jerman sedang besar sekali pengaruhnya di Eropah.
C. Tokoh-tokohnya.
1. Plato (477 -347 Sb.M)
2. B. Spinoza (1632 -1677)
3. Liebniz (1685 -1753)
4. Berkeley (1685 -1753)
5. Immanuel Kant (1724 -1881)
6. J. Fichte (1762 -1814)
7. F. Schelling (1755 -1854)
8. G. Hegel (1770 -1831)

B. MATERIALISME

a. Pengertian Pokok.
Materialisme merupakan faham atau aliran yang menganggap bahwa dunia ini tidak ada selain materi atau nature (alam) dan dunia fisik adalah satu
b. Perkembangan Materialisme.
Pada abad pertama masehi faham Materialisme tidak mendapat tanggapan
yang serius, bahkan pada abad pertengahan, orang menganggap asing terhadap faham Materialisme ini. Baru pada jaman Aufklarung (pencerahan), Materialisme mendapat tanggapan dan penganut yang penting di Eropah Barat.
Pada abad ke-19 pertengahan, aliran Materialisme tumbuh subur di Barat. Faktor yang menyebabkannya adalah bahwa orang merasa dengan faham Materialisme mempunyai harapan-harapan yang besar atas hasil-hasil ilmu pengetahuan alam. Selain itu, faham Materialisme ini praktis tidak memerlukan dalildalil yang muluk-muluk dan abstrak, juga teorinya jelas berpegang pada kenyataankenyataan yang jelas dan mudah dimengerti.
Kemajuan aliran ini mendapat tantangan yang keras dan hebat dari kaum agama dimana-mana. Hal ini disebabkan bahwa faham Materialisme ini pada abad ke-19 tidak mengakui adanya Tuhan (atheis) yang sudah diyakini mengatur budi masyarakat. Pada masa ini, kritikpun muncul di kalangan ulama-ulama barat yang menentang Materialisme. Adapun kritik yang dilontarkan adalah sebagai berikut :
1. Materialisme menyatakan bahwa alam wujud ini terjadi dengan sendirinya dari
khaos (kacau balau). Padahal kata Hegel. kacau balau yang mengatur bukan lagi
kacau balau namanya.
2. Materialisme menerangkan bahwa segala peristiwa diatur oleh hukum alam. padahal pada hakekatnya hukum alam ini adalah perbuatan rohani juga.
3. Materialisme mendasarkan segala kejadian dunia dan kehidupan pada asal benda itu sendiri. padahal dalil itu menunjukkan adanya sumber dari luar alam itu sendiri yaitu Tuhan.
4. Materialisme tidak sanggup menerangkan suatu kejadian rohani yang paling mendasar sekalipun.
c. Tokoh-tokohnya.
1. Anaximenes ( 585 -528)
2. Anaximandros ( 610 -545 SM)
3. Thales ( 625 -545 SM)
4. Demokritos (kl.460 -545 SM)
5. Thomas Hobbes ( 1588 -1679)
6. Lamettrie (1709 -1715)
7. Feuerbach (1804 -1877)
8. H. Spencer (1820 -1903)
9. Karl Marx (1818 -1883)

C. Pluralitas
Pluralitas adalah sebuah keniscayaan dalam kehidupan ini. Allah menciptakan alam ini di atas sunah pluralitas dalam sebuah kerangka kesatuan. Isu pluralitas adalah setua usia manusia dan selamanya akan ada selama kehidupan belum berakhir, hanya saja bisa terus menerus berubah, sesuai perkembangan zaman.
Pluralitas pada hakikatnya merupakan realitas kehidupan itu sendiri, yang tidak bisa dihindari dan ditolak. Karena pluralitas merupakan sunatullah, maka eksistensi atau keberadaanya harus diakui oleh setiap manusia. Namun pengakuan ini dalam tataran realitas belum sepenuhnya seiring dengan pengakuan secara teoritik dan kendala-kendala masih sering dijumpai dilapangan.

Referensi:
.Beering, RF. 1966. Filsafat Dewasa ini. Jakarta. Penerbit Balai Pustaka.
Bertans, 1989. Sejarah Filsafat Yunani. Yogyakarta. Kanisius
Kattsoff, Louis O. 1989. Pengantar Filsafat. Yogyakarta. Penerbit Bayu Indera
Russell.bertrand. Sejarah Filsafat Barat. Yogyakarta. Pustaka Pelajar
Roth.John K. Persoalan-Persoalan Filsafat Agama. Yogyakarta.Pustaka Pelajar.
*Abdurrahman Wahid ,"Pengertian Keadilan " dalam media.isnet.org/islam/Paramadina/Konteks…

*"Penegakan Hukum " dalam Solusihukum.com

*Yura Syahrul "…Indikator Keadilan.."dalam http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional.
100% 1 Vote