TANAH WAKAF (Studi di Desa Banjarejo Kecamatan Pagelaran Kabupaten Malang)


Latar Belakang
Wakaf adalah salah satu sarana untuk membangun ekonomi masyarakat, apalagi di Indonesia, wakaf sangat dibutuhkan untuk membantu saudara-saudara kita yang berada digaris kemiskinan
Dalam penelitian ini yang terkait dengan perwakafan maka sesuai dengan aturan yang diberikan oleh dosen pembimbing perwakafan, maka saya harus mencari atau meneliti terkait dengan harta atau tanah yang diwakafkan.
Di desa Banjarejo saya menemukan sebuah lembaga pendidikan yakni berupa Yayasan Pendidikan Islam (YPI), yang mana YPI ini merupakan tanah wakaf. Olehkarena itu seperti yang sudah dipaparkan diatas bahwasannya untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah perwakafan maka saya meneliti tanah wakaf tersebut dan terkait dengan latar belakang mengapa tanah tersebut diwakafkan dan bagaimana kronologi sehingga tanah wakaf tersebut diperuntukan untuk yayasan.
Pad tahun 1943 orang yang bernama H. Muhtar dan H. Nahrawi selaku wakif dan sebagai nadzirnya pada waktu itu ada dua orang yaitu Mochammad Zabur Arifin dan Sumiri. Dalam akadnya wakif mewakafkan berupa tanah seluas 8.615 m persegi. Mereka sepakat bahwasannya tanah wakaf tersebut diperuntukkan untuk lembaga pendidikan, yang mana pada waktu itu belum ada sebuah lembaga pendidikan dalam memenuhi fasilitas generasi yang lebih baik dari pada mereka.
Dalam perjalanannya sampai sekarang tanah wakaf tersebut masih eksis dan tidak ada problem sama sekali, baik itu problem dari keluarga wakif maupun dari penduduk masyarakat setempat. Bahkan lembaga pendidikan tersebutyakni yang berupa YPI mengalami kemajuan yang sangat pesat.

A. Pengertian Wakaf
Wakaf adalah salah satu konsep pemberian harta yang terdapat di dalam Islam. Konsep ini juga adalah berlandaskan konsep sedekah.
Apabila seseorang telah mewakafkan hartanya maka dia tidak mempunyai apa-apa hak atau hubungan ke atas harta tersebut. Sebagai contoh jika harta yang diwakafkan adalah sebidang tanah maka tuanpunya tanah tidak boleh menjual, mencagar atau memindah milik tanah tersebut.
Ada dua kategori wakaf, yaitu wakaf am dan wakaf khas.
a. Wakaf am adalah wakaf yang dilakukan untuk tujuan kebajikan tanpa menentukan mana-mana penerima dengan cara khusus. Sebagai contohnya, seseorang itu mewakafkan tanahnya di atas tujuan kebajikan dan tidak menentukan kepada siapa hasil tanah itu patut diberi. Maka terpulang kepada penerima wakaf untuk menentukan siapa dan bagaimana kegunaan/hasil tanah tersebut diberi, di atas tujuan kebajikan.
b. Wakaf khas adalah di mana terdapat tujuan khusus dan penerima-penerima yang tertentu bagi hasil wakaf tersebut. Pemberi wakaf akan menetapkan siapa penerima wakaf dan bagaimana kegunaan wakaf tersebut perlu diagihkan.
Wakaf khas termasuklah wakaf yang boleh diberikan kepada keluarga. Biasanya bagi wakaf keluarga, pemberi wakaf akan mensyaratkan peratusan tertentu bagi ahli keluarga yang tertentu. Pemberi wakaf juga boleh membahagikan harta secara kombinasi iaitu wakaf am dan wakaf khas. Sebagai contoh pemberi wakaf boleh memberi peratusan yang tetap dari hasil tanah kepada ahli keluarganya (wakaf khas) dan selebihnya di beri kepada kebajikan.
Para ulama’ berbeda pendapat mengenai arti wakaf secara istilah, hal ini sesuai dengan perbedaan Madzhab yang telah dianut. Adapun pendapat masing-masing madzhab adalah:
1. Madzhab Syafi’I mengatakn bahwa wakaf adalah berarti menahan suatu benda yang dapat dimanfaatkan beserta tetapnya benda tersebut dengan memutus hak pengelolaan baik benda maupun manfaatnya, dan harta tersebut hanya semata-mata untuk kebaikan serta mendekatkan diri kepada Allah.
2. Madzhab Maliki mendefinisikan wakaf adalah membrikan manfaat sesuatu pada batas waktu keberadaannya, bersamaan tetapnya wakaf dalam kepemilikan si pemiliknya meski hanya perkiraan (pengandaian).
3. Madzhab Hanafi mewakafkan asset tertentu dengan menetapkan kepemilikan pada siwakif dan mendistribusikan manfaat untuk kepentingan social
4. Madzhab Hanbali wakaf adalah menahan suatu benda yang dapat dimanfaatkan, sementara pokoknya tidak hilang karena diambil kegunaan dan manfaatnya sepanjang penggunaan itu diperbolehkan oleh hukum. Atau menahan suatu benda yang biasa dimanfaatkan beserta tetapnya benda tersebut dengan memutus hak pengelolaan baik benda mauoun manfaatnya. Dan harta tersebut semata-mata untuk kebaikan erta mendekatkan diri kepada Allah.
Dalam undang-undang republic Indonesia Nomor 41 tahun 2004 dijelaskan bahwa wakaf adalah perbuatan hukum wakaf untuk memisahkan / atau menyerhkan sebagaian harta benda miliknya untuk dimanfaatkan selamanya atau untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan kepentingannya guna keperluan ibadah dan / atau kesejahteraan umum menurut Syari’ah.
Sedangkan dalam KHI dijelaskan bahwa wakaf adalah perbuatan hukum seseorang atau kelompok orang atau badan hukum yang memisahkan sebagain dari benda miliknya dan melembagakannya untuk selama-lamanya guna kepentingan ibadat atau keperluan umum lainnya sesuai dengan ajaran Islam.
Definisi wakaf menurut PP Nomor 28 tahun 1977 pasal 1 ayat 1 yaitu wakaf adalah perbuatan hukum seseorang atau badan hukum yang memisahkan sebagian dari harta kekayaan yang berupa tanah milik dan melambangkannya untuk selama-lamanya untuk kepentingan peribadatan atau keperluan umum lainnya sesuai dengan ajaran Agama Islam.

B. Dasar Hukum Wakaf
Telah dapat diketahui beberapa ayat dalam al-Qur’an dan Hadits Nabi Muhammad SAW mengenai wakaf.
a. Al-Qur’an
Surat al-Hajj ayat 77
            
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.
Surat an-Nahl ayat 97
         •    •      
Artinya: Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.
Surat Ali Ilmron ayat 92
            •    
Artinya: Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. dan apa saja yang kamu nafkahkan Maka Sesungguhnya Allah mengetahuinya.
Surat al-Baqarah ayat 267
                           •    
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, Padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.
b. Hadits
Sunnah Rasulullah SAW dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah bersabda “apabila anak adam meninggal dunia maka putuslah amalannya kecuali tiga perkara yakni shadaqah jariyah yang mengalir terus menerus, ilmu yang bermanfaat dan anak shaleh yang mendo’akan orang tuanya”.
Hadits Nabi yang lebih tegas mengembarkan dianjurkannya ibadah wakaf yaitu perintah Nabi kepada Umar ra untuk mewakafkan tanahnya yang ada diKhoibar, dari Umar berkata bahwa sahabat Umar ra memperoleh sebidang tanah di Khaibar, kemudian menghadap kepada Rasulullah untuk memohon petunjuk. Umar berkata, “ya Rasulullah saya mendapatkan sebidang tanah di Khaibar, saya belum pernah mendapatkan harta sebaik itu maka apakah yang engkau perintahkan kepadaku? Rasulullah menjawab, ”bila kamu suka kamu tahu tanah itu dan kamu sedekahkan hasilnya”. Kemudian Umar melakukan Shadaqah, tidak dijual, tidak di wariskan, dan tidak di hibahkan. Berkata Ibnu Umar, Umar menyedekahkannya kepada orang-orang kafir, kaum kerabat, budak belian, sabilillah, ibnu sabil, dan tamu. Dan tidak mengapa atau tidak dilarang bagi yang menguasai tanah wakaf itu (pengurusannya) makan dari hasilnya dengan cara baik (sepantasnya) atau makan dengan tidak bermaksud menumpuk harta”.
C. Rukun dan Syarat-syarat Wakaf
Dalam undang-undang republic Indonesia nomor 41 tahun 2004, disebutkan dalam enam unsur wakaf yakni:
1. Wakif, ialah pihak yang mewakafkan harta benda miliknya disini haruslah orang dewasa, berakal sehat beragama Islam. Wakif bisa dilakukan secara perorangan dan bisa pula secara kolektif, disamping boleh dilakukan oleh organisasi maupun badan hukum.
2. Nadzir ialah pihak yang menerima harta benda wakaf dari wakif untuk dikelolah dan dikembangkan sesuai dengan peruntukannya. Dan yang menjadi nadzir adalah orang dewasa, berakal sehat, dan beragama Islam. Karena nadzir adalah pemegang harta wakaf yang pada dasarnya harus dikelolah secara baik demi kepentingan umat dan masyarakat banyak, maka seorang atau beberapa orang nadzir haruslah pula yang jujur atau amanah (dapat dipercaya).
3. Mauquf Alaih (harta benda wakaf), ialah harta benda yang diwakafkan oleh si wakif kepda nadzir, dalam kaitan ini adalah harta benda yang selain bermanfaat juga memilliki daya tahan yang lama dan manfaat jangka panjang serta mempunyai nilai ekonomi menurut syari’ah.
4. Ikrar wakaf ialah pernyataan kehendak wakif yang di ucapkan secara lisan atau tulusan kepada nadzir untuk mewakafkan harta benda milliknya.
5. Peruntukan benda wakaf iyalah peruntukan dari pemanfaatan atau penggunaan harta wakaf sesuai dengan kehendak si wakif dan pada dasarnya harus di indahkan oleh nadzir, misalnya harta benda wakaf itu peruntukannya adalah untuk mushalla, masjid, madrasah, rumah sakit, dan lain-lainnya sebagaimana kehendak wakif ketika melakukan ikrar wakaf.
6. Jangka waktu wakaf ialah bahwa harta benda wakaf yang diserahkan itu dimaksudkan untuk jangka waktu yang panjang atau bahkan untuk selama-lamanya bukan untuk waktu sesaat.

D. Macam-macam wakaf
Ada berbagai macam wakaf yang dikenal dalam Islam, menurut Ahmad Azhar Basyir wakaf terbagi menjadi wakaf ahli (keluarga atau kuhusus) dan wakaf umum (khairi).
a. Wakaf ahli (keluarga atau khusus)
Wakaf ini merupakan wakaf yang ditunjukkan kepada orang-orang tertentu seseorang atau lebih, baik keluarga wakif atau bukan. Misalnya mewakafkan buku untuk anak-anaknya yang mampu mempergunakan, kemudian diteruskan kepada cucu-cucunya.
b. Wakaf umum (khairi)
Wakaf ini merupakan wakaf yang sejak semula ditujukan untuk kepentingan umum, tidak dikhususkan untuk orang-orang tertentu.

E. Tugas dan Tanggung Jawab Lembaga Pengelola Wakaf
Institusi atau lembaga pengelola wakaf pengertiannya berkaitan langsung dan tidak dipisahkan dari upaya-upaya produktif dari aset wakaf. Inti ajaran yang terkandung dalam amalan wakaf itu sendiri menghendaki agar harta wakaf itu tidak boleh hanya dipendam tanpa hasil yang akan dinikmati oleh mawquf ‘alaih. Semakin banyak hasil harta wakaf yang dapat dinikmati orang, akan semakin besar pula pahala yang akan mengalir kepada pihak wakif. Berdasarkan hal tersebut, dari sisi hukum fikih, pengembangan harta wakaf secaraproduktif merupakan kewajiban yang harus dilakukan oleh pengelolanya (nadzir).
Dalam kitab Mughnil Muhtaj, oleh Syams al-Dien Muhammad bin Ahmad al-Syarbaini dijelaskan tugas nadzir sebagai berikut: “kewajiban dan tugas nadzir wakaf adalah: membangun, mempersewakan, mengembangkannya agar berhasil dan mendistribusikan hasilnya itu kepada pihak-pihak yang berhak, serta kewajiban memelihara modal wakaf dan hasilnya.”
Dalam kitab Syarh Muntaha al-Adaab oleh Manshur bin Yunus al-Bahuty (hal. 504-505) dijelaskan: “tugas nadzir wakaf adalah memelihara harta wakaf, membangunnya, mempersewakannya, menanami lahannya dan mengembangkannya agar mengeluarkan hasil yang maksimal seperti hasil sewa, hasil pertanian dan hasil perkebunan.”
Dr. Idris Khalifah, Ketua Forum Ilmiyah di Tethwan Magribi, dalam hasil penelitiannya yang berjudul ‘Istitsmar Mawarid al-Awqaf’ membeberkan sepuluh tugas nadzir wakaf sebagai berikut:
a. Memelihara harta wakaf
b. Mengembangkan wakaf, dan tidak membiarkan terlantar sehingga tidak mendatangkanmanfaat.
c. Melaksanakan syarat dari wakif yang tidak menyalahi hukum syara’.
d. Membagi hasilnya kepada pihak-pihak yang berhak menerimanya tepat waktu.
e. Membayarkan kewajiban yang timbul dari pengelolaan wakaf dari hasil wakaf itusendiri.
f. Memperbaiki aset wakaf yang rusak sehingga kembali bermanfaat.
g. Mempersewakan harta-harta wakaf tidak bergerak, seperti bangunan dan tanah, dengan sewa pasaran.
h. Menginvestasikan harta wakaf untuk tambahan penghasilannya.
i. Nadzir bertanggungjawab atas kerusakan harta wakaf yang disebabkan kelalaiannya dan dengan itu ia boleh diberhentikan dari jabatannya itu.

F. Manajemen Kontemporer Dana Wakaf Produktif
Terdapat dua macam praktek wakaf yaitu Wakaf Mutlaq dan Wakaf Muqayyad. Wakaf mutlaq adalah praktek wakaf di mana wakif menyerahkan sepenuhnya kepada si wakif untuk mengelolanya tanpa batas. Adapun wakaf muqayyad adalah wakaf di mana wakif mensyaratkan agar harta yang diwakafkan itu hanya boleh dikelola dengan cara tertentu dan diberikan kepada pihak tertentu. Dalam praktek wakaf mutlaq, nadzir lebih leluasa melakukan upaya-upaya produktif sehingga harta wakaf bisa berhasil lebih maksimal. Secara historis, cara yang banyak ditempuh, sesuai dengan informasi dalam buku-buku fikih, adalah dengan jalan mempersewakan harta wakaf. Hal ini sejalan dengan kenyataannya bahwa kebanyakan harta wakaf adalah dalam bentuk al-‘iqar (harta tak bergerak, seperti lahan pertanian dan bangunan).
Ada beberapa bentuk penyewaan yang terdapat dalam konsep fikih:
a. Sewa biasa (ijarah). Dengan pertimbangan kemaslahatan harta wakaf, para ulama mazhab yang empat sepakat membolehkan mempersewakan harta wakaf, meskipun mereka berbeda dalam beberapa hal.
b. Akad sewa menyewa ganda (‘aqd al-ijaratain). Akad sewa ganda ini dilakukan untuk mengatasi kekurangan modal untuk membangun bangunan di atas sebidang tanah wakaf. Untuk memperoleh modal, diadakan kontrak sewa dengan seorang penyewa untuk jangka waktu lama, dengan dua tingkat sewa menyewa. Sewa pertama dibayar lebih dulu sejumlah yang memungkinkan untuk membangun bangunan dimaksud. Sedangkan sewa kedua merupakan sewa bulanan dengan harga yang lebih murah yang harus dibayar selama menghuni rumah. Sewa kedua ini masih diperlukan untuk menghindarkan kemungkinan ada klaim dari penyewa bahwa rumah itu telah dibelinya.
c. Al-Hikru, yaitu sebuah akad sewa menyewa tanah wakaf untuk masa waktu yang lama, serta memberi hak kepada penyewa untuk mendiami tanah itu, untuk membangun atau bercocok tanam di atas lahan pertanian dan memberinya hak untuk memperpanjang masa sewa setelah kontrak pertama habis, selama ia masih mampu membayar sewa pasaran.
d. Al-Marshid, yaitu sebuah kesepakatan dengan calon penyewa yang bersedia meminjami nadzir sejumlah dana untuk memperbaiki bangunan wakaf sebagai hutang yang kemudian akan dibayar dengan sewa harta wakaf itu sendiri.
e. Pengembangan hasil sewa wakaf dengan membelikannya kepada benda yang bisa menghasilkan, misalnya dengan memodali pembangunan gedung yang kemudian dapat disewakan lagi.
f. Dengan melakukan kerja sama dalam pengelolaan lahan pertanian wakaf di samping dengan mempersewakannya kepada pihak yang punya modal, juga mungkin dengan kerjasama muzara’ah.

G. Hasil Survey
a. Nama wakif
H. Muhtar dan H. Nahrawi
b. Nadzir
Mochammad Zabur Arifin dan Sumiri
c. Alamat asset & kantor pengelola wakaf
Jl. KH. Hasbullah (0341) 878097 Banjarejo Pagelaran Malang
d. Bentuk wakaf (individual / kolektif)
Kolektif
e. Bentuk asset wakaf
Tanah
f. Kuantitas asset wakaf (luas, banyak, rupiah, dll)
Luas 8.615 m
g. Peruntukan wakaf
Yayasan Pendidikan
h. Status wakaf (sertifikat / belum)
Sertifikat berbentuk salinan Akte
i. Perubahan asset / peruntukkan wakaf (jika ada)
Tanah menjadi madrasah
j. Problem solving atas kasus yang mungkin muncul (jika ada)
Dana
k. Faktor penunjang & penghambat dalam mengelola asset wakaf.
Tanah Pertanian, Drum Band, dan Rental Internet

H. Analisis
Almarhum H. Muhtar dan H. Nahrawi merupakan orang yang mewakafkan tanahnya seluas 8.615 m, kepada Mochammad Zabur Arifin dan Sumiri diperuntukkan membangun yayasan pendidikan. Sebagain besar dari tanah itu merupakan milik H. Muhtar yang sampai saat ini menjadi tembok-tembok besar yang dijadikan naungan atau tempat untuk menimbah ilmu oleh masyarakat menengah kebawa, disamping tanah seluas 8.615 m itu H. Nahrawi juga mewakafkan tanahnya ditempat yang berbeda untuk pertanian, sedangkan hasil dari pertanian tersebut yang kira-kira menghasilkan uang 2-3jt setiap 5bln merupakan salah satu sumber dana untuk pembangunan yayasan pendidikan hingga saat ini, yang merupakan tujuan awal mewakafkan tanah itu.
Pada tahun 1943 merupakan awal berdirinya YPI MAMBAUL ULUM yang pada saat itu diberi nama “TARBIYATUS SIBYAN”, beberapa tahun kemudian Mochammad Zabur Arifin dan Sumiri melihat bahwa masyarakat sangat antusias dengan berdirinya “TARBIYATUS SIBYAN” tidak sekedar itu masayrakat juga memerlukan pendidikan yang lebih tinggi agar anak-anaknya menjadi orang yang berguna bagi masyarakat, dari respon masyarakat yang seperti itu maka para pengurus wakaf merundingkan hal itu, sehingga pada tahun, 1970 berdirilah sebuah pendidikan yang lebih tinggi yaitu Madrasah Tsanawiyah, pada tahun itu pula “TARBIYATUS SIBYAN” berganti nama MAMBAUL ULUM.
Tahun 1981 MAMBAUL ULUM semakin berkembang dengan mendirikannya perguruan yang lebih tinggi menurut masyarakat waktu itu. Tanah yang seluas 8.615 m sekarang menjadi tempat pendidikan seperti MI,MTS,MA. Dengan rincian tanah bangunan yaitu:
Bangunan : 2.440 m
Halaman : 1.500 m
Lap Olahraga : 600 m
Kebun : -
Lain-lain : 4.75 m
H. Shonhaji Fadli selaku pengurus Yayasan Pendidikan Islam Mambaul Ulum (YPI MU) periode sekarang mengungkapkan bahwa perjuangan atau pembangunan madrasah tidak hanya sampai MA akan tetapi beliau menginginkan sampai perguruan tinggi.
Adapun problem yang menghinggap adalah masalah dana, sebelum pembanagunan “TARBIYATUS SIBYAN” para pengurus kesulitan untuk mencari dana pembangunan madrasah, setelah tidak menemukan jalan keluar maka penguruspun rela merogoh koceknya demi terealisasikannya keinginan pewakaf, problem itu tidak berjalan lama karna tanah H. Nahrawi yang menjadi ladang pertanian selalu menghasilkan keuntungan yang cukup untuk mendanai pembangun madrasa hingga saat ini. Dana yang merupakan problem awal sekarang sudah tidak ada lagi seiring terbentuknya DRUM BAND yang setiap tampil menghasilkan uang 8rts pada waktu itu. Sekarang sumber dana tidak hanya dari tanah pertanian akan tetapi juga dari DRUM BAND dan RENTAL INTERNET yang baru dibuka.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s